Lindungi Anak Berbasis Sistem

Lindungi Anak Berbasis Sistem

  Rabu, 14 September 2016 09:30
PELATIHAN : Wakil Gubernur Kalbar Christiandy Sanjaya saat buka kegiatan pelatihan Sistem Perlindungan Anak (SPA) di Hotel Santika, Selasa (13/9).

Berita Terkait

PONTIANAK— Wakil Gubernur Kalbar Christiandy Sanjaya berharap kepada kementrian pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak RI,  yang akan mengkader para peserta pelatihan untuk mensosialisasikan dan mengadvokasikan sistem perlindungan anak (SPA) di wilayahnya masing-masing. 

“Kedepan diharapkan kegiatan ini dapat melibatkan seluruh kabupaten/kota di provinsi Kalbar,” kata Christiandy ketika membuka Pelatihan Sistem Perlindungan Anak Tahun 2016 di Hotel Santika Pontianak, Selasa(13/09). 

Lebih lanjut diutarakan, pendekatan dalam penyediaan layanan perlindungan anak berbasis sistem mulai dikembangkan berbeda dengan pendekatan tradisional yang di jalankan saat ini. Pada pendekatan yang berbasis sistem lebih mengedepankan porsi terbesar pada layanan primer. Dimana, hal ini lebih banyak dilakukan diranah masyarakat sehingga menyentuh wilayah keluarga dan anak secara langsung. “Anak dan keluarga merupakan sasaran utama dalam layanan berbasis sistem ini,“ ujar  Christiandy Sanjaya. 

Dari data yang dilansir oleh KPAID Kalbar, Christiandy menjelaskan terjadi peningkatan pengaduan pada tahun 2011 sampai dengan 2015. Pada tahun 2011 pengaduan yang diterima sejumlah 39 kasus, pada 2012 terjadi peningkatan sebesar 70 persen 55 kasus. Peningkatan jumlah kasus pada tahun 2013 sebesar 1 kasus menjadi 56 kasus. Namun pada tahun 2014 kembali terjadi peningkatan menjadi 83 kasus.  Peningkatan jumlah kasus yang paling besar terjadi pada tahun 2015 yaitu 78 persen. 

Selain itu, data yang di himpun oleh badan pemberdayaan prempuan, perlindungan anak dan keluarga berencana Provinsi Kalbar melalui B2TP2A 'Bunga Lita' juga mengalami peningakatan. 

Pada tahun 2011 kasus kekerasan terhadap anak yang di tangani oleh B2TP2A 'bunga lita' sebanyak 7 kasus. Pada tahun 2012 terjadi peningkatan menjadi 12 kasus. Pada tahun 2013 juga kembali terjadi peningkatan 23 kasus. Walaupun pada tahun 2014 hanya terjadi peningkatan sebesar 4 kasus menjadi 27 kasus. Namun, pada tahun 2015 terjadi peningkatan sebesar 69% menjadi 39 kasus. Sedangkan pada tahun 2016, sampai dengan bulan september B2TP2A 'Bunga Lita' sudah menerima 28 kasus kekerasan pada anak.

“Peningkatan jumlah pengaduan kasus tersebut dapat berarti bahwa adanya kesadaran masyarakat kalbar akan perlindungan anak melalui lembaga yang berwenang dalam perlindungan anak. Namun tidak dapat di pungkiri bahwa permasalahan anak di kalbar cukup memprihatinkan. Jumlah anak yang menjadi korban tindak kejahatan semakin meningkat tiap tahunnya. Penanganan pada anak yang menjadi korban dari tindak kejahatan perlu mendapatkan perhatian khusus. Hal tersebut diperlukan untuk mencegah siklus dimana korban suatu saat akan menjadi pelaku kemudian hari,” tegas Christiandy. (Rinto/Humprov Kalbar).

 

 

Berita Terkait