Liku-Liku Anak Djakarta Jadi Restoran Halal Pertama di Makau

Liku-Liku Anak Djakarta Jadi Restoran Halal Pertama di Makau

  Minggu, 26 May 2019 09:22
MENU INDONESIA: Plang nama Restoran Anak Djakarta di Makau. Di Makau, untuk mendapatkan sertifikasi halal butuh waktu sekitar tiga bulan. Mochamad Thamrin for Jawa Pos

Berita Terkait

Publikasi Terbantu Wajah Makau yang Cepat Berubah 

Agar bisa mendapatkan sertifikasi halal, restoran milik Mochamad Thamrin harus menjalani inspeksi mulai dari dapur, gudang, sampai tempat makan. “Bahkan latar belakang saya juga diselidiki,” kata mantan polisi dan pilot itu. 

INDRIA PRAMUHAPSARI, Makau. 

MEMBACA plang putih yang menjadi penandanya, orang Indonesia yang melintas pasti akan tertarik. Setidaknya berhenti sejenak. Atau, bahkan langsung melangkahkan kaki ke dalam restauran di kawasan Sam Chang Tan, Makau, itu. 

"Bakso. Itu menu paling favorit," kata Mochamad Thamrin, pemilik restoran bernama Anak Djakarta itu, Rabu malam (8/5) dua pekan lalu di Makau.  

Anak Djakarta adalah restauran halal pertama di Makau, negeri bekas koloni Portugal yang kini telah berada di pangkuan Tiongkok. Otomatis pria kelahiran Jakarta 21 Aguatus 1974 tersebut harus memastikan langsung bahwa semua yang tersaji di restorannya halal. 

Mulai dari bahan mentah, pengolahan, sampai menjadi masakan. Sebab, ada logo sertifikasi halal di restoran tersebut. 

Vicente Domingos Pereira Coutinho, staf Macao Government Tourism Office, mengatakan bahwa ada banyak rumah makan yang menyediakan masakan halal. Biasanya adalah restoran India. “Tapi, tidak ada logo halal. Sebab, para pemiliknya tidak menjalani sertifikasi,” katanya. 

Itu karena proses sertifikasi, mulai dari pengajuan sampai penerbitan, butuh waktu tidak sebentar. “Sekitar tiga bulan," kisah Thamrin tentang logo halal yang kini terpampang pada plang nama restorannya. Pihak yang berhak memberikan lisensi halal itu Asosiasi Muslim Hongkong. Merekalah yang membawahi Asosiasi Muslim Makau," terangnya. 

Dalam proses itu, tim sertifikasi berkali-kali menginspeksi restoran Thamrin. Mulai dari dapur, gudang sampai tempat makan.  Tidak hanya itu, latar belakang pemilik usaha pun diselidiki. Apakah dia muslim yang berperilaku baik atau tidak. 

"Untung mereka kenal dengan saya karena saya jemaah Masjid Makau. Menyelidiki reputasi saya juga menjadi tidak sulit sebab bisa tanya ke jamaah lain," ungkapnya.

Abdul Halim, jamaah Masjid Makau yang juga kawan Thamrin di Air Macau, membenarkan pendapat rekannya tersebut. "Semua jemaah masjid kenal Pak Thamrin. Dia kan orang Makau," ujarnya, kemudian tersenyum. 

Sejak tahun lalu, Thamrin memang tercatat sebagai permanent resident di Makau. Sertifikasi halal untuk Anak Djakarta yang dia kelola akhirnya terbit pada 16 November 2018.

Thamrin mengaku tidak sengaja nyemplung ke bisnis kuliner. Sekitar satu dekade silam, saat masih berprofesi sebagai pilot Air Macau, alumnus Sekolah Penerbang ABRI pada 1996 itu iseng menjual masakan Indonesia. 

Take away outlet. Bukan resto seperti sekarang. Saat itu dia fokus pada masakan Indonesia. Sebab, ada potensi pasar yang tidak tergarap. Ada sekitar 70 ribu warga Indonesia di sana. Itu masih ditambah para wisatawan yang berkunjung ke negeri tetangga Hongkong itu. 

"Awalnya ya masakan biasa saja. Bukan fokus pada halalnya," kata bapak empat anak tersebut.  

Outlet take away Thamrin berkembang. Meski hanya punya dua pegawai dan dikenal kalangan terbatas, Anak Djakarta laris. Thamrin yang pernah menjadi ajudan mantan menteri BUMN Laksamana Sukardi saat masih berseragam Polri itu pun bimbang. 

Tetap berpijak di dua dunia atau pilih salah satu. Hal itu karena ia semakin sulit membagi waktu seiring bisnis kulinernya yang terus berkembang. Dia lantas memutuskan mundur dari Air Macau  tahun lalu. 

