KPPAD Siap Beri Perlindungan Hukum

KPPAD Siap Beri Perlindungan Hukum

  Sabtu, 18 May 2019 11:39
Eka Nurhayati Ishak

Berita Terkait

Komisi Perlindungan dan Pengawasan Anak Daerah (KPPAD) Provinsi Kalbar sangat menyesalkan terjadinya kasus pengeroyokan yang mengakibatkan korban meninggal dunia, yang mana para pelaku dan korban adalah merupakan anak-anak.  Hal itu diungkapkan Ketua KPPAD Provinsi Kalbar, Eka Nurhayati Ishak saat melakukan kunjungan kerja ke Dinas Sosial dan Polres Singkawang, Jumat (17/5). 

"Terlebih Singkawang yang selama ini kami kenal merupakan kota yang sangat humanis. Bahkan untuk Singkawang sendiri, sangat jarang kami terima laporan seperti ini," kata Eka.  Untuk kasus penganiayaan berat yang dapat mengakibatkan hilangnya nyawa korban, JF, bahwa KPPAD Provinsi Kalbar turut mengucapkan bela sungkawa kepada keluarga. 

"Sedangkan untuk para pelaku, kita sudah menemuinya baik keluarga maupun pelaku yang difasilitasi Polres Singkawang, tentunya dalam hal ini kami juga akan melaksanakan UU Perlindungan Anak Nomor 35 tahun 2014, untuk siap berdampingan dengan sistem Peradilan Pidana Anak," ujarnya. 

Mengingat anak sebagai pelaku atau anak yang berhadapan dengan hukum (ABH) maka negara harus memiliki peran di situ guna memberikan perlindungan kepada mereka (pelaku).  "Dari Polres Singkawang juga sudah memberikan PH dan tentunya kami memberikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pihak kepolisian Polres Singkawang yang begitu humanis terhadap proses penyelidikan kasus ini," ungkapnya. 

Dalam proses ini, dirinya menekankan tidak ada yang namanya membela salah satu atau yang benar bisa salah atau yang salah bisa benar. Tentunya semua proses dalam mekanisme penegakan hukum akan diserahkan sepenuhnya kepada Polres Singkawang sebagai penegakan hukum selanjutnya.  "Tetapi dari segi tupoksi kami tentu akan memberikan perlindungan dan pengawasan anak sampai ke Pengadilan nanti," jelasnya. 

Apalagi dari empat anak yang diduga sebagai pelaku pengeroyokan tersebut, satu anak ada yang berusia 13 tahun, maka sesuai UU bahwa anak dibawah umur 14 tahun akan dikembalikan kepada orang tuanya, namun tetap menjalani proses penyidikan sama dengan tiga pelaku lainnya. "Artinya untuk yang satu ini tetap menjalani proses penyidikan tetapi dikenakan wajib lapor," tuturnya. 

Sedangkan untuk proses Konseling Trauma Healing itu akan diberikan secara kontinyue. "Karena kami lihat, mereka ada rasa menyesal dan tidak menyangka, kenapa masalah ini bisa terjadi," ujarnya.  Dia juga menegaskan, bahwa kejadian ini bukan merupakan kasus pembunuhan. Menurutnya, kejadian ini merupakan kenakalan anak remaja yang diluar prediksi. 

"Yang namanya anak-anak ya pastinya beda, kita saja kalau dalam keadaan emosi bisa saja terlibat dengan pancingan emosi yang diluar dari kendali," ungkapnya.  Terlebih mereka (pelaku) ini masih labil, dan mereka juga tidak menyangka kenapa bisa terjadi hal seperti ini. "Yang pastinya kami akan memberikan perlindungan sosial dan hukum sampai kasus ini selesai," jelasnya.  Pada kesempatan yang sama, Kanit PPA Polres Singkawang, IPDA Indah mengatakan, bahwa kasus pengeroyokan hingga menyebabkan korban meninggal dunia terjadi dikarenakan game online. 

"Mereka ini ada permasalahan setahun yang lalu. Tetapi baru kemarin agak memanas yang mereka curahkan melewati Facebook. Ada perkataan seolah-olah menantang untuk ketemuan dimana dengan maksud untuk diselesaikan," katanya.  Selanjutnya, mereka (pelaku dan korban) bertemu di sebuah lokasi. Dalam lokasi ada sembilan orang, hanya saja lima diantaranya tidak ikut memukul.  "Empat orang saja yang melakukan pemukulan kepada korban," ujarnya. 

Menurutnya, korban meninggal dunia karena mengalami luka akibat pukulan. Untuk penanganannya, saat ini masih dalam tahap pemeriksaan Polres Singkawang.  Sementara itu, Wali Kota Singkawang, Tjhai Chui Mie mengaku prihatin atas kejadian ini. "Saya berharap kejadian ini yang pertama dan terakhir kalinya terjadi di Singkawang," katanya. 

Kepada seluruh orang tua diimbau untuk selalu meningkatkan perhatian kepada anak-anaknya. "Orang tua juga diharapkan bisa mengetahui keberadaan anak, pergaulan anak, bersama siapa dan apa saja yang sedang dilakukannya," ujarnya. 

Di zaman teknologi sekarang ini, katanya, orang tua diharapkan bisa mengawasi anak-anaknya dalam bermedia sosial.  "Karena banyak hal yang terjadi jika salah dalam menggunakan media sosial, salah satunya kejadian seperti ini," ungkapnya.  Kedepan, dia pun berharap ada sortir dalam hal berita-berita yang kurang baik. "Seperti tidak bisa dibuka dan sebagainya. Kita harapkan ada kecanggihan seperti itu," jelasnya. (har)

Berita Terkait