Lebih Dekat dengan Isma, Scientist Muda Penemu APPLE

Lebih Dekat dengan Isma, Scientist Muda Penemu APPLE

  Rabu, 19 September 2018 11:15
JUARA. Dian Isma Khairani, siswa asal Kabupaten Sanggau berhasil menjadi juara kedua pada ajang Kalbe Junior Scientist Award 2018 dengan karya Alat Pencuci Piring Portable (APPLE). FOTO SUGENG/PONTIANAK POST

Berita Terkait

Samasekali Tak Grogi Diuji Empat Profesor dan Doktor

Diusianya yang masih 10 tahun, Dian Isma Khairani, biasa disapa Isma, telah mampu mengukir prestasi di ajang nasional. Siswa kelas V di SDN 1 Sanggau ini pada 15 September 2018 lalu baru saja menjadi juara kedua (Karya Terunggul) pada Kalbe Junior Scientist Award 2018. Pontianak Post menyajikan liputannya.   

SUGENG ROHADI, Sanggau

Bocah kelahiran Sanggau, 26 Februari 2008 lalu ini disebut oleh sang ibu, Rusnani sebagai anak yang sangat disiplin. Mulai dengan bangun pagi sampai dengan belajar di malam hari semuanya terjadwal. Semua dilakoninya dengan teratur.

Senin (18/9) pagi kemarin, harian ini berkesempatan bincang-bincang santai bersama Isma di sekolahnya. Ia terlihat sedikit kikuk dihadapan kamera wartawan yang akan mewawancarainya. Namun perlahan, ia terlihat mulai terbiasa.

Isma adalah scientist muda. Karyanya berupa Alat Pencuci Piring Portable atau APPLE telah melambungkan namanya di ajang nasional. Menjadi juara kedua adalah bukti kecerdasannya dari ribuan karya yang disertakan dalam ajang tersebut.

Tidak tanggung-tanggung, ia mesti meyakinkan empat orang bergelar profesor dan satu orang doktor sebagai tim penguji karya yang ditemukannya dari hasil pengamatan di lingkungan sekitarnya sehari-hari.

Karyanya yang disandarkan atas dasar penglihatan dan keprihatinan para pedagang jajanan di sekolah dan sejumlah tempat telah membuatnya mempunyai ide brilian. Menurutnya, banyak sekali penjual jajanan yang tidak punya banyak tempat untuk mencuci piring secara higienis dan peralatan lainnya usai digunakan sebagai tempat makanan.

Kondisi ini tentunya membuat tempat bekas makan (meskipun dicuci) pasti tidak bersih. Hal ini yang ditangkap oleh Isma sebagai sebuah keprihatinan. Potensi penyakit akan sangat besar bila tempat untuk makan tidak bersih meskipun sudah dicuci.

Dengan melihat fenomena ini, ia kemudian mencoba memikirkan sebuah alat cuci yang simpel dan bisa dibawa secara praktis dan dapat mengurangi resiko penyakit dari piring atau mangkuk yang sudah digunakan untuk makan. Simpel dan terlihat sepele namun sebuah ide yang harus diacungi jempol oleh semua orang.

Setelah menemukan ide dan gagasan dasarnya, ia kemudian menghubungi seorang guru pembimbingnya yang aktif di Rumah Karya Ilmiah Remaja Sanggau, bu Wiwin, alumnus Universitas Negeri Semarang yang mengajar di salah satu SMP di Kota Sanggau. Dari situ, kolaborasi keduanya meramu APPLE tersebut.

Kehadiran Bu Wiwin dirasakan sangat membantu sekali oleh Isma. Sosok Bu Wiwin bukanlah orang asing baginya karena mereka bertetangga. Isma kemudian berkonsultasi dan menceritakan pemikiran, ide dan gagasan mengenai hal yang dilihatnya sehari-hari.

Anak kedua dari tiga bersaudara pasangan Jamaludin dan Rusnani ini menyampaikan bahwa alat yang dibuatnya tersebut hanya menghabiskan uang dikisaran seratus enam puluh ribu rupiah. Sangat ekonomis tetapi memiliki manfaat besar terutama bagi pedagang jajanan keliling.