"Saya lalu bikin restoran. Outlet yang semula hanya take away jadi punya kursi dan meja dan bisa makan di tempat kami," urainya. Menu yang disajikan macam-macam. Khas Indonesia. Tapi, sejak awal merintis usaha, bakso memang menjadi andalan. Orang Indonesia, kata dia, tidak ada yang tidak suka bakso. 

Dalam sehari, restoran itu menghabiskan tiga kilogram daging sapi untuk membuat bakso. "Saya punya langganan (penjual daging sapi di sini). Proses pemotongan dagingnya halal," terang suami Nur Asiyah Dwi Astuti itu.

Setelah bisnis kulinernya berjalan sekitar tiga tahun, dia memantapkan diri untuk menetap di Makau. Dia pun memboyong keluarganya ke negara tersebut. Saat itu, dia dan sang istri yang asli Malang, Jawa Timur, baru punya dua anak. 

Karena membutuhkan tempat yang lebih luas, dia terpaksa pindah lokasi. Dia meninggalkan outlet lama dan pindah ke kawasan yang kini menjadi restonya itu. Tapi, ternyata, meng-upgrade usaha tidak semudah bayangan Thamrin.

"Ngurus izin usaha itu sulit sekali. Sangat sulit," katanya sambil menggeleng-gelengkan kepala. 

Selama surat izin usaha belum terbit, restoran Thamrin belum boleh buka. Padahal, biaya sewa sudah dibayar. Tidak murah. Sekitar Rp 60 juta per bulan. Renovasi juga telanjur dilakukan. 

Praktis, selama setahun, restoran Thamrin terbengkalai. Tidak menghasilkan. Untung, Thamrin punya sumber pemasukan lain: jasa pengiriman uang dari Makau ke Indonesia dan sebaliknya. 

Namun, Thamrin tidak menyerah. Dia terus berupaya keras agar permohonan izin usaha restonya lolos. Perjuangannya tidak sia-sia. Pemerintah Makau menerbitkan surat izin untuk restoran Thamrin tahun lalu. 

Tantangan berikutnya telah menunggu: publikasi. Sebab, tidak semua pelanggan tahu Anak Djakarta berpindah lokasi. 

Maka, selain pengumuman yang ditempel di tempat lama, informasi lisan antarsesama pelanggan menjadi andalan. Untungnya, Makau adalah wilayah yang wajah kotanya sangat cepat berganti. "Makau berubah terlalu cepat. Hari ini ada gedung di sini. Besok, gedung itu bisa jadi sudah dibongkar. Fyuuh," kata Vicente, salah seorang warga Makau kelahiran Portugal itu.  

Kebiasaan itu mendatangkan keuntungan bagi Thamrin. Para pelanggan bisa kembali menemukan restoran kesukaan mereka itu. Penampilan Anak Djakarta menjadi lebih baru. Pegawainya menjadi 5 orang. Ada logo halal besar di plang nama. 

Tapi, menu-menu Indonesia, terutama bakso, tetap ada. Bahkan tambah banyak. Beberapa waktu belakangan, menu ayam geprek menjadi favorit. Sama seperti di tanah air.

Sama seperti di tanah air. "Kami selalu mengikuti perkembangan kuliner di Indonesia. Pelanggan kami kan sebagian besar orang Indonesia juga," kata Thamrin. 

Tiap bulan, lelaki yang meninggalkan kepolisian dengan pangkat ajun komisaris polisi (AKP) pada 2004 itu datang ke Indonesia. Dia memastikan pasokan bumbu dan bahan khas Indonesia untuk restorannya tersedia. Terutama, kaldu. 

"Merek yang kami pakai ini tidak ada di Makau atau Hongkong. Harus beli di Indonesia," tegasnya. 

Kini, Thamrin total berkecimpung di dunia kuliner. Sebagai penawar rindu kepada dunia lamanya, penerbangan, dia menghadirkan nuansa aviasi di restoran dua lantai yang didominasi warna putih itu. 

Caranya dengan memajang foto-foto hasil jepretannya saat masih menjadi pilot. Entah foto pesawat yang sedang mengudara. Atau, foto dari kokpit. Salah satu foto yang menghias dinding restorannya, dia jepret dari ketinggian 33 ribu kaki. "Saya kebetulan suka fotografi," ujarnya. 

Pada salah satu foto yang dia pajang di restorannya, Thamrin menuliskan kata-kata "Falling down is an accident. But, staying down is a choice (jatuh itu kecelakaan. Tapi, memilih untuk tetap di bawah itu pilihan)." 

Thamrin yang 14 tahun mengarungi angkasa akhirnya memilih untuk menetap di "bawah". Dengan demikian, dia bisa fokus bekerja serta selalu berdekatan dengan anak istri. Dan, yang terpenting adalah punya lebih banyak waktu untuk beribadah. "Tuhan itu punya segalanya. Kalau meminta sesuatu, jangan tanggung-tanggung, Mintalah semaksimal mungkin," pesan Thamrin sembari menambahkan: juga harus tetap berupaya maksimal. (*/ttg)

Berita Terkait