Lahan Marhaban Hangus, 35 Ha Ludes

Lahan Marhaban Hangus, 35 Ha Ludes

  Jumat, 22 March 2019 09:35
Kebakaran lahan kembali terjadi, kali diperkirakan 35 hektare lahan yang terletak di Jalan Marhaban, Kelurahan Sedau, Kecamatan Singkawang Selatan, terbakar sejak Rabu (20/3) siang kemarin.

Berita Terkait

SINGKAWANG-Kebakaran lahan kembali terjadi, kali diperkirakan 35 hektare lahan yang terletak di Jalan Marhaban, Kelurahan Sedau, Kecamatan Singkawang Selatan, terbakar sejak Rabu (20/3) siang kemarin. 

Saking luasnya, upaya pemadaman pun masih dilanjutkan pada Kamis (21/3) pagi, dengan melibatkan tim gabungan yang terdiri dari Manggala Agni, TNI, Polri dan BPBD. 

Kepala Daerah Operasi Manggala Agni Singkawang, Yuyu Wahyudin mengatakan, lahan yang terbakar merupakan lahan gambut yang ditumbuhi tanaman resam, pakis dan akasia. 

"Luas lahan yang terbakar sekitar 35 Hektare, namun yang berhasil dipadamkan baru sekitar 0,8 Hektare dan pada hari ini akan terus dilakukan pemadaman lanjutan," kata Yuyu, Kamis (21/3). 

Menurutnya, lahan yang terbakar itu merupakan milik masyarakat dan masih belum diketahui apa penyebab kebakaran. 

Untuk personil yang dikerahkan dalam melakukan pemadaman, antaralain, 10 orang dari Manggala Agni Daops Singkawang, Camat Singkawang Selatan, Danramil 1020/04 dan 4 Anggota Koramil Sedau, Kapolsek Singkawang Selatan beserta anggota sebanyak 11 personel. 

Sementara peralatan yang digunakan untuk pemadaman, satu unit mobil personel, tiga unit Motor KLX, dua unit mesin pompa mark3, 25 gulung selang pengantar, dua unit Nozel, tiga buah Kepyok dan tiga Jet Soter.

Informasi kejadian kebakaran, katanya, didapatkan laporan dari anggota yang sedang melakukan Patroli Terpadu untuk melakukan Ground Check Hotspot di Kelurahan Sedau.  

"Pada saat pengecekan, mereka menemukan kejadian kebakaran hutan dan lahan. Kemudian saya langsung memerintahkan personil Manggala Agni Daops Singkawang untuk melakukan operasi pemadaman darat di lokasi tersebut," ungkapnya. 

Yuyu menambahkan, kesulitan pihaknya untuk memadamkan kebakaran karena saat kejadian tiupan angin cukup kencang. 

"Sehingga api semakin membesar, sementara sumber air dengan lokasi kebakaran sangat jauh, begitu pula dengan medan berat dan kondisi gambut yang dalam," jelasnya. 

Yuyu mengimbau kepada seluruh warga masyarakat Singkawang, untuk tidak melakukan pembakaran hutan dan lahan secara sembarangan. 

"Misalkan membuka lahan pertanian dengan cara melakukan pembakaran hutan, membuang putung rokok sembarangan maupun membuat titik api dekat lahan atau hutan yang mudah terbakar," pintanya. 

Secara terpisah, Kapolres Singkawang, AKBP Raymond M Masengi mengatakan, jika pihaknya sudah mulai melakukan koordinasi dengan stakeholder dan pemerintah yang ada untuk mengerahkan semua kekuatan, terlebih untuk di Kalbar sudah ada ditemukan titik api. 

"Sehingga, dengan adanya koordinasi itu dapat dengan segera menanggulangi kebakaran lahan agar tidak semakin meluas," katanya. 

Diapun selalu mengimbau kepada masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran dengan cara di sengaja. "Seperti membuka lahan dengan cara dibakar, membuang putung rokok sembarangan maupun membuat titik api dekat lahan atau hutan yang mudah terbakar," ujarnya. 

