Kratom Masih Primadona

Kratom Masih Primadona

  Jumat, 15 February 2019 11:01
SUMBER REZEKI: Warga Desa Nanga Sambus, Kecamatan Putussibau Utara, Kapuas Hulu sedang memetik daun kratom untuk diolah. Ribuan orang di Kapuas Hulu mengandalkan bisnis daun kratom sebagai sumber pendapatan. ARIEF NUGROHO/PONTIANAK POST

Berita Terkait

Ekspor Capai Ratusan Ton Sebulan

“Pohon uang”, mungkin istilah itu paling cocok untuk menggambarkan tanaman kratom (mitragyna speciosa). Tumbuhan khas Kalimantan Barat ini kian populer dan diminati. Tidak hanya masyarakat lokal tetapi juga warga luar. 

ARIEF NUGROHO, Putussibau

Bisnis daun purik atau kratom masih menggeliat di Kalimantan Barat. Ribuan orang tetap mengandalkan usaha ini sebagai penopang hidup. Terlebih lagi saat harga komoditas sawit dan karet sedang anjlok. Dalam sebulan, diperkirakan ratusan ton bubuk kratom asal Kalbar yang dikirim ke luar negeri.

Ada beberapa negara yang menjadi importir daun ini dalam bentuk powder atau bubuk.  Berdasarkan data Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea Cukai tipe Madya Pabean B Pontianak, sejak 2015 sampai 2018, setidaknya ada empat negara menjadi tujuan ekspor kratom yaitu Amerika Serikat, Canada, Peru dan China. 

Jumlah yang diekspor bervariasi, mulai dari 100 kg, 500 kg, 750 kg, 900 kg, 1 ton hingga 1,5 ton. “Ada empat negara tujuan Amerika, Peru, Canada dan China,” kata Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea Cukai tipe Madya Pabean B Pontianak Dwiyono Widodo saat ditemui di ruang kerjanya, kemarin.

Menurut Widodo, saat ini pengiriman Kratom melalui pelabuhan Dwikora Pontianak sudah menurun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. “Paling banyak di tahun 2015. Namun sekarang sudah sangat berkurang,” ujarnya. Widodo menengarai hal ini karena faktor efisiensi dan efektivitas pengiriman. Jika menggunakan kontainer atau melalui pelabuhan, waktu yang ditempuh cenderung lebih lama. 

“Misalnya negara tujuan Amerika. Dari Pelabuhan Dwikora Pontianak harus ke Singapura dulu. Kemudian dari Singapura oper lagi ke negara tujuan. Waktunya lebih lama. Bisa-bisa memakan waktu satu bulan dan ini tidak efektif,” jelasnya.

Saat ini, kecenderungan para pengirim lebih banyak menggunakan jasa kantor pos. Selain waktu lebih cepat, dan bisa dilakukan secara perorangan. “Kalau di kami kan atas nama PT atau CV, sehingga pengiriman barang pun sedikit lebih ribet. Sedangkan melalui kantor pos, bisa dilakukan secara perorangan dan menggunakan jasa penerbangan, ” bebernya.

Terkait dengan regulasi, kata Widodo, kratom atau purik merupakan bahan bebas yang tidak ditetapkan sebagai bahan larangan ekspor. Hal ini mengacu pada CEISA maupun Indonesia National Single Window (INSW).

“Jika mengacu pada CEISA maupun INSW, kratom bukan merupakan bahan yang ditetapkan sebagai bahan larangan ekspor artinya barang bebas,” terangnya.

Sementara itu, berdasarkan data PT Pos Indonesia (Persero) Cabang Pontianak, Kalbar akhir tahun lalu, pengiriman daun kratom ke luar negeri memang mendominasi. Tujuan pengiriman terbanyak adalah Amerika Serikat. Dari total pengiriman, sekitar 90 persen berupa daun kratom. Sisanya 10 persen adalah pengiriman dokumen dan barang lainnya.

Ebet adalah salah satu pengumpul kratom atau purik dari Desa Nanga Sambus, Kecamatan Putussibau Utara, Kapuas Hulu mengaku mengirim hingga empat ton setiap pekan ke Pontianak.  Produk yang dikirimnya masih berupa remahan. 

“Sekali kirim tiga sampai empat ton, tergantung permintaan,” katanya. Purik dalam bentuk remahan itu akan diproses terlebih dahulu menjadi bubuk atau tepung, sebelum diekspor ke luar negeri. “Sekarang permintaan dari Amerika dan Canada yang paling banyak,” ungkapnya.

