Manfaatkan Limbah Kulit Durian Jadi Penjernih Air

Manfaatkan Limbah Kulit Durian Jadi Penjernih Air

  Senin, 21 November 2016 09:30
TIM PENELITI: Ketua Tim PkM Untan jurusan Kimia FMIPA, Titin Anita Zaharah MSc dan Dr Anis Shofiyani diabadikan bersama para anggota tim

Berita Terkait

Untan Jadikan Desa Punggur Kecil Pusat PkM

Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) jurusan Kimia FMIPA Universitas Tanjungpura (Untan) yang dimotori Titin Anita Zaharah MSc dan Dr Anis Shofiyani, belum lama ini  mengenalkan teknologi terbarukan kepada masyarakat Desa Punggur Kecil, Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya.

KEDUA dosen Falkutas Matematika Ilmu Pengetahuan Alam ini sukses menjadikan bahan baku arang aktif untuk selanjutnya diaplikasikan sebagai bahan pengganti penjernih air yang alami dan ekonomis. Ketua Tim PkM Untan Falkutas MIPA, Titin Anita Zaharah didampingi Dr Anis  Shofiyani mengungkapkan, kegiatan ini dilatarbelakangi permasalahan limbah kulit durian yang selalu menumpuk setiap masa panen raya tiba.

“Di sisi lain saya juga melihat ketersediaan air bersih sampai saat ini belum terjangkau dan tertangani secara efektif  di desa ini. Hal ini yang memberikan pengaruh negatif bagi kehidupan sosial penduduk Desa Punggur Kecil,” terang Titin.

Ia juga mengungkapkan, dampak dari permasalahan air tersebut menyebabkan tingkat sanitasi masyarakat yang sangat rendah. Dimana masyarakat menggunakan air keruh  untuk memenuhi kehidupan rumah tangga. Tidak hanya itu, pengelolaan limbah kulit durian yang melimpah secara musiman juga berpotensi menjadi sarang penyakit.

Titin juga menuturkan, untuk menjadikan kulit limbah durian ini menjadi bahan penjernih air, maka perlu dilakukan persiapan dan tahapan. Dia menjelaskan, tahapan pertama yakni, pembuatan arang/karbon aktif serta proses pengolahan sumber air baku warga (air sungai) menjadi air bersih.

Menurut dia, proses pembuatan arang aktif  dilakukan dalam tanur yang terbuat dari drum bekas, prosesnya melalui dua tahap, yakni pengarangan dan aktivasi. Pada tahap pengarangan terjadi proses dehidrasi (penghilangan air) dan karbonisasi (penguraian selulosa, hemiselulosa dan material organik lainnya menjadi karbon dan menguapkan senyawa-senyawa non-karbon yang volatil).

Sementara itu, kata Titin, tahap aktivasi terjadi proses penyusunan pori-pori karbon serta penghilangan pengotor yang menutupi permukaan sehingga porositasnya meningkat. Lebih lanjut dia mengungkapkan, pada drum reaktor tutup bagian atas dilubangi untuk memasukkan kulit durian yang telah dipotong-potong dan bagian tengah dalam diberikan semacam jalur tabung berlubang untuk memudahkan sirkulasi oksigen dalam proses pembakaran.

Sebagian dinding drum juga diberikan lubang yang sama, setelah sepertiga bagian drum terisi kulit durian, diberikan pemancing api sehingga terjadi proses pembakaran yang baik, kemudian baru drum dipenuhkan dengan kulit durian yang lain. Proses pembakaran dilanjutkan sehingga membara.

Ia juga menyampaikan, ketika telah terbentuk bara, lubang  udara pada tabung ditutup rapat dan dibiarkan sekitar 4-6 jam untuk menyempurnakan proses pengarangan. Setelah mendingin, arang dikeluarkan, dicuci dengan air dan dikeringkan di bawah sinar matahari.

Ia menambahkan, hasil dari kegiatan PkM ini seterusnya didemonstrasikan secara langsung kepada masyarakat sehingga memberikan dampak positif, karena sebagian besar masyarakat belum pernah mendapatkan sosialisasi tentang kegiatan serupa. Ia berharap, melalui penemuan teknologi terbarukan ini dapat bermanfaat dan membantu masyarakat serta mampu diterapkan secara mandiri.(/r)

Berita Terkait