Kredit Mobil dari Hasil Edar Uang Palsu

Kredit Mobil dari Hasil Edar Uang Palsu

  Selasa, 12 February 2019 11:20
UANG PALSU: Kapolda Kalbar Didi Haryono memperlihatkan barang bukti pengungkapan kasus uang palsu beserta pengedarnya, Senin (11/2) di Mapolda Kalbar. HARYADI/PONTIANAKPOST

Berita Terkait

PONTIANAK - Polda Kalbar menahan empat pelaku kasus peredaran uang palsu di Pasar Anjongan, Kabupaten Mempawah. Barang bukti yang diamankan berupa pecahan Rp100 ribu dan Rp50 ribu. Totalnya senilai Rp200 juta. 

Kapolda Kalbar, Irjen Didi Haryono mengatakan, peredaran itu dilaporkan oleh seorang pedagang sepatu di Pasar Anjongan bernama Jainuri. Jainuri mengaku menerima uang palsu dari SM yang membeli dagangannya dengan pecahan uang Rp100 ribu. 

Setelah menerima uang tersebut, datang kerabat Jainuri, yakni Rudi dan memberitahunya terkait uang yang diterimanya dari SM merupakan uang palsu.

“Setelah mengetahui hal tersebut dan memastikan uang yang diterimanya palsu, korban langsung melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Anjongan untuk ditindaklanjuti,” ujar Didi Haryono, Senin (11/2).

Didi melanjutkan, Polsek Anjongan yang dibantu Unit Jarantas Sat Reskrim Polres Mempawah langsung melakukan upaya pengusutan dan pengamanan terhadap SM untuk dimintai keterangan. Saat diinterogasi, SM mengaku uang yang dipakainya dalam transaksi di toko sepatu tersebut palsu yang dibeli dari pelaku lainnya berinisial SR.

“Kami kembangkan lagi dan berhasil mengamankan pelaku yang menjual uang palsu tersebut kepada SM, yakni saudara SR. Kemudian kita interogasi lagi ke pelaku SR, dan dia mengaku mendapatkan uang palsu tersebut dari dua  pelaku yang merupakan pencetaknya langsung yang berinisial HS dan SN,” lanjutnya.

Setelah berhasil ditangkap, kedua pelaku yang diduga merupakan pemalsu atau uang mencetak uang palsu tersebut mengaku telah melakukan pemalsuan uang rupiah dengan pecahan Rp100 ribu dan Rp50 ribu. 

Selain itu, Didi mengungkapkan keempat pelaku yang masing-masing berinisial HN, SR, SN, dan SM diketahui memiliki peran yang berbeda-beda.

"SN ini aktor intelektualnya. Dia menyuruh HN mengedarkan, HN menyuruh SR menjual ke yang perempuan (SM). Mereka memanfaatkan keluguan saudara-saudara kita yang berdagang di pasar tradisional," katanya.

Keempatnya, memiliki hubungan kekerabatan antara satu dengan lain, dan sudah melangsungkan aksi pencetakan uang palsu sudah cukup lama. Uang palsu yang sudah dicetak dan diedarkan, kemudian diedarkan ke pasar tradisional yang ada di tiga wilayah, yakni di Anjongan, Pontianak, dan Kubu Raya.

"Bahkan SN sudah kredit mobil dari uang asli hasil pengembalian uang belanjaan (berupa uang asli) dari uang palsu yang dipakainya untuk transaksi. Hasil dari peredaran uang palsu sudah disita semua. Ada kurang lebih 27 barang bukti yang diamankan," timpalnya.

Adapun barang bukti yang berhasil diamankan dari tangan para pelaku, diantaranya seperti satu unit printer untuk mencetak, dan kertas HVS sebagai bahan untuk pembuatan uang palsu.

 “Pelaku terancam dikenai hukuman dengan pasal 36 ayat (1), pasal 36 ayat (2), pasal 36 ayat (3) Undang-undang Nomor 7 Tahun 2011 tentang mata uang dan Pasal 244 KUHP dan 245 KUHP. Dengan ancamam 15 tahun kurungan penjara dan denda paling banyak Rp 50 Miliyar,” pungkasnya.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kalimantan Barat, Prijono mengungkapkan, tren peredaran uang palsu seperti kasus ini kerap terjadi. Namun, dari data yang dimiliki Bank Indonesia Kalbar dalam lima tahun terakhir, kasus uang palsu terus mengalami penurunan. 

 “Kasus uang palsu yang paling banyak tahun 2016 dan 2017. Pecahan yang  sering dicetak palsu adalah uang yang bernilai pecahan Rp100 ribu dan Rp50 ribu, dengan lembaran terbanyak pecahan Rp100 ribu,” jelasnya.

Prijono melanjutkan, pihaknya akan terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat agar tidak menjadi korban penipuan, salah satunya adalah dengan selalu menggunakan cara 3D (dilihat, diraba, diterawang) disetiap melakukan transaksi jual beli.

“Salah satunya kita juga sudah melakukan kerjasama dengan pihak kepolisian untuk proses pengungkapan dan sosialiasi tentang 3D (dilihat diraba diterawang)," katanya.

Dengan adanya kerjasama bersama pihak kepolisian terkait peredaran uang palsu yang terus menerus terjadi disetiap tahunnya, dirinya mengharapkan penanganan uang palsu ini dapat dituntaskan sampai ke akar-akarnya agar masyarakat tak lagi menjadi korban penipuan.

“Semoga juga dengan ditangkapnya beberapa pelaku pencetak uang palsu ini dapat dijadikan pembelajaran bagi masyarakat lain untuk lebih teliti ketika menerima uang dari orang lain," harapnya.

Ia juga menyampaikan kepada masyarakat yang hendak bertransaksi agar melakukan di tempat yang terjamah dengan orang banyak, bukan di tempat yang sepi dan rawan. Masyarakat juga dimintanya jangan tergesa-gesa percaya dengan lembaran uang yang diterima. Bagi masyarakat yang hendak melakukan transaksi dalam jumlah besar, Prijono juga menyarankan untuk lebih mengutamakan penggunaan cara nontunai agar lebih aman.

 "Lebih baik teliti saat bertransaksi, karena tentu kita tak mau dirugikan jadi harus benar-benar dipastikan semuanya aman. Terlebih kalau jumlahnya besar, lebih baik pakai transfer kan sudah terjamin aman dan pasti asli uang yang dipakai. Jadi tak perlu bimbang dan takut uang yang digunakan palsu,” jelasnya.

Ia juga mengimbau kepada masyarakat untuk selalu waspada, khususnya para pedagang kecil menengah agar tak menjadi korban penerima uang palsu. Sekaligus menegaskan kepada masyarakat agar tak segan-segan melapor kepada pihak yang berwajib ketika mendapati atau melihat perbuatan kejahatan penggunaan uang palsu seperti ini. 

“Asal teliti itu pasti ketahuan. Tidak perlu pakai alat, pakai pancaindera juga bisa dengan 3D itu. Karena uang asli dan palsu pasti jelas bedanya. Kalau ada yang menemukan atau mencurigakan adanya uang palsu segera laporkan kepada yang berwajib. Itu penting bagi semuanya agar tak ada yang menjadi korban penipuan uang palsu lagi kedepannya,” pesannya. (sig)

Berita Terkait