Lubang Hidung Pendarahan, Berbahayakah?

Lubang Hidung Pendarahan, Berbahayakah?

  Jumat, 11 May 2018 10:00

Berita Terkait

Perdarahan pada lubang hidung atau mimisan umum terjadi. Biasanya mimisan hanya terjadi di satu lubang hidung. Namun, tak menutup kemungkinan terjadi di kedua lubang hidung, jika mengalami perdarahan cukup berat. Apakah mimisan berbahaya?

Oleh : Ghea Lidyaza Safitri

Sebagian orang pasti pernah mengalami mimisan. Keluarnya darah dari lubang hidung cenderung menakutkan dan menyebabkan kepanikan, terlebih jika terjadi pada anak-anak atau lansia. 

Mimisan atau epistaksis merupakan kondisi yang umum terjadi dan biasanya tidak mengancam jiwa.

Epistaksis terdiri dari dua jenis yaitu epistaksis anterior dan epistaksis posterior. 

Epistaksis anterior adalah gejala mimisan ringan. Jenis mimisan ini seringkali dialami anak-anak dan terjadi secara berulang. Namun, epistaksis anteriror dapat berhenti sendiri. 

Sedangkan epistaksis posterior termasuk gejala mimisan yang cukup berat dan jarang berhenti sendiri. Epistaksis posterior seringkali dialami orang dewasa. Penyebabnya beragam mulai dari penyakit hipertensi, penyakit jantung (kardiovaskular), diabetes, trauma, dan arteriosklerosis (penyumbatan pembuluh darah). 

Dokter Internsip Rumah Sakit Abdul Aziz Kota Singkawang, Ryan Arifin mengatakan penyebab mimisan bisa terjadi secara spontan. Antara lain karena  karena trauma seperti mengorek hidung, benturan keras, ringan, bersin, mengeluarkan ingus terlalu keras, kena pukul, jatuh, kecelakaan lalu lintas, benda asing yang tajam, dan trauma pembedahan. Kemudian mengalami kelainan pembuluh darah (local), infeksi pada hidung (sinusitis), dan tuberculosis. 

Penyakit kardiovaskular seperti hipertensi, diabetes melitus, kelainan darah (leukemia, hemophilia, dan anemia), kelainan genetik, dan gangguan hormonal, perubahan cuaca dingin atau kering dan penggunaan obat-obatan pengencer darah dalam waktu lama. 

Gejala mimisan berat dapat menyebabkan munculnya tumor. Darah yang dikeluarkan saat mimisan berwarna merah segar yang diakibatkan pecahnya pembuluh darah arteri hidung.

Frekuensi mimisan dan tingkat keparahan yang dialami seseorang bergantung dari jenis dan penyebab mimisannya. 

Ryan menuturkan jenis epistaksis anterior memiliki gejala yang lebih ringan daripada epistaksis posterior. Perdarahan yang terjadi pada epistaksis posterior cenderung lebih lama dan bersifat lebih berbahaya. 

“Biasanya disebabkan penyakit yang diderita pasien sebelumnya seperti penyakit hipertensi, stroke, diabetes, tumor, infeksi, dan kelainan darah seperti leukemia, anemia dan kelainan pembekuan darah,” ujarnya.

Mimisan yang terjadi pada anak-anak dan dewasa berbeda. Ryan menjelaskan mimisan yang terjadi pada anak-anak biasanya disebabkan oleh alergi maupun perubahan cuaca.  Adanya alergi dan perubahan cuaca menyebabkan anak seringkali bersin dan menggosok bagian hidung. Membuat pembuluh darah hidung pecah. Beberapa kejadian anak-anak juga sering memasukkan benda asing, menyebabkan trauma pada pembuluh darah hidung. 

“Pada orang dewasa penyebab terjadinya mimisan bisa dari penyakit hipertensi, stroke, diabetes, tumor, infeksi, dan kelainan darah seperti leukemia, anemia dan kelainan pembekuan darah,” tutur Ryan. 

Ketika anak-anak atau orang dewasa mengalami mimisan langkah pertama yang dapat dilakukan segera mendudukan pasien lebih dulu dan memintanya menundukkan kepala (bukan menengadah), sehingga darah bisa cepat kering. Gunakan sarung tangan sekali pakai untuk melindungi diri sendiri dan pasien. 

Langkah kedua, menekan hidung. Bernapas melalui mulut dan pencet bagian lunak dari hidung. Tujuannya untuk mengurangi aliran darah. Beri wadah atau mangkuk agar ia bisa membuang darahnya. Selama proses berlangsung, usahakan memberi pengertian agar tidak menelan, menghirup, atau batuk, agar bekuan darah yang mulai terbentuk tidak rusak. 

“Langkah ketiga periksa hidungnya. Setelah 10 menit lepaskan tekanan dan mulai periksa hidung. Jika masih ada perdarahan, Anda bisa meminta pasien menekan kembali hidungnya selama 10 menit," tambah Ryan.

Bisa juga mengompres bagian hidung menggunakan es batu atau air dingin untuk mengurangi aliran darah. Jangan lupa periksa kembali hidung pasien. Apabila perdarahan sudah berhenti, bisa membersihkan bagian hidung pasien dengan lap basah. Minta pasien untuk tidak meniup atau mengorek hidung kurang lebih selama 12 jam.

Ryan mengungkapkan sebagian orang lebih memilih menghentikan perdarahan menggunakan daun sirih. Sebenarnya penggunaan daun sirih untuk mengatasi mimisan tidak berbahaya. Dengan kata lain bisa digunakan sebagai pertolongan pertama untuk mimisan. Namun, untuk penelitian atau data ilmiahnya belum kuat. 

Jika pertolongan pertama tak berhasil dan mimisan masih terus berlanjut, Ryan menyarankan untuk segera membawa pasien ke dokter, atau fasilitas kesehatan terdekat untuk ditangani lebih lanjut. **

Berita Terkait