Lokal akan Rajai Pasar

Lokal akan Rajai Pasar

  Sabtu, 10 September 2016 09:30

Berita Terkait

Pembatasan impor buah telah membuat buah di Kalimantan Barat dalam posisi terbaik untuk menjadi tuan rumah di tanah sendiri. Produksi buah lokal telah digenjot untuk memenuhi permintaan buah di Kalbar dan mengejar peluang ekspor.

 
MIFTAHUL KHAIR, Pontianak

SEJAK Februari 2016, Kementerian Pertanian (Kementan) memperketat proses masuknya buah dan sayur impor, termasuk bahan pangan seperti gandum dari negara yang belum memenuhi standar laboratorium penguji keamanan Pangan Segar Asal Tumbuhan (PSAT).

Ketentuan ini berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) No. 4/PP340/2/2015 tentang pengawasan keamanan pangan terhadap pemasukan dan pengeluaran pangan segar asal tumbuhan. Enam bulan berjalan, Permentan yang berlaku efektif pada 17 Februari 2016 ini ternyata berpengaruh pada pasokan buah-buahan di Kalimantan Barat, khususnya di Kota Pontianak.

Sejumlah toko buah di beberapa titik di Kota Pontianak hanya memasok beberapa jenis buah-buahan dari beberapa negara tertentu, padahal biasanya lebih beragam. Beberapa pedagang buah mengaku hanya beberapa buah yang tidak cocok dengan kondisi tanah dan cuaca di daerah ini akan didatangkan dari luar Kalbar. Saat ini pasokan terutama buah-buahan didominasi buah-buahan lokal Kalbar. Sebelum permentan itu dikeluarkan sebagian besar buah yang dijual adalah impor.

Robby (35) pedagang buah di Pasar Dahlia, mengatakan, buah-buahan yang terpajang di kios buahnya sebagian besar berasal dari dalam Kalimantan Barat, seperti semangka, melon, naga, lengkeng, rambutan, durian dan jeruk. Namun, buah seperti apel dan mangga didatangkan dari dari luar Kalbar. Hal itu berlaku hampir sama pada setiap pedagang buah di sana.

Hampir semua pedagang buah di sana, termasuk dirinya memasok buah dari para agen buah di Pontianak, tidak dari kebunnya langsung. Buah yang mereka pajang di kios yang berjejer sepanjang Pasar Dahlia itu dipasok dari beberapa orang agen buah.

Buah-buahan yang didatangkan dari dalam Kalbar ia pasok dari para petani buah di Singkawang, Bengkayang dan Sambas. Sisanya berasal dari Kubu Raya dan Pontianak seperti Semangka dan Pisang. “Kalau Apel dan Mangga memang hanya bisa didatangkan dari Jawa, karena kondisi tanah dan cuaca di Kalbar kan kurang cocok untuk buah itu,” katanya.

Selama ia berjualan di kios toko buah tersebut, memang buah impor dan asli Kalbar selalu saling menutupi. Terkecuali apel dan mangga yang selalu didatangkan dari daerah Jawa. Buah-buah seperti Semangka dan melon, jika stok dari Singkawang dan Kubu Raya sedang kosong, maka ia akan memasok kedua buah tersebut dari Banjarmasin.

Terpisah, Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kalimantan Barat, Hazairin mengatakan, sejak permentan tentang pembatasan impor buah diberlakukan, telah membuka jalan bagi buah lokal untuk merajai pasar di tanah sendiri. Pihaknya juga telah melakukan beberapa upaya untuk mendongkrak produksi buah lokal Kalbar

Beberapa upaya yang dilakukan ialah dengan memberikan pelatihan kepada petani buah agar mereka bisa mendaptkan pengetahuan lebih mengenai cara-cara budidaya yang baik dengan program Good Agriculture Practices (GAP).

“Industri perkebunan buah di Indonesia pun semakin hari semakin dituntut untuk berkembang, tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan pasar dunia namun juga dituntut untuk mengembangkan diri dari segi pengelolaan perkebunan yang berkelanjutan,” katanya Jumat (9/9) kemarin.

Program tersebut membawa misi untuk memberikan edukasi kepada petani mengenaik praktek pengelolaan perkebunan yang berkelanjutan ini berdasar pada Good Agriculture Practises (GAP) yang dimulai dari soal Legalitas kepemilikan lahan, Proses pembukaan lahan, Penggunaan bibit yang bersertifikat, Perawatan tanaman dari penyakit dan hama, Penggunaan pupuk, Perawatan tanaman hingga pada proses pemanenan.

Praktik GAP yang baik ini pun, harus juga memenuhi standar lingkungan tentunya. Hal ini dapat terlihat dari bagaimana pengelolaan hama dan penyakit dengan tidak memperbanyak porsi pestisida dalam penanganan penyakit dan hama.

Sejauh ini menurut pengamatannya, produksi buah-buahan lokal meningkat setelah buah impor distop pemerintah. Buah lokal dari Kalbar memiliki potensi untuk mengembangkan pasarnya sendiri di Kalimantan Barat. Apabila permintaan dari dalam provinsi sudah terpenuhi, mereka memiliki kesempatan menuju pasar yang lebih besar dengan melakukan perdagangan atar provinsi atau antar pulau.  “Dan itu sah-sah saja jika masih terjadi dalam negeri. Antar komoditi itu dapat saling mengisi  dan menjaga keseimbangan pasar,” pungkasnya. (*)

Berita Terkait