Maju dengan Usaha Keripik

Maju dengan Usaha Keripik

  Rabu, 20 July 2016 08:58
PRODUK LOKAL: Rudi Hartono, 24, (kiri) bersama partner usahanya Dennis tarole, 24, (kanan) menunjukan produk andalan mereka. Tampilan menarik dan rasanya yang khas diandalkan Keripik Piko dalam memajukan usaha mereka. FOTO ISTIMEWA

Berita Terkait

 
Perkembangan dunia usaha telah membawa dua sekawan ini mengembangkan produk asli dari Kalbar. Inovasi kemasan produk dan pemasaran membuat keripik singkong asli Nanga Pinoh ini dikenal di nusantara.

MIFTAHUL KHAIR, Pontianak

KERIPIK singkong merupakan salah satu produk makanan ringan yang banyak digemari konsumen. Rasanya yang renyah dan murahnya harga yang ditawarkan menjadikan produk tersebut sebagai alternatif tepat untuk menemani waktu santai Anda bersama rekan dan keluarga.

Keripik singkong. Siapa yang tak kenal dengan camilan bertekstur renyah satu ini. Keripik singkong ialah jenis camilan ringan yang banyuak disukai masyarkat. Baik anak kecil atau orang tua. Kerenyahan serta gurihnya rasa keripik singoong membuat camilan ini tak pernah terlupakan. Dari jaman dulu hingga masa kini.

Camilan keripik singkong sendiri, umumnya dibuat dari bahan utama yakni singkong yang diiris tipis kemudian digoreng hingga kering. Rasa keripik singkong memiliki cita rasa yang gurih dengan aroma khas dari bawang yang nikmat.

Seiring dengan tingginya permintaan konsumen pada jenis dan variasi dari keripik singkong, muncullah berbagai ide dan variasi terbaru dari para pengusaha kreatif di masa ini. Rasa pedas asin, pedas manis, bumbu balado sampai rasa keju sudah bermunculan di berbagai bisnis yang didirikan banyak pengusaha.

Lain waktu, olahan singkong ini juga dijadikan warga sebagai buah tangan bagi keluarganya ketika sedang berkunjung ke salah satu daerah di Kalbar. Akan tetapi, popularitasnya belum bisa menandingi buah tangan khas Kalbar lainnya. Dua sosok pemuda ini siap maju dengan kreasi mereka dalam produk yang akhirnya mereka pilih untuk selanjutnya diusung dalam usaha mereka.

Ada satu segmen yang kini menjadi tren di kalangan masyarakat;. Dengan menyeimbangkan tren dan keripik singkong, satu bentuk usaha yang dilirik banyak pengusaha ialah keripik singkong pedas. Penggemar jenis keripik ini pun sudah tumbuh pesat. Ialah Rudi Hartono (24) dan Dennis Tarole (24), dua pemuda ini memulai usaha mereka di segmen kuliner oleh-oleh. “Bisnis ini kami jalani pada saat desember 2015, besama sahabat saya yang bernama Dennis,” kata Rudi kepada Pontianak Post.

Ia menceritakan, mereka memang sudah tertarik menjalankan usaha sendiri atau berwirausaha sejak menyelesaikan kuliah di salahsatu perguruan tinggi di Yogyakarta. “Kami berusaha untuk berbisnis kecil-kecilan,” katanya. Di suatu waktu, lahirlah ide menjalankan usaha keripik singkong. Nama ‘Keripik Piko’ pun akhirnya dipilih. Bukan sembarang keripik singkong, tetapi Keripik singkong khas Kalimantan Barat.

Mereka tertarik membuat bisnis keripik ini karena menurut pandangan mereka, bisnis mereka bukan hanya soal menjual produk tetapi juga menciptakan sebuah produk baru. Sebuah produk baru yang mengubah bahan baku menjadi makanan siap untuk di konsumsi.

Keripik singkong yang diusung menjadi produknya itu sebenarnya merupakan produk khas di daerah Melawi, Nanga Pinoh. Hanya saja, produk tersebut jarang diketahui oleh masyakarat setempat, atau lebih luas lagi di Kalimantan Barat. Setelah inspirasi itu datang, mereka pun mulai memikirkan strategi untuk memasarkan produk daerah mereka yang dikemas sedemikian rupa. “Kami buat tampilan produk kami agar terlihat lebih menarik bagi masyarakat luas. Dari sana lahirlah bisnis keripik singkong dengan merk Piko,” jelas Rudi.

Pada awalnya menjalankan bisnis ini, modal awal yang dikeluarkan tidaklah begitu besar. Modal yang dibutuhkan mereka hanya untuk membeli peralatan memasak dan alat produksi lainnya termasuk di dalamnya alat untuk mengemas produk. “Modal awal kami kira-kira ada di angka Rp7.000.000,” ungkap Rudi.

Berjalan kurang lebih tujuh bulan, usahanya kini sudah dirasa dapat menghasilkan dan memberikan keuntungan menggiurkan bagi usahanya. “Omzet perbulan ya cukup buat memenuhi hidup sehari-hari,” kata Rudi. Tak main-main, dalam sebulan mereka dalam meraup untung sekitar Rp10.000.000 hingga Rp12.000.000. “Namanya bisnis, ya tidak tentu. kadang ramai kadang sepi. Kurang lebih ada di angka itu,” tambahnya lagi.

Bila membicarakan target pasar, Rudi mengatakan, semua golongan masyarakat dapat mengonsumsi produk mereka. Akan semakin merarik bagi  sebagian kalangan masyarakat yang memiliki hobi makan pedas.

Rata-rata penikmat keripik pedas ialah kalangan anak muda atau remaja. Tingginya pertumbuhan penduduk dengan banyaknya anak  muda tentu memberikan prospek bisnis yang cukup cemerlang.

Dalam pengemasannya, mereka berusaha membuat sebuah kemasan yang mudah dibawa. Sehingga bisnis ini juga dapat dijadikan salah satu oleh-oleh bagi para pelancong yang berlibur ke Kalimantan Barat. “Bisa juga untuk mereka yang ingin membawa produk Piko ini sebagai snack untuk menemani perjalanannya,” ujarnya.

Terkadang, kata Rudi, ada banyak tantangan yang menghampiri mereka. Di suatu waktu pemasok singkong pernah tidak mampu memenuhi bahan baku dalam pembuatan keripik ini. “Jadi kekurangan bahan baku. Fatal sekali kan,” katanya. Selain itu, Rudi mengakui, mereka juga tidak memiliki kemampuan memasak. “Jadi, awalnya kami banyak sekali melakukan trial and error, dan sering gagal. Sehingga akhirnya banyak keripik yang gagal. Kala itu, kami bahkan pernah mengalami kegagalan selama dua bulan percobaan,” katanya lagi.

Akan tetapi, ada pelajaran yang dapat diambil. “Jangan pernah menyerah,” kata Rudi. Para pengusaha mudah yang ingin menjalankan usaha, ia mengajak untuk tidak mudah menyerah pada keadaan. “Karena pengalaman yang akan mengajarkan kita,” tutup Rudi.(*)

Berita Terkait