Ladang Berpindah dan Pembakaran Lahan: Satu Solusi Meminimalisasi Kabut Asap

Ladang Berpindah dan Pembakaran Lahan: Satu Solusi Meminimalisasi Kabut Asap

  Selasa, 6 September 2016 10:05   1

Oleh: Hermansyah

 

Kabut asap menjadi momok tahunan bagi masyarakat Kalimantan Barat dan beberapa provinsi lain di Indonesia. Bencana ini telah menumbulkan dampak yang merugikan bukan hanya terhadap kesehatan tetapi juga terhadap mobilitas masyarakat yang tentu saja sangat berimbas pada ekonomi. Berbagai analisis mengenai penyebabnya. Berbagai tudingan muncul mengenai pihak yang bertanggung jawab. Salah satunya yang dianggap bertanggung jawab terhadap bencana tersebut adalah para petani yang menanam padi di ladang yang mengolah tanah dengan sistem tebas, tebang dan bakar.

Penulis tidak akan nmelibatkan diri dalam kontoversi mengenai siapa pihak yang paling bertanggung jawab. Namun melalui tulisan sederhana ini, penulis akan memberikan sumbang saran yang mungkin bermanfaat memperbaiki keadaan.

Kegiatan berladang/berhuma merupakan kegiatan yang penting bagi masyarakat pedalaman Kalimantan Barat. Kegiatan ini banyak memakan waktu. Dalam setahun kegiatan berladang memerlukan waktu 6-9 bulan. Kegiatan berhuma umumnya dimulai sekitar bulan Mei dan berakhir bulan Januari. Kegiatan pertama adalah “mencari tanah.” Kegiatan ini merupakan kegiatan memeriksa dan meninjau beberapa tempat yang direncanakan untuk dijadikan ladang. Bila dirasa sesuai dan tidak ada “pertanda”  yang tidak baik maka diikuti dengan tahap berikutnya yakni Menebas. Kegiatan ini berlangsung sekitar pada bulan Mei atau Juni. Menebas, adalah kegiatan menebas rumput di sela-sela pohon besar yang terdapat di tanah yang akan dijadikan ladang/huma. Dalam dua puluh tahun terakhir hapir tidak ada pembukaan lahan baru untuk berladang. Yang ada adalah mereka menggunakan lahan yang digunakan tahun sebelumnya atau beberepa tahun sebelumnya. Bahkan untuk tanah yang tidak subur lagi untuk menanam padi akan di jadikan sebagai lahan kebun tanaman keras seperti karet dan sejenisnya. Sebaliknya kebun karet yang sudah tua dan tidak produktif akan dijadikan oleh mereka sebagai ladang sebelum ditanami tumbuhan keras kembali.

Setelah selesai menebas, kegiatan berikutnya adalah menebang, yaitu menebang pohon-pohon kayu. Kegiatan ini hanya dilakukan pada tanah baru/hutan—dan ini sudah sangat jarang—atau  bekas ladang yang sudah agak lama atau  kebun yang sudah tua. Setelah ditebas dan ditebang,  tanah dibiarkan selama lebih kurang sebulan menunggu kayu dan rumput menjadi kering sebelum kegiatan berikutnya.

Setelah kayu dan rumput kering kegiatan yang dilakukan selanjutnya adalah  membakar. Jika lahan tersebut berdekatan dengan hutan atau kebun, sebelum dibakar terlebih dahulu tanah membersihkan rumput-rumput dan kayu-kayu kering selebar 3-5 meter di tanah yang berbatasan dengan hutan atau kebun supaya ketika membakar, apinya tidak menjalar ke hutan atau kebun tersebut. Biasanya juga sebelum membakar pemilik tanah akan memberitahu waktu membakar kepada pemilik kebun lain untuk sama-sama menjaga agar apinya tidak menjalar. Biasanya mereka yang diberitahu berladang di satu kawasan bersama-sama membakarnya. Kegiatan membakar ladang ini umumnya hanya berlangsung satu hari.

Pada kegiatan yang sudah berlangsung sejak ratusan tahun yang lalu, atau sejak masyarakat Kalimantan Barat mengenat teknologi pertanian padi, oleh sebagian orang dituduh sebagai pihak yang bertanggung jawab terhadap bencana kabut asap yang kerap melanda provinsi ini dalam beberapa tahun terakhir. Pembakaran lahan mereka lakukan karena abu hasil pembakakan akan bermanfaat untuk menyuburkan tanah.  Sampai hari ini masyarakat berladang tidak mengenal pupuk untuk menyuburkan tanah. Selain itu, mereka juga belum mengenal teknologi pembersihan lahan dengan cara lain.

Kebiasan yang sudah mengakar dan berkaitan dengan sumber penghidupan masyarakat tentu tidak mudah dengan serta merta untuk diubah. Oleh karena itu, pihak-pihak yang berkepentingan harus mencarikan solusi. Di antara upaya yang dapat dilakukan antara lain dengan beberapa cara seperti berikut:

Pertama, memperkecil area pembakaran. Hal ini dapat dilakukan dengan melokalisasi area ladang yang boleh dibakar. Misalnya, bagian ladang yang boleh dibakar hanya seperempat atau bahkan hanya sepuluh persen saja dari kawasan ladang. Petani akan menumpuk seluruh material, terutama kayu yang agak besar pada area terbatas itu dilakukan pembakaran. Tentu untuk melakukan ini diperlukan keterlibatan semua pihak terutama aparat desa dan pemangku adat untuk melakukan pengawasan dengan supervisi dari aparat kecamatan dan kepolisian.

Kedua, mengenalkan teknologi mengolah rumput dan dedaunan menjadi pupuk. Beberapa  waktu yang lalu kami memberikan pendampingan kepada masyarakat untuk berlatih kepada ahli pertanian hortikultura. Kebetulan kami bekerjasama dengan lembaga swadaya yang mendatangkan pelatih ahli tanah dari Yogyakarta. Ternyata pengolahan rumput dan daun dengan perlakuan yang sederhana dengan menambahkan kapur dan dedak menjadi pupuk sungguh akan mendatangkan hasil yang sangat menguntungkan bagi petani. Jika teknologi sedrhana ini diaplikasikan oleh petani kita tentu mereka tidak perlu lagi membakar lahannya. Untuk melakukan hal ini tentu memerlukan advokasi dan pendampingan pada masyarakat. Karenanya masyarakat memerlukan pelatihan dan pendapingan dari para penyuluh pertanian. Jika ini kita usahakan secara serius bukan tidak mungkin dalam beberapa tahun ke depan bencana kabut asap akan berkurang atau bahan tidak terulang dan tentu saja hasil pertanian para petani ladang akan meningkat. Semoga.