Kurikulum Khusus Pendidikan Kearifan Lokal

Kurikulum Khusus Pendidikan Kearifan Lokal

  Minggu, 28 Agustus 2016 10:31   2,351

Oleh: Agustinus, S.S.

WACANA baru yang muncul di jagat pendidikan kita sekarang ini adalah pentingnya kurikulum yang harus menampung kearifan lokal dan tradisi lokal setempat. Kecerdasan lokal dieksplorasi dan dikembangkan sehingga potensi para siswa diangkat. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bersama Aliansi Adat Nusantara dan komunitas adat setempat memformulasikan kurikulum khusus. 

Bagi penulis sebagai guru, pemaknaan terhadap kearifan lokal dalam dunia pendidikan masih sangat kurang. Ada istilah muatan lokal dalam struktur kurikulum pendidikan, tetapi pemaknaannya sangat formal karena muatan lokal kurang mengeksporasi kearifan lokal. Muatan lokal hanya sebatas bahasa daerah dan tari daerah yang diajarkan kepada siswa. Tantangan dunia pendidikan sangatlah kompleks. Apalagi jika dikaitkan dengan kemajuan global di bidang sains dan teknologi, nilai-nilai lokal mulai memudar dan ditinggalkan. Karena itu eksplorasi terhadap kekayaan luhur budaya bangsa sangat perlu untuk dilakukan.

Kearifan lokal sesungguhnya mengandung banyak sekali keteladanan dan kebijaksanaan hidup. Pentingnya kearifan lokal dalam pendidikan kita secara luas adalah bagian dari upaya meningkatkan ketahanan nasional kita sebagai sebuah bangsa. Budaya nusantara yang plural dan dinamis merupakan sumber kearifan lokal yang tidak akan mati, karena semuanya merupakan kenyataan  hidup (living reality) yang tidak dapat dihindari.

Penulis sendiri merasakan, derasnya arus globalisasi, modernisasi dan ketatnya puritanisme dikhawatirkan dapat mengakibatkan terkikisnya rasa kecintaan terhadap kebudayaan lokal. Sehingga kebudayaan lokal yang merupakan warisan leluhur terinjak-injak oleh budaya asing, tereliminasi di kandangnya sendiri dan terlupakan oleh para pewarisnya, bahkan banyak pemuda yang tak mengenali budaya daerahnya sendiri. Siswa cenderung lebih bangga dengan karya-karya asing, dan gaya hidup yang kebarat-baratan dibandingkan dengan kebudayaan lokal di daerah mereka sendiri. Slogan “aku cinta produk lokal. aku cinta buatan Indonesia” sepertinya hanya menjadi ucapan belaka, tanpa ada aplikasi nyata yang mendukung pernyataan tersebut. Penggunaan bahasa asing di media massa dan media elektronik bukan tidak mungkin menyebabkan kecintaan pada nilai budayalokal perlahan memudar. Padahal, bahasa sebagai alat dalam menyampaikan pembelajaran sangat besar pengaruhnya terhadap pembentukan karakter pemuda. Tidak ada lagi tradisi yang seharusnya terwariskan dari generasi sebelumnya. Modernisasi mengikis budaya lokal menjadi kebarat-baratan, sedangkan puritanisme sering menganggap budaya sebagai praktik sinkretis yang harus dihindari. 

Menurut penulis, sepanjang tidak bertentangan dengan norma, budaya lokal harus selalu dipertahankan untuk memperkuat karakter anak bangsa. Padahal, jika kita memahami, kebudayaan lokal di daerah tidak kalah saing dengan budaya-budaya asing yang belum kita kenal. Negara asing saja mau berselisih untuk mengakui budaya kita. Bukankah seharusnya kita bangga dengan budaya lokal yang telah diwariskan kepada kita generasi pelurus perjuangan bangsa? Dengan keadaan yang seperti ini perlu ditanamkan nilai-nilai nasionalisme kepada para pemuda untuk meningkatkan kecintaan pemuda terhadap kebudayaan lokal. Maka, sangat diperlukan langkah strategis untuk meningkatkan rasa cinta dan peduli terhadap kearifan budaya lokal kepada para peserta didik.

Kebudayaan lokal merupakan kebudayaan yang sangat dijunjung tinggi oleh masyarakat adat. Namun yang terjadi pada peserta didik sangat berbeda dengan apa yang kita pahami tentang kebudayaan lokal, bahkan kebudayaan itu sudah terkikis dan tergantikan oleh budaya asing yang sama sekali tidak kita pahami.

