Lagi, Satu Orangutan Diselamatkan di Area Perkebunan

Lagi, Satu Orangutan Diselamatkan di Area Perkebunan

  Selasa, 31 July 2018 10:58
EVAKUASI: Petugas sedang memberikan susu kepada bayi orangutan yang dievakuasi dari kebun sawit di Tanjung Pasar, Kecamatan Muara Pawan, kemarin. AHMAD SOFI/PONTIANAK POST

Berita Terkait

Masih Bayi, Diberi Nama Rahman, Terpisah dari Induknya

International Animal Rescue (IAR) Indonesia bekerja sama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Ketapang menerima dan mengevakuasi satu bayi orangutan pada Jumat (27/7). Pongo pygmaeus itu ditemukan seorang pekerja di lahan perkebunan sawit di Desa Tanjung Pasar, Kecamatan Muara Pawan, pada Kamis (26/7).

BAYI orangutan jantan berusia sekitar satu tahun ini ditemukan oleh Rahman, di kebun sawit yang digarapnya. Dia mengaku menemukan orangutan ini menangis sendirian di dalam semak-semak. Rahman melaporkan penemuannya ini ke manager kebun dan diminta untuk membiarkannya terlebih dulu. Manager kebun beralasan bahwa ada kemungkinan induk orangutan akan datang mengambil orangutan.

Menurut Rahman, induk anak orangutan ini sudah berada di kawasan kebun sawit sejak 2 bulan lalu. Bayi orangutan ini akhirnya dilaporkan ke IAR Indonesia, setelah Rahman menemukan orangutan ini di tempat yang sama pada keesokan harinya. Tim langsung melakukan evakuasi. Kondisi bayi orangutan tersebut mengalami dehidrasi ringan. 

Orangutan tersebut kemudian dibawa ke pusat penyelamatan dan konservasi orangutan IAR Indonesia di Ketapang, untuk mejalani pemeriksaan dan perawatan lebih lanjut. Seperti bayi orangutan lainnya yang juga kehilangan induk pada usia yang masih sangat muda, bayi orangutan yang diberi nama Rahman ini akan menjalani proses rehabilitasi yang panjang di IAR Indonesia.

Rahman akan mempelajari kemampuan dasar hidup di alam bebas sebagai orangutan. Banyak hal yang perlu dipelajari seperti memanjat, mencari makan, dan membuat sarang. Kemampuan dasar ini mutlak harus dikuasai sebelum primata-primata ini bisa dikembalikan ke habitatnya.

Kepala BKSDA Kalbar, Sadtata Noor, mengatakan, banyaknya kegiatan pembukaan lahan membuat orangutan terfragmantasi hingga sulit memperoleh makanan. Akibatnya, dia menambahkan, banyak orangutan yang masuk ke area aktifitas manusia. "Sinergitas antara pihak pemerintah, masyarakat, hingga private sector perlu kita jalin dengan baik, agar kelestarian satwa liar tetap terjaga," katanya.

Ketua Program IAR Indonesia, Tantyo Bangun, mengungkapkan populasi orangutan sekitar 80 persen berada di luar daerah konservasi, seperti kebun dan hutan produksi. Menurutnya, diperlukan partisipasi semua pihak agar populasi orangutan dapat terkelola dengan baik. Caranya, dikatakan dia, adalah dengan menjaga hutan yang tersisa dan menciptakan koridor satwa liar, sehingga peristiwa terlantarnya bayi orangutan ini dapat dihindari. (afi)

Berita Terkait