Lembur Sukarela

Lembur Sukarela

  Senin, 5 September 2016 09:27

Berita Terkait

Mendapat perintah untuk lembur dari atasan menjadi salah satu risiko pekerjaan yang harus dihadapi. Ada yang memperoleh bayaran lebih karena bekerja melebihi jam kerja biasa. Tetapi, banyak juga yang tak mendapat imbalan apapun. Mereka harus lembur secara sukarela.

Oleh: Marsita Riandini

Bekerja pada umumnya dilakukan selama delapan jam. Namun tak jarang banyak yang overtime alias lembur untuk menyelesaikan pekerjaannya. Mereka diperintahkan atasan untuk tetap bekerja saat hari istirahat mingguan ataupun hari libur resmi. Tak tanggung-tanggung, terkadang seseorang bisa melewati masa lembur berhari-hari dalam sebulan. 

Jika mendapat imbalan atau upah, lembur bukanlah menjadi beban atau masalah. Tetapi, bagaimana jika lembur yang dilakukan tak bernilai upah alias sukarela?

Menghadapi situasi semacam ini beragam respon ditunjukkan setiap orang. Ada yang mungkin memilih mengatur waktu dengan baik untuk menghindari lembur, tetapi ada pula yang memilih keluar karena lembur yang tak bisa dielakkan. Seperti yang diungkapkan oleh Cinthia kepada For Her belum lama ini. 

Sebelumnya Cinthia bekerja di satu perusahaan swasta. Di sana, ia sering kerja lembur terutama mendekati akhir bulan. 

“Lemburnya itu ada yang mendapatkan tambahan gaji, tetapi lebih banyak lembur sukarela,” ungkapnya.

Akhirnya Cinthia pun memutuskan resign dari pekerjaannya dan memilih membuka usaha. Kini, ia pun sering lembur dalam mengelola usahanya. Kendati demikian, tak tak mempermasalahkannya karena lembur tersebut demi penghasilan dalam membangun usaha sendiri. 

“Beda ya kalau usaha sendiri. Walaupun jam kerjanya tidak tentu tetapi yang mengatur saya sendiri. Lembur itu juga untuk penghasilan sendiri,” tuturnya. 

Lembur memang tak bisa dipisahkan dalam dunia kerja. Namun, lembur bisa dihindari selama pandai mengatur waktu dengan baik. Demikian yang disampaikan Motivator Trainer, Dr. Chairul Fuad. 

“Lembur kadang memang tidak bisa dihindari karena tingginya volume kerja. Apalagi pada lembaga atau kantor yang mengharuskan semua pekerjaan selesai pada hari itu juga,” kata pria yang bekerja di Bandiklat Provinsi Kalbar ini. 

Ia menjelaskan lembur pun diatur melalui Kepmenakertrans No. 102/MEN/VI/2004 menyangkut kompensasi atau upah yang harus diberikan dan diterima oleh pegawai yang menjalankan tugas lembur dengan perhitungan yang rinci. Artinya setiap pegawai harus mengetahui hak-haknya ketika dia lembur. 

Walaupun sudah ada peraturan yang mengaturnya, kadang masih ditemukan instansi 

atau lembaga yang tidak memberikan imbalan kepada pegawai yang melakukan 

pekerjaan lembur. “Untuk itu diperlukan komunikasi efektif antara pegawai dan 

perusahaan,” sarannya. 

Sebenarnya, lanjut Fuad, jika memungkinkan sebaiknya  semua pekerjaan diselesaikan pada jam kerja yang sudah ditetapkan sehingga tidak harus lembur lagi. Salah satu caranya dengan mengatur waktu agar volume kerja lembur bisa  berkurang. 

Dalam bekerja harus ada win-win solution. Ada juga keseimbangan hak dan 

kewajiban. 

“Apabila beban lembur itu masih dalam kondisi wajar dan tidak memberatkan atau lembur itu merupakan keinginan dari pegawai yang bersangkutan dan terjadi disebabkan oleh pegawai itu sendiri, saya kira harus dapat diterima dengan lapang dada. Dalam hal ini lembaga atau perusahaan juga harus mempertimbangkan masalah tersebut. Dengan demikian suasana kerja akan kondusif,” jelasnya. 

Ada pula sebagian pegawai yang lembur dengan membawa pekerjaan pulang 

Ke rumah. Hal itu sah-sah saja asal tidak mengganggu ketenangan atau acara keluarga. “Hal itu juga bisa dilakukan kalau pekerjaan sederhana. Namun kalau pekerjaan yang 

harus menggunakan aplikasi atau sistem jaringan tertentu yang di rumah tidak 

tersedia, maka memang harus diselesaikan di kantor,” pungkasnya. **

--------------------

Tetap Prima Saat Lembur 

Terkadang bekerja lembur di kantor tak dihindari. Chairul Fuad berbagi tips agar seseorang dapat melakukan lembur dengan kondisi stamina dan gairah kerja yang 
prima.

*Menerima pekerjaan dengan tulus dan ikhlas
Bila lembur tak bisa dihindari hendaknya memandang pekerjaan bukan beban tapi amanah, kewajiban, dan tanggung jawab. Selalu berfikir dan berperasaan positif terhadap pekerjaan.

*Menjaga kesehatan
Dalam melaksanakan pekerjaan, perlu mengatur kondisi kesehatan agar terhindar dari kelelahan dan stres. Seperti mengatur waktu bekerja dan istirahat sejenak untuk jeda, sebelum melanjutkan lembur atau di antara waktu lembur. Bila perlu tidur sejenak sekitar 15 menit. Ini diperlukan pembiasaan untuk memprogram otak agar bisa tidur efektif walau sebantar. Jika lembur merupakan hal rutin, Anda harus mengatur jam tidur diluar lembur sehingga stamina tetap fit. 

*Berinteraksi
Jika tak hanya Anda seorang diri yang lembur hari itu, upayakan untuk selalu berinteraksi dengan teman agar tidak jenuh. Anda perlu relaksasi dengan gerakan, mendengar musik, atau berdendang sendiri. Berdendang dalam hati juga dapat memberikan energi positif karena musik bisa mempengaruhi gelombang otak dan perasaan Anda. 

*Mengonsumsi makanan dan minuman sesuai kebutuhan. 
Jangan lupa untuk mengonsumsi minuman agar elektrolit atau cairan ditubuh tetap tercukupi. Demikian juga, sebaiknya konsumsi makanan bergizi.

*Bekerja dengan tenang
Hadapi saja pekerjaan sebagai tugas rutinitas yang sudah biasa Anda lakukan sehari-hari. Dengan demikian Anda dapat bekerja dengan tenang sehingga kekeliruan dapat terhindari.

*Ciptakan suasana yang mendukung
Ciptakan suasana ruangan mendukung yang sesuai dengan kebutuhan Anda, misalnya 
kehangatan, tata ruang dan sebagainya. Untuk menghindari mata lelah dan rasa kantuk, Anda dapat menggunakan  penerangan yang cukup. Hal itu juga akan menambah semangat kerja. (mrd)

Berita Terkait