Luncurkan Buku “Kita Kata Kata Kita”

Luncurkan Buku “Kita Kata Kata Kita”

  Minggu, 10 March 2019 16:07
Peluncuran Buku berjudul “Kita Kata Kata Kita” dan Diskusi “Sastra Dan Kritik”

“Mengangkat masalah-masalah lokal adalah kewajiban bagi para penulis di daerah dan daerah membutuhkan penulis sebagai corong suara mereka”.

Kutipan tersebut dapat ditemukan di bab Kotak-Kotak Lokalitas yang Menjemukan, salah satu konten yang terdapat di dalam buku “Kita Kata Kata Kita, Kumpulan Esai dan Apresiasi Sastra Kalimantan Barat”. Rabu malam (6/3), bertempat di Warung Kopi HR jalan Reformasi, buku tersebut diluncurkan.

Penulisnya, Abroorza A. Yusra (32), menyatakan bahwa buku “Kita Kata Kata Kita” diharapkan dapat mengisi celah minimnya apresiasi dan interpretasi atas karya-karya sastra para penulis Kalimantan Barat.

“Banyak karya yang berkualitas, yang karena kurangnya pembacaan secara mendalam atau apresiasi yang pantas, menjadi sekadar pajangan buku. Padahal karya dibuat penulisnya dengan sungguh-sungguh. Janganlah bicara tentang peran penting literasi dalam membangun peradaban namun di sisi lain kita bahkan tidak pernah menghargai karya lokal yang ada.”

Terbitnya buku “Kita Kata Kata Kita” tidak lepas dari andil Forum Sastra Kalimantan Barat (Forsas Kalbar). Dua tahun belakangan, Forsas Kalbar membuat website Sayap Imaji yang memuat karya-karya penulis berbentuk puisi maupun cerpen. Para penulis yang mengisi website tersebut berlatar dari seluruh daerah yang ada Kalimantan Barat.

Awalnya, apresiasi karya yang dilakukan oleh Abroorza A. Yusra mengulas karya-karya yang ada di Sayap Imaji. Selanjutnya, apresiasi melebar pada buku-buku yang terbit di Kalimantan Barat, walaupun buku-buku tersebut tidak bernaung di bawah Forsas Kalbar. Apresiasi-apresiasi itu yang kini terhimpun di dalam buku “Kita Kata Kata Kita”. Selain apresiasi, beberapa esai dan opini, yang berkaitan dengan bahasa dan budaya juga turut mengisi buku.

“Hampir setiap bulan ada peluncuran buku. Jujur saja, masih banyak karya yang terlewat. Sangat banyak karya lokal yang belum saya baca. Soal teater juga belum dibahas, padahal di gedung budaya, selalu rutin diadakan pementasan. Harapan saya, akan lebih banyak lagi karya yang bisa diapresiasi,” tutur Abroorza yang juga merupakan pustakawan dan penggiat konservasi lingkungan.

Ilham Setiawan (31) ketua Forsas Kalbar berharap agar buku bersampul merah ini mampu memantik apresiasi yang lebih banyak terhadap karya-karya daerah. Kalbar tentunya mempunyai semangat yang tidak kalah saing dengan daerah lain. Ini salah satu langkah yang kami berikan untuk perkembangan sastra di Kalbar. Tentunya akan banyak lagi sumbangsih dari penulis Kalbar lainnya.

Untuk melengkapi peluncuran buku, diadakan juga diskusi “Sastra dan Kritik”. Pembicaranya adalah Musfeptial Musa, S.S, M.Hum. Sosok Musfeptial dikenal telah lama bergelut di bidang sastra Kalimantan Barat. Ia bahkan pernah menulis buku “Pengantar Perkembangan Sastra Kalimantan Barat”, diterbitkan tahun 2014. *

Pak Mus, demikian sapaan akrabnya, menyatakan bahwa kritik sangat penting untuk menyediakan pilihan-pilihan kepada pembaca mana karya yang baik dan mana yang kurang. Adanya buku “Kita Kata Kata Kita”, menurutnya, dapat menjadi salah satu titik tolak perkembangan sastra yang lebih baik.

“Saya kira, buku ini merupakan buku pertama tentang apresiasi dan kritik sastra yang ada di Kalimantan Barat. Banyak orang-orang yang memiliki kapasitas mengkritik, tetapi sering hanya dalam ruang lingkup pendidikan. Hanya dalam lingkaran tertentu saja. Tidak menjangkau banyak orang seperti yang mungkin dilakukan buku ini”.

Peluncuran buku ini didukung berbagai pihak, dari swasta hingga komunitas yang ada di Kalimantan Barat, seperti Pemuda Masa Kini dan Kalbar Membaca. Untuk mendapatkan buku “Kita Kata Kata Kita”, peminat dapat langsung menghubungi penulisnya atau datang ke sekretariat Forsas Kalbar yang bertempat di Jalan Putri Candramidi, gang Nurcahya, nomor 3, Pontianak.