KRI Rencong 622 Sudah Tua

KRI Rencong 622 Sudah Tua

  Kamis, 13 September 2018 10:00
SELAMAT: Awak KRI Rencong- 662 berhasil dievakuasi, Selasa (11/9) pagi. KRI Rencong-622 terbakar dan tenggelam saat sedang menggelar operasi BKO Gugus Keamanan Laut (Guskamla) III. ISTIMEWA

Berita Terkait

KSAL Pernah Bertugas di KRI Rencong 

JAKARTA – Terbakar dan tenggelamnya KRI Rencong 622 di Perairan Sorong, Papua Barat Selasa (11/9) bukan sebatas kabar buruk bagi TNI AL sebagai institusi. Melainkan juga berita duka untuk prajurit matra laut yang pernah bertugas di atas kapal perang keluaran 1979 itu. Mantan Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Purnawirawan TNI Bernard Kent Sondakh termasuk salah satu di antaranya. 

Pria yang pernah menduduki posisi tertinggi di TNI AL itu menyampaikan bahwa dirinya ingat betul tugas yang dia emban kala masih berpangkat letnan kolonel. ”Saya komandan di KRI Rencong tahun 1986 sampai 1988,” ungkap dia kemarin (12/9). Saat itu kapal perang yang dibuat di Korea Selatan (Korsel) tersebut menjadi salah satu armada paling canggih milik angkatan laut Indonesia.

Sebagai prajurit TNI AL yang pernah berdinas di atas KRI Rencong 622, Bernard mengaku kaget, sedih, dan prihatin saat mendapat kabar kapal perang itu terbakar kemudian tenggelam. ”Saat saya komandan KRI Rencong. Kami menyabet tiga bendera penghargaan, Itu merupakan kebanggaan,” imbuhnya. ”Lebih bangga lagi, 30 tahun kemudian perwira navigasi saya (di KRI Rencong 622) menjadi KSAL,” tambah dia. 

Perwira navigasi yang dimaksud oleh Bernard tidak lain adalah KSAL Laksamana TNI Siwi Sukma Adji. Sebagai kapal perang yang diandalkan untuk memukul mundur dan mematikan musuh, KRI Rencong 622 memang menjadi tempat yang pas untuk menempa kemampuan perwira angkatan laut. Tidak heran, Bernard dan Siwi juga sempat bertugas sebagai komandan dan awak kapal tersebut. 

Bernard mengakui, selama bertugas di atas KRI Rencong 622 dia lebih banyak berada di lautan ketimbang daratan. Berbagai tugas operasi pernah dilakoni. Baik operasi bersama kapal perang TNI AL maupun latihan bersama kapal perang negara tetangga. Banyak hal berkaitan kapal perang itu masih diingat oleh dirinya. Termasuk di antaranya kebanggaan lantaran menjadi komandan ketika kapal tersebut masih berusia muda. 

Pada zamannya, KRI Rencong 622 sangat ditakuti. Sebab rudal dan meriam yang terpatri di badan kapal tersebut punya kekuatan sangat dahsyat. Karena itu, kapal perang tersebut punya efek gentar tinggi. ”Kalau latihan perang, kami biasa yang menang,” ujarnya. Namun demikian, usia kapal buatan Tacoma Marine Industries ketika terbakar dan tenggelam dua hari lalu memang sudah tidak lagi muda. 

Bernard mengakui bahwa di umur yang hampir menyentuh angka 40 tahun, KRI Rencong 622 sudah tergolong tua. ”Kalau platform-nya itu sudah tua,” imbuhnya. Karena itu, perlu perlakuan khusus kalau kapal sejenis dan seumur KRI Rencong 622 masih akan dipakai. Selain KRI Rencong 622, TNI AL masih punya KRI Mandau 621, KRI Badik 623, dan KRI Keris 624. Seluruhnya kapal cepat rudal (KCR) dengan tipe dan tahun keluaran sama.

Ketua Komisi I DPR Abdul Kharis Almasyhari pun mengakui, sampai saat ini usia alutsista institusi militer tanah air masih menjadi problem. Sebab, banyak alutsista uzur. Meski tidak membeberkan jumlah alutsista uzur yang dia maksud, tegas Kharis menyampaikan bahwa alutsista yang beroperasi saat ini rata-rata berumur tua. ”Lebih banyak yang tua dari pada yang muda,” ungkap dia ketika diwawancari kemarin. 

Opsi meremajakan alutsista tersebut, sambung Kharis, memang ada. Tapi, tidak bisa sembarangan dilakukan. Sebab, anggaran pemerintah tidak mungkin hanya untuk belanja alutsista. ”Harus ada skala prioritas,” imbuhnya. Termasuk di antaranya untuk urusan pengadaan alutsista TNI AL. Dia mengakui wilayah perairan Indonesia sangat luas. Butuh dukungan alutsista yang memadai untuk memastikan seluruh wilayah itu aman.

Karena itu, peremajaan alutsista dilakukan secara bertahap. Sebab, tidak mungkin memaksakan lebih banyak anggaran untuk kebutuhan alutsista dari kebutuhan lainnya. Disamping anggaran yang terbatas, itu dilakukan lantaran ada target yang harus dipenuhi. Yakni rencana strategis (renstra) dan minimum essential force (MEF). ”Memang menjadi PR kita. Karena mau mengejar target MEF juga belum tercapai,” jelasnya.

Insiden terbakar dan tenggelamnya KRI Rencong 622, dipastikan oleh Kharis bakal menjadi bahan evaluasi. Sampai kemarin, dirinya sebagai mitra kerja TNI AL di DPR belum menerima laporan resmi dari matra laut. ”Baru lihat di media saja,” ujarnya. Dia menyebutkan bahwa, dirinya bakal menunggu penyelidikan oleh TNI AL selesai dan dilaporkan. Setelah itu, mereka kan merespons hasil penyelidikan tersebut. 

Sampai kemarin sore, belum ada informasi terbaru dari Markas Besar TNI AL (Mabesal) terkait insiden yang menimpa KRI Rencong 622. Termasuk soal nasib bangkai kapal perang tersebut. Akan diangkut atau tidak dari lokasi tenggelam masih belum ada keputusan. Yang pasti, keputusan itu bakal diambil dengan pertimbangan matang. ”Lihat situasi, di mana, bagaimana, memungkinkan atau tidak, dan seterusnya,” ungkap Kharis. 

Apabila tidak memungkinkan, maka KRI Rencong 622 tidak akan diangkat dari lokasi tenggelam. Yang penting, aset seperti jurnal mesin, jurnal navigasi, jurnal komunikasi sudah diselamatkan. Sebab, saat keputusan peran peninggalan diambil, seluruh awak kapal sudah tahu pasti apa saja yang harus dan tidak harus mereka amankan. Itu sudah standar dan diketahui oleh semua prajurit yang bertugas di atas kapal perang. (syn/)

Berita Terkait