Ajang Kalbe Junior Scientist Award 2018 merupakan even pertama yang diikutinya pada level nasional. Meski bersaing dengan siswa-siswa dari daerah yang notabene punya sistem pendidikan dan pembelajaran yang lebih baik, namun Isma yang bercita-cita menjadi Polisi Wanita (Polwan) ini tidak sedikitpun minder dengan karyanya. Rasa percaya dirinya tersebut terbayar tuntas dengan prestasi yang didapatkan.

 “Rasanya luar biasa. Karya saya harus bersaing dengan ribuan karya siswa-siswa dari seluruh indonesia. Begitu masuk finalis 20 peserta rasanya bangga dan bahagia. Dari situ saya makin percaya diri bahwa karya yang saya bawa bisa menang,” ceritanya.

Ia juga bangga, dengan menjadi juara di ajang tersebut dirinya bisa bertemu sejumlah menteri salah satunya Menteri Keuangan Republik Indonesia, Sri Mulyani.

 “Bu menteri pesan dengan saya supaya lebih giat lagi belajar supaya bisa membuat karya-karya yang bermanfaat untuk masyarakat,” katanya.

Potensi besar Isma tidak dinafikan oleh Bu Wiwin sebagai sosok yang mendampingi sekaligus pembimbingnya. Ia sangat men-support karya yang telah dibuat oleh anak didiknya tersebut. Ia berharap akan ada karya bermanfaat lainnya yang akan lahir dari ide dan gagasan Dian di kemudian hari.

 “Ketika ia (Isma) bicara dengan saya, pada saat itu kami membuat peta masalah. Jadi masalah-masalah apa yang belum teridentifikasi di sekitar kita kemudian kita buat (Mencari solusinya). Saya kebetulan ada Rumah KIR Sanggau. Di situ ada SD, SMP dan SMA. Kami biasa berkumpul dan membahas sesuatu mengenai lingkungn sekitar. Nah, Isma, dari hal kecil yang ditemukannya, ia tertarik membuat sesuatu yang bermanfaat untuk orang-orang yang ada di sekitarnya,” terang dia.

 “Kami kemudian merancangnya bersama-sama dengan sistem manual dan tidak menggunakan listrik tetapi bisa cepat dan tidak perlu menggosok piring atau lainnya karena sudah ada serat-serat yang akan menggosok dengan sendirinya ketika piring atau lainnya dimasukkan di alat itu,” jelasnya.

Menurutnya, alat tersebut terdiri dari dua bagian yakni bagian yang dilengkapi serat untuk mencuci dan satu bagian lagi untuk membilas sehingga bisa cepat. Alat tersebut juga dilengkapi dengan keran untuk membuang air sisa mencuci dan membilas piring. “Alat ini simpel dan bisa cepat tetapi tetap bersih,” katanya.

Yang menurutnya luar biasa adalah anak didiknya itu mampu mempresentasikan karyanya sekaligus mempraktekkan dihadapan penguji yang mayoritas profesor dan doktor. Selain itu, ia juga bisa santai bicara di depan menteri yang mungkin untuk anak seusianya merupakan momen langka.

 “Saya salut. Anak ini punya potensi luar biasa. Ini pesan pendidikan yang tersirat bagi pemerintah dan dunia pendidikan kita di Indonesia,” ujarnya.

Sang ibu, Rusnani mengaku bangga saat diwawancarai wartawan. Anak keduanya itu memang berbeda dari dua anaknya yang lain. Ia biasa bangun pagi dan punya disiplin yang tinggi meskipun kesehariannya tetap sama seperti anak-anak seusianya.

 “Saya juga heran liat dia bisa terlihat santai ketika bicara dengan menteri yang mungkin untuk kita saja mungkin akan minder atau grogi. Saya merasa bangga bahkan sempat meneteskan air mata melihatnya karena merasa haru sekaligus bangga,” ungkapnya. (*)

Berita Terkait