Agar eksistensi budaya tetap kukuh, maka kepada generasi penerus dan pelurus perjuangan bangsa perlu ditanamkan rasa cinta akan kebudayaan lokal khususnya di daerah. Salah satu cara yang dapat ditempuh di sekolah adalah dengan cara mengintegrasikan nilai-nilai kearifan budaya lokal dalam proses pembelajaran, ekstra kurikuler, atau kegiatan kesiswaan di sekolah. Misalnya dengan mengaplikasikan secara optimal Pendidikan Karakter Berbasis Kearifan Budaya Lokal.

Selain itu, contoh implementasi kecil yang dapat kita realisasikan di sekolah misalnya dengan mengadakan kegiatan-kegiatan kesiswaan yang menekankan pada pengenalan budaya lokal yang isi dan media penyampaiannya dikaitkan dengan lingkungan sosial dan lingkungan budaya serta kebutuhan pembangunan daerah setempat yang perlu diajarkan kepada para pemuda. Pengadaan sanggar seni budaya di sekolah-sekolah sebagai sarana merealisasikan bakat juga sebagai hiburan para pelajar, juga dipandang perlu untuk meningkatkan pengetahuan dan kecintaan para pemuda pada kebudayaan lokal di daerahnya sendiri. Permainan-permainan tradisional yang hampir punah juga sebaiknya diekspos kembali.

Permainan Pangka Gasing, misalnya. Sebagai permainan tradisional, gasing dapat membawa banyak manfaat dan perlu dilestarikan karena mengandung nilai sejarah, dapat dijadikan simbol atau maskot daerah, dijadikan cabang olahraga yang dapat diukur dengan skor dan prestasi dan mengandung nilai seni. Dan masih banyak lagi permainan-permainan tradisional yang mengandung unsur kekompakan tim, kejujuran, dan mengolah otak selain berfungsi sebagai hiburan juga untuk menanamkan kecintaan pelajar pada budaya lokal di daerah. Ada juga lomba menganyam, menenun, menyumpit dsb yang bisa menjadi perekat siswa untuk mencintai kebudayaan Indonesia.

Selain itu, penggunaan bahasa lokal dipandang perlu diaplikasikan paling tidak satu hari dalam enam hari proses pembelajaran di sekolah. Disamping itu, diharapkan kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler berbasis kebudayaan lokal mulai diadakan di sekolah-sekolah. Kegiatan seperti perlombaan majalah dinding sekolah, dengan isi yang menekankan pada pengenalan budaya lokal, lomba cerdas cermat antar pelajar mengenai lingkungan sosial dan lingkungan budaya serta kebutuhan pembangunan daerah setempat, dan sebagainya.

Contoh implementasi lainnya yang dapat kita terapkan di luar sekolah adalah dengan aktif mengadakan seminar (workshop) tentang pendidikan karakter dan kearifan budaya lokal kepada para pemuda. Tentunya serangkaian kegiatan tersebut dapat dilaksanakan dengan metode yang sesuai dengan gaya pemuda masa kini agar lebih menarik dan terkesan tidak kuno. Pendirian komunitas pemuda peduli budaya juga dapat menjadi inovasi dan memberikan motivasi bagi para pemuda dalam menerapkan pendidikan karakter berbasis kearifan budaya lokal. Disamping itu, tradisi-tradisi yang menekankan pada kegotong royongan dianggap perlu diaplikasikan dan disisipkan pada kegiatan-kegiatan kesiswaan di sekolah.

Oleh karena itu, penulis sangat sepakat dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Nona Roikhwanphut Mungmachon pada tahun 2012 dengan judul “Knowledge and Local Wisdom: Community Treasure”, menunjukkan bahwa pendidikan yang berlangsung hingga saat ini masih mengabaikan pentingnya kearifan lokal sebagai akibat globalisasi yang hanya berfokus pada pertumbuhan ekonomi. Oleh karena itu, pelaksana pendidikan harus mengintegrasikan kearifan lokal dengan pengetahuan yang dipelajari oleh peserta didik, sehingga diperoleh hasil pembelajaran yang berkontribusi terhadap lingkungan sosial mereka.

Akhir kata penulis, sudah saatnya pemerintah dalam hal ini Kemdikbud segera merancang atau mendesain sebuah kurikulum khusus untuk kearifan lokal di sekolah agar para peserta didik kita bisa menjaga dan melestarikan budaya daerahnya sebagai sebuah entitas kebudayaan yang hidup. Semoga***

(Guru/Pendidik SMP & SMA Santo Fransiskus  Asisi Pontianak, Kalimantan Barat)