Lagi, Malaysia Deportasi TKI Bermasalah, 44 Orang dari Kalbar

Lagi, Malaysia Deportasi TKI Bermasalah, 44 Orang dari Kalbar

  Minggu, 9 December 2018 08:50
TKI BERMASALAH: Sekitar 150 pekerja imigran Indonesia yang dideportasi pihak Imigrasi Malaysia, saat tiba di Dinas Sosial Kalimantan Barat, Jumat (7/12) malam. Dari jumlah tersebut, 44 di antaranya merupakan warga Kalbar. SIGIT ADRIYANTO/PONTIANAK POST

Berita Terkait

150 Pekerja, 44 Orang dari Kalbar

Sebanyak 150 orang pekerja imigran Indonesia yang bermasalah resmi dideportasi oleh pihak Imigrasi Malaysia, Jumat (7/12). Dari angka total tersebut, ada sekitar 44 nama yang merupakan warga Kalimantan Barat (Kalbar), dan sisanya warga luar daerah Kalbar.

SIGIT ADRIYANTO, Pontianak

SEBANYAK 150 pekerja imigran ini akan dipulangkan ke daerah masing-masing. Mereka diantar dari perbatasan Entikong, Kabupaten Sanggau sejak pukul 14.30 WIB. Mereka tiba di kantor Dinas Sosial (Dinsos) Provinsi Kalbar sekitar pukul 21.06 WIB. 

Dari hasil pantauan Pontianak Post, para pekerja ini langsung menjalani pendataan saat tiba di Dinsos. Mereka didata oleh pihak Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI) Pontianak.

Andi Kusumu Irfandi, kepala Seksi Perlindungan dan Pemberdayaan BP3TKI Pontianak menjelaskan jika kebanyakan TKI ini dipulangkan karena tidak mempunyai dokumen lengkap. Sebut dia, ada beberapa yang tidak memiliki paspor, tidak memiliki surat izin kerja, dan ada juga yang masuk ke Malaysia dengan cara ilegal. 

"Rata-rata mereka dipulangkan karena dokumennya tidak lengkap. Tapi ada juga yang lengkap, namun sudah (habis) izin masa berlakunya, dan tidak diperpanjang. Hal tersebut juga menjadi alasan mereka dipulangkan," kata Andi saat ditemui di Dinsos, malam itu.

Dia juga mengatakan, untuk tindak lanjut terhadap TKI yang dideportasi ini, BP3TKI hanya bertindak sebagai yang memfasilitasi kepulangan dari Entikong ke Pontianak. Untuk selanjutnya para pekerja bermasalah ini akan diserahkan merekak kepada pihak Dinsos untuk ditindaklanjuti. Kemungkinan, menurut dia, akan dipulangkan ke kampung halaman masing-masing dalam waktu dekat.

"Disini tugas kita hanya memfasilitasi mereka dari Entikong sampai Pontianak, seperti transportasi dan juga konsumsi. Selebihnya, kita serahkan ke Dinas Sosial Kalbar untuk ditindaklanjuti," paparnya.

Terkait dengan maraknya pendeportasian TKI belakangan ini, Andi mengatakan jika hal ini disebabkan karena masih maraknya agen ilegal yang memasukkan pekerja imigran Indonesia tanpa dokumen lengkap. Tentunya, menurut dia, hal ini yang membuat suatu waktu jika ada TKI yang ketahuan, mereka akan langsung dipulangkan.

Sementara itu, Hasri, salah satu TKI asal Makassar, Sulawesi Selatan, menjelaskan mengenai perihal dipulangkannya dia ke Indonesia. Alasannya karena dia tidak memiliki paspor saat diperiksa. TKI yang bekerja di salah satu perusahaan perkebunan kelapa sawit di Malaysia ini mengatakan, dia sudah dua kali pindah tempat kerja selama di negeri Jiran tersebut.

"Di Malaysia, saya bekerja di dua perusahaan dan paspor saya tertahan di perusahaan tempat pertama bekerja. Yang namanya kerja pasti mencari pendapatan yang tinggi, maka dari itu saya lari dari perusahaan pertama dan pindah ke perusahaan kedua. Konsekuensinya ya paspor saya ditahan oleh perusahaan pertama tempat saya bekerja," ungkapnya.

Dia mengungkapkan alasannya kepindahannya karena faktor gaji yang ditawarkan perusahaan perkebunan kelapa sawit kedua yang sangat menggiurkan. Hal tersebut yang membuat ia lari dari perusahaan satu ke perusahaan kedua.

"Kalau di tempat pertama, saya cuma dibayar 300 ringgit, kalau di tempat kedua saya bisa dibayar sampai 2 ribu, bahkan 3 ribu ringgit," terangnya.

Hasri menambahkan, saat ketahuan tidak memegang paspor ketika bekerja, dia langsung dimasukkan ke dalam penjara Imigrasi selama kurang lebih 4 bulan. Baru setelah itu, ia diperbolehkan keluar dan langsung dipulangkan ke Indonesia melalui perbatasan Entikong. Dia juga berkeinginan untuk kembali bekerja di Malaysia suatu saat nanti, mengingat pendapatan di sana cukup besar.

"Kalau ada jalan ke sana lagi saya pasti mau kembali ke Malaysia. Tapi untuk sekarang saya akan mematuhi aturan, dan menjalani prosesnya. Baru kemudian mengurus paspor, dan dokumen lainnya untuk memenuhi syarat kerja di sana," tutupnya. (*)

Berita Terkait