Malaysia Deportasi 92 Buruh Migran

Malaysia Deportasi 92 Buruh Migran

  Jumat, 29 June 2018 10:00
DIPULANGKAN: Puluhan buruh migran Indonesia dideportasi oleh otoritas Malaysia melalui PLBN Entikong, kemarin. Sebagian besar buruh tersebut berasal dari luar Kalbar. AGUS ALFIAN FOR PONTIANAKPOST

Berita Terkait

ENTIKONG - Otoritas Malaysia kembali memulangkan pekerja migran Indonesia yang bermasalah. Sebanyak 88 orang dipulangkan dari Depot Imigresen Semunja (Serian) dan ada empat repatriasi dari KJRI Kuching. 

Total 92 pekerja yang dideportasi itu dipulangkan ke daerah asalnya masing-masing bekerja sama dengan Dinas Sosial Kalbar.

“Buruh migran yang dipulangkan ini adalah tahanan sebelum bulan puasa lalu. Mereka terjaring pada saat pemerintah Malaysia memberlakukan larangan keluar rumah saat jelang pemilihan raya di negaranya,” ungkap staf Konsuler KJRI Kuching, Dede Suchendar, Kamis (28/6).

Menurutnya, pemerintah Malaysia sejak dua tahun terakhir gencar melakukan penertiban atas Pekerja Asing Tanpa Izin (PATI) di negaranya. Tidak hanya yang berasal dari Indonesia tetapi juga dari Bangladesh, Vietnam, Filipina dan Myanmar.

Dede menyebutkan setiap melakukan pendampingan kepada pekerja migran bermasalah di depot tahanan Imigresen, baik di Bekenu maupun di Semunja, kerap ditemukan pekerja yang tanpa dokumen. 

Hal ini sangat memprihatinkan mengingat Malaysia memberikan sanksi berat bagi orang asing yang masuk dan bekerja di negaranya tanpa izin atau tanpa dokumen. Pelanggar dapat dihukum sebat (cambuk).

Sementara itu, Kordinator Pos Pelayanan Penempatan dan Perlindungan TKI (P4TKI) Entikong, Viktor Fernando mengatakan sebelum dipulangkan ke daerahnya masing-masing, para pekerja  migran tersebut diberikan penyuluhan agar mengikuti prosedur yang benar jika ingin bekerja keluar negeri.

“Total WNI yang dideportasi dari Sarawak selama Januari hingga Juni ada 1.154 orang. Sebagian besar dari luar Kalbar, yakni NTT, NTB, Jateng dan Jabar selebihnya dari Kalbar terutama dari kantong-kantong penyedia pekerja migran, seperti Singkawang dan Sambas.” pungkasnya.(ags)

Berita Terkait