Jika masih ditemukan hal tersebut, maka pihaknya pun tak segan-segan untuk melakukan penindakan. Sementara itu, Kepala Seksi Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Singkawang, Jayadi mengatakan, jika pihaknya sudah mengeluarkan imbauan yang ditujukan ke masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran secara sembarangan khususnya di musim panas sekarang ini. 

"Imbauan yang dikeluarkan adalah dalam rangka pengurangan risiko bencana alam khususnya kebakaran hutan dan lahan serta kabut asap," katanya. 

Dia mengingatkan ke masyarakat, untuk menghentikan kegiatan bersih-bersih lahan dan kebun dengan cara di bakar. 

Karena, pembakaran hutan dan lahan secara sengaja, dapat diancam hukuman 10 tahun dan denda sebesar Rp10 miliar, sebagaimana diatur dalam UU No.41 tahun 1999 tentang kehutanan, UU No.32 tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup dan UU No.39 tahun 2014 tentang perkebunan. 

"Untuk itu mari kita jaga alam kita dan mari jaga kearifan lokal," ajaknya. 

Hot Spot di Sadaniang

Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mempawah menemukan titik api (hot spot) di Kecamatan Sadaniang. Petugas pun bergegas ke lokasi untuk memadamkan kobakaran api. Petugas menduga, kasus kebakaran hutan dan lahan itu akibat ulah pemiliknya.

Kepala Bidang Penanggulangan Bencana, BPBD Kabupaten Mempawah, Didik Sudarmanto membenarkan temuan hotspot tersebut. Menurut Didik, pihaknya mendapatkan informasi titik api itu dari pantauan satelit BMKG.

 “Dari pengamatan satelit, titik api tersebut berada di Desa Pentek, Kecamatan Sadaniang. Dari Kota Mempawah berjarak sekitar 1 jam perjalanan darat. Tepatnya di koordinat 109.1510-0.5070 dan 109.130-0.5057,” ungkap Didik, kemarin.

Dari penelusurannya, lanjut Didik, pihaknya mendapati lahan yang terbakar itu merupakan milik warga setempat yang ditanami pohon pisang. Namun, belakangan ini pohon pisang tersebut telah ditebang oleh pemiliknya dan rencananya akan ditanami jagung.

 “Kemungkinan si pemilik lahan ini melakukan aktivitas pembersihan lahannya dengan cara dibakar. Namun, si pemilik lengah dan tidak cermat dalam menjaga api hingga menyebar dan membakar lahan-lahan disekitarnya,” pendapat Didik.

Akibatnya, lanjut Didik, kobaran api semakin meluas dan menghanguskan lahan lainya. Diperkirakan luas lahan yang sudah terbakar mencapai 2 hektare. Dan hingga kini, petugas masih berupaya memadamkan titik api.

 “Sejak kemarin, petugas BPBD dibantu TNI/Polri sudah berada dilokasi untuk memadamkan kobakaran api. Mudah-mudahan api dapat segera diatasi hingga kebakaran hutan dan lahan ini tidak meluas,” harapnya.

Ditanya kendala pemadaman, Didik menyebut kondisi geografis menjadi permasalahan utamanya. Lokasi titik api yang berada cukup jauh membuat petugas kesulitan untuk menjangkaunya.

 “Lokasi api tidak bisa dijangkau menggunakan kendaraan. Sehingga, petugas harus berjalan kaki dan membawa dua unit mesin pemadam api portable. Jika bisa dilewati mobil pemadam, mungkin lebih mudah mengatasinya,” pendapat Didik.

Karenanya, Didik menghimbau masyarakat agar tidak melakukan aktivitas pembakaran hutan dan lahan dilingkungannya. Kalau pun terpaksa melakukan pembakaran, sebaiknya berkoordinasi dengan petugas setempat. Agar, aktivitas warga dapat diawasi dan dimonitoring oleh petugas dilapangan.

 “Kami akan ajarkan warga tentang cara-cara yang tepat dan benar untuk menjaga agar api tidak meluas. Jangan ragu untuk berkonsultasi dan melaporkan aktivitasnya kepada petugas. Kami akan membantu masyarakat,” tukasnya. (wah/har)

Berita Terkait