Di beberapa negara, penggunaan kratom termasuk ilegal. Negara-negara seperti Malaysia, Thailand, Myanmar dan Australia sudah melarang penggunaan kratom secara bebas. Pada beberapa negara lain seperti Denmark, Jerman, Finlandia, Rumania dan Selandia Baru, penggunaan kratom mulai dikendalikan oleh pemerintah.

Di Indonesia, kratom masih legal ditanam dan diperjualbelikan secara bebas meskipun Badan Narkotika Nasional (BNN) telah merekomendasikan kratom untuk dimasukkan ke dalam kelompok narkotika jenis baru.

Hal ini disebabkan karena kratom belum masuk dalam daftar narkotika jenis baru yang diterbitkan dalam Peraturan Menteri Kesehatan nomor 2 tahun 2017 tentang Perubahan Penggolongan Narkotika. Lantaran belum masuk dalam daftar tersebut, kratom sampai saat ini masih bisa diperjualbelikan bebas tanpa larangan yang mengikat dari pemerintah. 

Disajikan di Kedai Kopi

Selain diekspor ke beberapa negara di dunia, daun kratom atau purik juga biasa dijual bebas di kedai-kedai di pedalaman. Daun purik disajikan dalam bentuk minuman. Salah satunya di kedai di kawasan terminal Kedamin, Kecamatan Putusibau Selatan, Kabupaten Kapuas Hulu. Kedai yang berada tepat di pojokan terminal bus antar kota itu menyajikan daun purik sebagai salah satu menunya selain kopi dan makanan ringan.

Malam itu, Sabtu (9/2), Pontianak Post menyempatkan diri untuk menyambangi kedai tersebut. Seperti laiknya malam minggu pada umumnya, kedai di kawasan terminal itu selalu disesaki pengunjung. Mulai dari masyarakat biasa, pegawai, sopir, sampai dengan aparat.

Sebagai pengunjung baru, saya terlihat kebingungan saat berada di kedai itu. Bangku-bangku yang ada sudah dipenuhi oleh pengunjung. Mereka duduk  saling berhadapan. Sekilas, kedai tersebut tak ubahnya kedai-kedai kopi lain. Di bagian luar tertata meja panjang dan bangku yang panjang pula. 

Di bagian teras depan tersusun satu meja dengan empat buah kursi. Demikian juga di teras samping. Di bagian dalam, terdapat satu meja ukuran sedang dengan empat sampai enam kursi. Ada satu meja kasir yang di atasnya terdapat etalase kaca berisi rokok beragam merek.  Sementara di bagian sudut atau tembok, terdapat rak yang berisi beberapa jenis makanan ringan, mie instan dan lain-lain. 

Di atas masing-masing meja terdapat dua buah teko ukuran besar dan beberapa teko kecil, lengkap dengan alat penyaring. Asap masih mengepul keluar dari mulut sebagian teko-teko itu, menandakan bahwa minuman itu baru saja disajikan. Ada pula teko yang isinya sudah tinggal separuh dan ada juga yang kosong. 

Seorang pemuda bertato tiba-tiba mempersilakan saya duduk bergabung bersamanya. Seperti biasa, setiap kali ke kedai saya tidak pernah memesan minuman yang aneh-aneh. Cukup kopi hitam atau air mineral. Namun, pemuda itu menawarkan minum sembari menuangkan minuman dari teko ke dalam gelas kosong sudah ada di hadapan saya. “Minum purik bang,” kata pemuda itu menawarkan. Mendengar tawaran itu, saya hanya bisa mengangguk, karena kami tidak saling mengenal.

Sambil menunggu pesanan kopi saya datang, tanpa disadari obrolan ringan seputar minuman daun purik ini pun mengalir begitu saja, tanpa ada setting-an. Pria bertato berperawakan kurus itu mengaku sudah lebih dari setahun mengonsumsi daun purik. Ia meminumnya setiap hari. Bahkan, dalam sehari ia bisa menghabiskan belasan gelas. “Enak aja bang, buat santai kaya gini. Ngga ada efeknya,” kata dia. Di kabupaten ini, minuman purik ternyata cukup digemari, meskipun banyak masyarakat yang enggan mengonsumsinya. 

