Kuli Angkut Pasir, Sekarung Hanya Dibayar Rp300

Kuli Angkut Pasir, Sekarung Hanya Dibayar Rp300

  Selasa, 18 September 2018 10:00
ANGKUT PASIR: Patina mengangkut pasir untuk meringankan beban keluarga. Meski hanya dibayar Rp300 untuk sekarung pasir. FAHROZY/PONTIANAKPOST

Berita Terkait

Patina Ibu Rumah Tangga yang Akrab dengan Pekerjaan Berat

Meski perempuan, tetap ingin membantu menafkahi keluarga. Terutama buat anak semata wayangnya. Meskipun pekerjaan tak lazim dilakukan seorang perempuan. Dia menjadi kuli angkut pasir. Rupiah yang dikumpulkan terbilang kecil. Rp300 untuk setiap karung.

Fahrozi & Kartono, SAMBAS

PATINA (30), warga Dusun Tambangan, Desa Puringan, Kecamatan Teluk Keramat, Kabupaten Sambas adalah wanita kuat dalam arti sebenarnya. Ia bekerja sebagai kuli angkut dan mengisi pasir yang membutuhkan otot dan tenaga yang besar.

Wajah berseri serta tetap senyum nampak pada Patina, Senin(17/9). Cucuran keringat membasahi sekujur tubuhnya. Saat bertemu wartawan Pontianak Post , dia tengah mengisi pasir hasil penambangan ke dalam karung.

Pasir yang diangkut Patina  berasal dari aliran Sungai Sambas Kartiasa dan dibawa ke tepi sungai tepatnya Dusun Tambangan tempat ia tinggal. Patina biasanya dibantu oleh anaknya pada saat pulang sekolah ,namun ia lebih sering sering sendirian mengerjakan sebagai kuli angkut dan isi pasir.

Menurut Patina, anaknya  terkadang menghampiri lokasi dimana dirinya mengisi pasir. Jarak rumah yang cukup  dekat dengan 'tempat kerja' membuatnya selalu bersemangat untuk mengumpulkan rupiah demi rupiah untuk membantu suaminya.

Patina  hanya memperoleh upah sebesar Rp 300; untuk mengisi pasir satu karung. Sehari dia bisa mengisi 20 karung bahkan sampai 50 karung, tergantung dengan jumlah karung yang ada. Selain mengisi pasir kedalam karung, ia juga mengisi pasir kedalam pikap atau mobil trak. Hasilnya lumayan, kata dia, menambah pendapatan dari suaminya yang hanya

bekerja merantau di luar daerah.

Patina menyebut pekerjaan yang ia lakukan untuk membantu suami dan untuk jajan anaknya sekolahnya yang masih berada di sekolah Dasar"Paling banyak, saya bisa mengisi 50 karung ," ujar ibu satu anak ini.

"Pagi-pagi anak sudah sekolah, saya ke sini (lokasi tambang pasir).Demi anak biarpun tiga ribu, 5 ribu tetap bersyukur bisa buat jajan anak," tuturnya.

Bagi Patina pekerjaan ini sudah disukainya. Sehingga secara tidak langsung mengurangi rasa lelah saat mengangkut dan mengisi pasir ke dalam karung,  keatas pick up maupun truk. 

"Dulu ya sebagai petani karet berhubung harga karet juga murah saat ada kesempatan mengangkut pasir saya coba-coba. Awalnya capek, bahkan pernah sampai sakit,  tapi sekarang sudah biasa," ceritanya. Sampai kapan bekerja mengisisi dan mengangkut pasir, Patina tidak begitu pasti dapat menentukankanya. Menurut dia, selama ada permintaan  mengisi pasir dirinya akan tetap bekerja demi membantu beban kebutuhan keluarga.(*)

Berita Terkait