Kulari ke Pantai Bukan Cuma untuk Anak

Kulari ke Pantai Bukan Cuma untuk Anak

  Jumat, 13 July 2018 10:00
DI PANTAI: Riri Riza mengarahkan Maisha Kanna (kanan) untuk melakoni pengambilan gambar adegan dengan papan surfing. MILES FOR JAWAPOS

Berita Terkait

Cerita Kuat, Komedi Terjaga

Jika bicara tentang genre film anak dan keluarga, Miles Films punya portofolio luar biasa. Petualangan Sherina (2000) dan Laskar Pelangi (2008) merupakan bukti nyata. Tahun ini dynamic duo Mira Lesmana dan Riri Riza menghadirkan karya terbaru mereka, Kulari ke Pantai, yang tayang sejak 28 Juni lalu. Lagi-lagi, mereka berhasil membuat penonton menikmati setiap adegan.

----

MIRA Lesmana dan Riri Riza menyuguhkan cerita Kulari ke Pantai dalam konsep cerita perjalanan. Film dibuka dengan Sam (Maisha Kanna), bocah perempuan asal Rote, NTT, yang gembira menyambut liburan sekolah. Penonton ikut merasakan excited-nya Sam menyusun road trip berdua dengan sang ibu, Uci (Marsha Timothy). Start dari Jakarta, mereka menyusuri Pulau Jawa menuju G-Land, pantai indah di Banyuwangi, tempat Sam ingin bertemu dengan surfer idola.

Di pesta ulang tahun sang nenek di Jakarta, dia bertemu dengan sepupunya, Happy (Lil’li Latisha). Dua anak perempuan itu digambarkan punya karakter yang jauh berbeda. Sam berjiwa petualang, punya hobi surfing, tomboi, dan senang menikmati alam. Happy tipikal anak kota yang memperhatikan penampilan dan erat dengan gawai.

Rencana Sam untuk road trip berdua saja dengan Mama Uci ”gagal”. Ibu Happy meminta Happy ikut dalam perjalanan itu agar bisa lebih menghargai Sam. Lalu, petualangan pun dimulai. Bertiga, mereka naik mobil ”si pintu biru” yang dikemudikan Mama Uci.

Sepanjang film, penonton serasa ikut menjadi penumpang tak terlihat di mobil itu. Ikut menikmati perjalanan menyusuri Cirebon, Temanggung, Pacitan, Blitar, Bromo, hingga Banyuwangi. Menikmati pemandangan yang luar biasa indah di tiap destinasi, tertawa riang sambil bernyanyi, hingga masuk dalam konflik Sam dan Happy. Sutradara bisa banget mencari lokasi yang tidak hanya indah untuk dikunjungi, tapi juga menggiurkan di kamera.

Kulari ke Pantai merupakan tontonan yang menyenangkan dan bisa dinikmati segala usia. Bukan cuma anak-anak yang dibikin tertawa, penonton remaja, dewasa, maupun yang sudah menjadi orang tua bisa kembali merasakan serunya dunia anak-anak dan mendapatkan sesuatu.

Unsur komedinya juga renyah. ”Dari awal, saya sudah berekspektasi pasti film itu menyenangkan. Tapi, yang tidak disangka adalah komedi yang terjaga dari awal sampai akhir,” ungkap Ernest Prakasa. Menurut komika dan filmmaker tersebut, keterlibatan Arie Kriting sebagai penulis skenario (bersama Mira, Riri, dan Gina S. Noer) sangat terasa. Kelucuan itu terutama ditampilkan lewat karakter Mukhidi (Dodit Mulyanto) dan Dani (Suku_Dani). 

Dani merupakan bule Papua yang menjadi scene-stealer dan membuat mayoritas penonton tiba-tiba berlogat Papua saat keluar dari bioskop. Akting Maisha dan Lil juga layak mendapat pujian. Sebagai pendatang baru, mereka berhasil membawakan peran dan skrip. ”Ini prestasi Mas Riri dan Mbak Mira yang kembali berhasil menemukan bakat baru dan mengasahnya hingga jadi lead dengan akting yang sangat baik,” puji sutradara Susah Sinyal yang kini menggarap film Milly & Mamet itu.

Film tersebut punya cerita yang simpel tapi kuat. Konflik yang disajikan dari sudut pandang anak-anak. Pesan untuk menghargai perbedaan, kebersamaan, dan kedekatan keluarga –yang di masa kini sering terkalahkan oleh gawai.

Hebatnya lagi, menonton film itu lebih dari sekali akan tetap mendapatkan sensasi petualangan yang sama. salah satunya diungkapkan komika Muhadkly Acho. ”Saya sudah nonton dua kali saking gemasnya. Senang sekali karena sudah lama merindukan film anak yang menghangatkan hati,” tuturnya.

Dennis Adhiswara bahkan merasakan efek langsung dari film itu. ”Seminggu setelah nonton, saya langsung ke Bali, cari pantai. Sedahsyat itu efeknya, ya,” kata pemeran Mamet tersebut. Soundtrack karya RAN yang menemani sepanjang film turut berkontribusi besar menggoda penonton untuk segera berlari ke pantai.  

Penyelesaian Konflik yang Rapi

Unsur penting yang membuat film hidup adalah adegan lucu. Walaupun Kulari ke Pantai bukan film komedi, kelucuan tetap ada. Baik dalam bentuk dialog, situasi, maupun adegan. Kelucuan itu pun bisa kena ke semua lapisan usia. 

Menurut dua pemeran utama, Maisha Kanna dan Lil'Li Latisha, lelucon yang nyambung dengan anak-anak pun tersedia. ”Misalnya, waktu adegan saling menjahili,” ujar Maisha. Anak-anak akan lebih mudah terhibur dengan adegan semacam itu. Cara berbicara Mukhidi yang berisik dan teriakannya yang khas juga membuat audiens cilik tertawa. ”Apalagi pas manggil anaknya, si Wahyu. Aku aja sampai ketawa, he he,” kata Lil.

Penonton dewasa diberi ruang untuk tergelak di bagian-bagian yang menampilkan para komika. Selain Dodit, ada Ligwina Hananto yang menjadi Mama Mela, manajer grup dance Ordinary. Gaya bicara khas emak-emak yang cerewet memberikan kelucuan tersendiri. 

Film itu tak sekadar memaparkan konflik. Penyelesaian konflik pun dibungkus cantik. Dialog yang singkat tapi penuh arti dari tim penulis skenario membuat ending semakin berkesan. ”Ceritanya dikemas rapi, nyambung, dan lucu,” komentar Chand Parwez Servia, produser Starvision dan ketua umun Badan Perfilman Indonesia. Dia menambahkan, Kulari ke Pantai berani mengeksplorasi tema traveling dan menyisipkan nilai kekeluargaan di dalamnya. 

Menurut dia, tidak mudah menggabungkan dua tema besar itu. Selama ini, kekeluargaan sering kali hanya berpusat di rumah atau lingkup yang kecil. ”Film itu menawarkan nilai kekeluargaan dengan cara yang asyik,” papar Parwez. (len/nor/c11/jan)

Berita Terkait