Mendengar tawaran dan ceritanya itu, saya semakin penasaran dan ingin mencobanya. Setahu saya, purik memiliki efek stimulasi dan penghilang rasa sakit. Daun ini juga merangsang bagian reseptor otak sama seperti morfin, meskipun efek yang ditimbulkannya lebih ringan. 

Saya pun lantas mencicipi minuman itu. Rasanya pahit bercampur lengket di lidah. Hampir saja saya muntah. “Rasanya memang pahit, tapi lama-lama juga terbiasa,” kata pemuda itu melihat ekspresi saya.

Menurutnya, untuk menghilangkan rasa pahit, racikan purik bisa dicampur dengan bahan-bahan lain, seperti madu, minuman suplemen, sampai dengan obat pereda batuk. “Kami sudah terbiasa seperti ini. Orang-orang yang tidak tahan pahit, bisa mencampurnya dengan madu, Kratingdaeng, atau obat batuk anak hufagrip,” bebernya.

Bagi sebagian warga di Kapuas Hulu, minum purik dianggap hal biasa. Bahkan ada yang mengatakan, minuman purik sebagai terapi atau obat untuk penyakit tertentu. “Dulu saya minum arak. Sejak minum ini (purik) saya sudah tidak lagi minum arak. Malahan kalau bau arak, saya muntah. Intinya, bagi saya ini terapi,” timpal seorang pria yang belakangan diketahui bernama Andika.

Ia merupakan seorang konsultan proyek. Pria kurus itu mengaku sudah setahun ini mengonsumsi daun purik. Menurutnya, minum purik tidak boleh sembarangan. Ada aturan tak tertulis yang tidak boleh dilanggar. Misalnya, saat minum purik, perut tidak dalam kondisi kosong atau lapar karena bisa mengakibatkan sakit maag. Di samping itu, juga tidak disarankan bagi orang yang menderita darah rendah.

“Kalau minum purik, perut nggak boleh kosong. Apalagi orang itu punya penyakit darah rendah karena Purik ini justru bagus untuk penderita darah tinggi,” jelasnya. Selain itu, kata Andika, mengonsumsi purik juga tidak boleh melebihi dosis. Jika kebanyakan bisa menimbulkan efek samping seperti mual dan kejang, atau bahkan mabuk dengan kondisi badan gemetar.  “Kalau mabuk seperti melayang. Nge-fly. Badan gemetar,” timpal pria bertato tadi.

Minuman purik di kedai ini dijual dengan berbagai takaran. Satu teko besar dijual dengan harga Rp30 ribu. Sedangkan teko kecil dijual dengan harga Rp20 ribu. Cara penyajiannya pun sangat gampang, seperti menyeduh teh.

“Kalau teko ukuran besar biasanya delapan sendok makan. Yang kecil tiga sendok,” kata Putri penjaga kedai. Dalam satu hari, dia biasa menyajikan belasan teko, baik ukuran besar maupun kecil. Tergantung permintaan.

Sementara itu, berdasarkan data dari berbagai sumber, efek kratom pada manusia sebenarnya juga tergantung dari dosis kratom yang diminum dalam sekali minum. Pada dosis rendah, kratom mempunyai efek stimulasi meningkatkan mood. Namun pada efek yang lebih tinggi, kratom dapat memberikan gejala seperti senyawa opiat berupa efek analgesik (pereda nyeri) dan sedasi (penenang). Pada dosis ini, kratom mulai bisa digunakan sebagai narkotika.

Di samping efek tersebut, kratom juga mempunyai efek samping yang tidak diharapkan pada manusia. Biasanya dimulai pada penggunaan kratom dosis tinggi, lebih dari 5gr. Efek ini dapat berupa mual, sulit buang air besar, gangguan tidur, disfungsi seksual, gatal-gatal, berkeringat, mulut kering, rambut rontok hingga gejala ketergantungan.

Penghentian pemberian kratom secara tiba-tiba dari penggunaan rutin sehari-hari dapat menyebabkan gejala putus obat berupa mual, sulit tidur, berdebar-debar, hilang selera makan, gelisah, nyeri badan, perubahan mood hingga tremor.

Penggunaan kratom dalam waktu lama dapat menyebabkan ketergantungan, berat badan turun, hilang nafsu makan, hilang libido dan kehitaman pada wajah dan pipi. Overdosis penggunaan kratom dapat memberikan gejala berupa kejang-kejang, kenaikan tekanan darah, berdebar-debar, halusinasi, koma, muntah hebat, ketakutan, depresi pernapasan hingga kematian. (*)

Berita Terkait