Malas Menulis, Tunjangan Guru Besar Dipotong

Malas Menulis, Tunjangan Guru Besar Dipotong

  Senin, 2 November 2015 09:47
Gambar dari Internet

Berita Terkait

JAKARTA – Dosen yang sudah dikukuhkan sebagai guru besar (gubes) kini tidak bisa santai-santai. Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) mendorong para gubes untuk tetap rajin memublikasikan karya ilmiah secara internasional. Jika tidak, tunjangan kehormatan gubes siap-siap dipotong pemerintah.Dirjen Sumber Daya Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Kemenristekdikti Ali Ghufron Mukti mengatakan, pihaknya sudah menerbitkan surat edaran yang terkait dengan produktivitas para gubes. ”Khususnya produktivitas untuk membuat karya tulis ilmiah yang dipublikasikan di jurnal-jurnal,” kata Ali kemarin (1/11).

Kemenristekdikti juga telah meminta para rektor untuk memantau kinerja gubes di kampus masing-masing. Dia tidak ingin, setelah mereka meraih gelar gubes, justru kinerja membuat publikasi ilmiah semakin turun. Guru besar UGM itu menegaskan, menulis untuk publikasi ilmiah tidak hanya dilakukan untuk mendapatkan gelar guru besar.Supaya imbauan untuk menjaga kinerja dan produktivitas menulis itu berjalan efektif, Ali mengatakan bahwa pemerintah mengancam bakal memotong tunjangan kehormatan yang diterima gubes. Dia menjelaskan, rata-rata tunjangan gubes satu kali gaji pokok. ”Take-home pay guru besar bisa sampai Rp 12 juta per bulan. Sudah cukup besar untuk pendidik,” katanya.

Dia tidak ingin kebijakan Kemenristekdikti itu dinilai sebagai upaya menakut-nakuti. Ali menegaskan bahwa kebijakan tersebut semata-mata bertujuan meningkatkan daya saing karya ilmiah Indonesia di mata internasional. Dia ingin memperbaiki posisi Indonesia di antara negara-negara ASEAN.Mekanisme pemotongan tunjangan kehormatan gubes itu segera ditetapkan Kemenristekdikti. Intinya, pemerintah akan memberikan perlakuan yang adil untuk gubes produktif dan yang tidak produktif.Ali mengatakan, berdasar data per 30 Oktober 2014, gubes di Indonesia sebanyak 4.792 orang. Lalu, berdasar data pada 26 Oktober 2015, jumlahnya naik menjadi 5.133 orang. Dengan kata lain, jumlah gubes bertambah sebanyak 341 orang dalam setahun.

”Selain menjaga produktivitas gubes, kami membuat terobosan untuk memperlancar usulan menjadi guru besar,” jelasnya. Dia menuturkan, ketika urusan perguruan tinggi masuk di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), tidak ada standar waktu pemrosesan usulan gubes.Namun, saat ini Ali memastikan bahwa usulan gubes dikabulkan atau tidak dibatasi hanya dua bulan. Dia mengatakan, dengan cara itu, tidak ada lagi cerita usulan gubes yang ngendon berbulan-bulan, bahkan tahunan. Dia menegaskan, yang dilakukan Kemenristekdikti adalah memperlancar usulan, bukan menurunkan standar kualitas persyaratan menjadi gubes.

Pengamat pendidikan Doni Koesoema menyambut baik upaya Kemenristekdikti menjaga kualitas dan produktivitas para gubes. Menurut dia, saat ini memang tradisi menulis ilmiah di kalangan guru besar belum ada. ”Jadi, memang tradisi menulis ilmiah itu harus dihidupkan terus. Teknis caranya bisa diatur oleh pemerintah,” tuturnya.Dia memiliki sejumlah cara supaya upaya menjaga produktivitas gubes bisa berjalan efektif. Di antaranya, pemerintah mendukung peningkatan kualitas jurnal-jurnal ilmiah di Indonesia sehingga naik tingkat menjadi taraf internasional. Dengan demikian, akses gubes untuk menyalurkan karya ilmiahnya bisa diakomodasi oleh jurnal-jurnal di dalam negeri.Selain itu, dia ingin akses terhadap jurnal-jurnal internasional dibuka seluas-luasnya di seluruh perguruan tinggi. ”Supaya bisa jadi referensi,” katanya. Doni tidak memungkiri bahwa minimnya gairah menulis para gubes juga disebabkan referensi yang minim. (wan/c11/agm)

Berita Terkait