Latief Simanjuntak; Pelakon Pak Saloi itu Pergi untuk Selamanya

Latief Simanjuntak; Pelakon Pak Saloi itu Pergi untuk Selamanya

  Minggu, 19 May 2019 09:18
PEMAKAMAN: Proses pemakaman Pak Saloi di kompleks pemakaman muslim Jalan Media, Sabtu (18/5) pagi, dihadiri begitu banyak pelayat yang menghantarnya. PAGE FACEBOOK SIIS JUNGKAT

Berita Terkait

Sosok Humoris itu Tinggalkan Senyuman buat Keluarga dan Kerabat

Budayawan Kalimantan Barat, Abdul Latief Simanjuntak yang dikenal masyarakat sebagai tokoh dari cerita rakyat Sambas, Pak Saloi, Jumat (17/5) pukul 22.15 malam mangkat di usia 57 tahun. Kanker kelenjar getah bening yang diidap sejak setahun terakhir jadi penyebab. Pecinta puisi Sapardi itu meninggalkan banyak kenangan indah semasa hidup. Sosok humoris di kalangan keluarga dan kerabat tak bisa dilupa

MIRZA AHMAD MUIN, Pontianak 

“BAPAK itu orangnya periang, suka bergurau. Bahkan hanya melihat wajahnya saja, orang bisa tertawa,” kenang anak pertama Almarhum, Agus Salam kepada Pontianak Post, di rumah duka, Jalan Tanjung Harapan, Kecamatan Pontianak Selatan, ditemui usai pemakaman. Dituturkan Agus, sang ayah sudah sakit sejak setahun belakangan. Almarhum terkena kanker kelenjar getah bening. Jumat (17/5) malam, sekitar pukul 22.15 WIB, sosok humoris tersebut meninggal dunia di RSUD dr. Sudarso.

Keluar masuk rumah sakit lanjutnya bukan kali pertama dijalaninya. Pasalnya, beberapa hari lalu Almarhum juga sempat masuk rumah sakit. Karena kondisi kesehatannya dianggap membaik, keluarga membawanya pulang. Namun, saat dirawat di rumah, sakitnya menjadi, sehingga keluarga berinisiatif kembali membawa ke rumah sakit. Di rumah sakit, pada Jumat malam, sosok yang dikenal ramah tersebut menyerah dengan penyakitnya dan menghadap Ilahi selamanya.

Sosok Latief utamanya untuk dunia panggung teater, di mata sang anak, telah banyak memberi pembelajaran bagi hidupnya. Dari getolnya sang ayah bersama Teater Mendu, turut membawanya ikut berkecimpung di dunia teater. “Kami sekeluarga berkecimpung di Teater Mendu,” ungkapnya.

Dari cerita sang anak, Almarhum sudah di Teater Mendu sejak tahun 70-an. Di tahun itu, bahkan suami dari Nurmilah ini sudah berkeliling Indonesia dari satu panggung ke panggung teater lainnya.

Nama Latief makin dikenal masyarakat Kalbar, berkat perannya sebagai tokoh cerita rakyat asal Sambas, Pak Saloi dan Mak Saloi, yang dilakoni sejak 1998. Berkat perannya itu, pria kelahiran 9 Oktober 1962 ini juga mendapat banyak tawaran mengisi acara di TVRI. Selain itu, Almarhum juga ikut membantu BKKBN dalam mengampanyekan programnya.

Selain terkenal dengan lakon Pak Saloi, Latief ternyata begitu menyenangi membaca puisi milik Sapardi Djoko Damono yang berjudul Doa Pelaut yang Tabah. Puisi milik Sapardi ini, menurut Agus, sudah seperti kawan di saku celana sang ayah.

Karena sakit kanker getah bening makin menjalar tubuh, Almarhum terpaksa mengurangi gerak di dunia teater. Utamanya sejak setahun ke belakang. Walau sedang sakit, namun Almarhum di mata anak-anaknya tak pernah menunjukkan rasa sakit. “Bapak tak pernah merasa sakit. Bahkan saat kritis, rasa sakitnya justru jadi bahan gurauannya ke kami. Butak kalik penyaket ni, udatau orang nak tidok, maseh gak ngacau?” kenangnya menirukan suara Almarhum yang miliki anak Agus Salam dan Apriansyah.

Almarhum, kata dia, juga menyenangi politik. Bahkan saat sakit, menurutnya, ayahnya tersebyt tak pernah ketinggalan dengan perpolitikan nasional Kalbar dan di kota tempat ia tinggal.

Wejangan Almarhum kepada mereka juga tak bakal dilupa oleh sang anak. Menurutnya, dalam menyampaikan satu pesan ke anak, kerabat, dan orang-orang yang dikenal, selalu menyelipkan pesan humor. Artinya, mau seberat apapun persoalan hidup dihadapi, bagi mereka bakal terasa ringan. “Iklas bapak pergi. Beliau sudah tenang di sana. Dunia teater telah membesarkan namanya. Lakon Pak Saloi lekat dalam dirinya,” tutupnya. (*)

 

Berita Terkait