KPU Bantah Debat Cuma Hafalan

KPU Bantah Debat Cuma Hafalan

  Jumat, 11 January 2019 09:46
TIM DEBAT: Tim panelis debat capres (dari kiri) Hikmahanto Juwana, Agus Rahardjo, Bivitri Susanti, Ahmad Taufan Damanik dan Bagir Manan bersama Komisioner KPU, Pramono Ubaid memberikan keterangan pers di Hotel Bidakara, Jakarta, Kamis (10/1). HENDRA EKA/JAWAPOS

Berita Terkait

Dua Moderator Diperkenalkan 

JAKARTA – Komisi Pemilihan Umum membantah bahwa materi debat calon presiden dan wakil presiden hanya diisi oleh pertanyaan yang bersifat pilihan ganda atau hafalan. Meski kisi-kisi sudah disampaikan kepada masing-masing paslon, ia menjamin debat tetap akan berlangsung panas.

Hal ini diungkapkan Komisioner KPU Pramono Ubaid Tanthowi saat rapat persiapan debat bersama lima panelis, kemarin. ’’Ada 20 pertanyaan yang bukan sama sekali multiple choice (pilihan ganda) dan juga bukan menuntut hafalan,’’ jelasnya. Dalam kesempatan ini, KPU juga memperkenalkan dua moderator debat.

Tugas moderator nanti adalah memfasilitasi penyampaian pertanyaan yang telah dipilih paslon secara acak. Ketentuan tentang moderator sudah ada dalam Undang-Undang Pemilu. Yakni, tidak boleh mengomentari dan tidak boleh memberi penilaian. ’’Dan kami harap tidak memotong juga,’’ lanjut pria kelahiran Semarang itu.

Pramono menegaskan, para panelis juga tidak membahas pertanyaan terkait sikap paslon atas kasus tertentu. Sebab, yang ingin digali adalah strategi dan pandangan masing-masing paslon. Namun, masing-masing paslon dipersilakan bila ingin menggunakan contoh tertentu saat memberikan jawaban. ’’Tapi dari daftar pertanyaan kami, kami kira itu terlalu mikro,’’ tuturnya.

Disinggung mengenai kemungkinan saling menjatuhkan antarpaslon, menurut Pramono publiklah yang lebih berhak menilai. Tugas KPU adalah memfasilitasi sesuai dengan yang digariskan oleh UU. Selebihnya, apa yang dilakukan dan disampaikan para paslon menjadi milik publik sepenuhnya.

Adapun dua moderator debat paslon Presiden dan wakil presiden putaran pertama yakni Dwi Novriratri Koesno, atau akrab disapa Ira Koesno, dan jurnalis senior TVRI Imam Priyono. Kemarin, Ira dan Imam juga ikut hadir dalam rapat.

’’Inilah moderator debat,’’ ucap Pramono mengenalkan moderator dengan gestur kocak. Dia mempersilakan wartawan menanyai para moderator secara langsung.

Sementara itu, usai pertemuan tertutup selama nyaris tiga jam, Anggota panelis Bivitri Susanti menjelaskan bahwa rapat tersebut tidak lagi membahas substansi pertanyaan yang akan disampaikan. Melainkan hanya melakukan beberapa penajaman. Sebab, rata-rata bahasa yang digunakan oleh para panelis adalah bahasa hukum. ’’Kami sesuaikan agar nanti para moderator yang bertanya bisa menyampaikan dengan baik, konteksnya mengerti, dan publik juga paham,’’ terangnya.

Bagaimanapun, debat itu adalah kampanye yang tujuannya menyampaikan visi dan misi. Maka kalimat-kalimatnya harus didesain agar mudah dipahami oleh para pemilih. Pihaknya sudah melihat kembali pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan dan moderator membantu mempermudah penyampaiannya.

Ira Koesno merupakan mantan jurnalis SCTV. Dia dikenal publik saat membawakan program berita Liputan 6. Setelah pensiun dari dunia jurnalistik, Ira kini berkarier sebagai konsultan media dan juga public relations. Perempuan 49 tahun itu punya pengalaman menjadi moderator debat paslon saat pilpres 2004 dan pilgub DKI Jakarta 2017.

Sementara, Imam Priyono merupakan jurnalis senior di TVRI. Pada 2016 lalu, Komisi Penyiaran Indonesai mengganjar pria 38 tahun itu dengan penghargaan sebagai penyiar berita terbaik. Mantan Abang Jakarta 2004 tersebut berpengalaman menjadi moderator di sejumlah pilkada. Di antaranya, Pilgub Sumsesl, Sumut, Bali, Pilwali Bandung, dan Pontianak.

Imam membenarkan penjelasan Bivitri mengenai penguatan pertanyaan. Dia diberi kesempatan menguatkan kata per kata serta memilih diksi yang kira-kira mudah dipahami publik dari segala kalangan. ’’Jadi substansi yang bisa jadi begitu rumit, kompleks dan kadang begitu akademis, bisa diartikulasi dengan bahasa publik,’’ jelasnya. (byu)

Berita Terkait