LSF Ajarkan Pentingnya Sensor Mandiri

LSF Ajarkan Pentingnya Sensor Mandiri

  Rabu, 1 Agustus 2018 14:16

Berita Terkait

PONTIANAK – Lembaga Sensor Film Indonesia menggelar Sosialisasi Gerakan Nasional Budaya Sensor Mandiri, di Rumah Adat Melayu, Pontianak, Selasa (31/7) kemarin. Kegiatan ini dihadiri Prof Dr Chairil Effendy MS, selaku ketua umum Majelis Adat Budaya Melayu dan Drs Syamsul Lussa MA, anggota LSF RI sekaligus pemateri sosialisasi.

Kegiatan bertujuan mengajarkan masyarakat tentang pentingnya sensor mandiri di setiap film yang ditonton di televisi. Dikatakan Syamsul, peran sensor mandiri pada dunia perfilman di era kini dinilai sangat penting. Mengingat penikmat tayangan-tayangan televisi di Indonesia sendiri masih dapat dikategorikan tidak sesuai usia.

Meskipun disetiap tayangan sudah ada peringatan tentang batasan minimal usia, hal tersebut dianggap hanya sebatas peringatan bagi penonton tayangan televisi. Padahal hal tersebut sangat penting untuk diperhatikan, khususnya orangtua agar dapat menjaga kualitas tontonan anak-anaknya.

Di Indonesia, ada empat klasifikasi golongan usia tontonan berdasarkan Undang-undang Nomor 33 Tahun 2009. Yakni untuk semua umur, 13 tahun keatas, 17 tahun keatas, dan 21 tahun keatas. Maka dari itu, lanjut Syamsul, pentingnya peran orang tua untuk membimbing dan mendampingi anak, agar anak tidak menonton tayangan yang tidak sesuai kategori usianya.

“Tidak bisa kita hindari, film impor yang masuk Indonesia sangat berpengaruh terhadap nilai sosial dan moral bagi anak-anak. Apalagi total film Impor yang masuk ke Indonesia setiap tahun sangat besar, yakni sekitar 200 film. Maka dari itu penting bagi orang tua selalu mengawasi tontonan bagi anak-anaknya,” jelas Syamsul.

Penyensoran untuk berbagai adegan di film-film yang beredar di Indonesia sendiri dilihat dari kriteria film yang tayang di Indonesia sendiri. Apakah sesuai nilai-nilai kebangsaan dan juga sesuai dengan pedoman yang berlaku. Jika tidak sesuai, LSF berhak memotong atau melakukan sensor terhadap adegan yang dianggap tidak sesuai ketentuan yang berlaku.

Terpenting lagi menurutnya, dari setiap produser film untuk melakukan sensor mandiri di setiap film yang dibuat harus sesuai Undang-undang Nomor 33 Tahun 2009, karena di situ sudah jelas tentang hal-hal apa yang boleh dan tidak boleh ditayangkan untuk publik.

Senada Chairil Effendy. Ia menyatakan pentingnya sensor mandiri, mengingat banyaknya film impor yang menayangkan adegan-adegan berbau pornografi. Karena tak menutup kemungkinan anak-anak yang tidak sesuai klasifikasi umur juga menonton tayangan tersebut.

“Semua itu kembali kepada diri kita sendiri, bagaimana kita memilih tayangan yang akan kita tonton. Dan juga bagi orang tua untuk lebih memperhatikan tayangan-tayangan yang ditonton anak-anak. Semua itu untuk menghindari hal yang tidak diinginkan. Semoga dengan adanya kegiatan seperti ini, kita bisa lebih jauh mengerti tentang apa itu sensor, mengapa harus disensor, kenapa ada klasifikasi umur, dan pentingnya sensor mandiri.” tukas Effendy. (sig)

Berita Terkait