Koran Sebagai Media Pendidikan

Koran Sebagai Media Pendidikan

  Selasa, 27 Oktober 2015 09:34

Warkop, Siapa yang tidak kenal dengan tiga aktor kocak yang tergabung dalam klub lawakWarkop, yakni Dono, Kasino, dan Indro. Ketiga tokoh ini pasti masih kuat melekat dalam benak para pecinta film tanah air, terutama karena aksi mereka yang menghibur. Tetapi mungkin tidak banyak yang tahu filosofi apa dibalik pemilihan namaWarkop.Warkop adalah singkatan dari “warung kopi”. Istilah warung kopi sebenarnya mengandung makna politis.

Sebab film ini lahir pada masa rezim otoriter yang berkuasa, di mana semua pendapat dan kritik tidak bisa sembarangan dilayangkan kepada penguasa. Hanya warung kopilah satu-satunya “ruang publik” yang memungkinkan semua orang bebas menyampaikan pendapat dan berbagi ide tanpa diawasi atau dicurigai oleh penguasa.

Sehingga dari warung kopilah lahir banyak gerakan-gerakanyang mencoba melawan penguasa yang sewenang-wenang pada masa itu. Maka, film-film yang dibintangi oleh klub Warkop jika dilihat secara teliti dari judul-judulnya sebenarnya mengandung banyak kritikan bagi penguasa, seperti  Pintar Pintar Bodoh (1980) , IQ Jongkok (1981), Dongkrak Antik (1982), Maju Kena Mundur Kena (1983), Pokoknya Beres (1983), Itu Bisa Diatur (1984), Tahu Diri Dong (1984), Kesempatan Dalam Kesempitan (1985), Gantian Dong (1985), Sama Juga Bohong (1986), Atas Boleh Bawah Boleh (1986), Depan Bisa Belakang Bisa (1987), atau Makin Lama Makin Asyik (1987).Artinya, film warkop sebenarnya menampilkan lawakan yang cerdas, yang sekarang bisa dibandingkan dengan acara StandUpcomedy.

Istilah lain yang bersinonim dengan warung kopi adalah cafe. Cafe sebenarnya adalah pengembangan dari warung kopi yang didesain dengan gaya yang modern. Modernisasi yang diusung oleh cafe ini menarik semakin banyak orang berkumpul untuk sekedar minum-minum sambil ngobrol. Tetapi belakangan ini, sebutan cafe mengalami perubahan makna atau penurunan nilai (peyoratif).

Pada saat ini banyak orang lebih memilih minum kopi di rumah masing-masing. Meskipun demikian, mereka tetap dapat terlibat dalam diskusi atau perbincangan publik, yakni melalui kehadiran koran lokal maupun nasional. Artinya, mereka dapat menikmati hangatnya kopi di pagi hari sambil membaca koran yang kontennya sangat lengkap: berita, iklan, opini, surat pembaca, dan sebagainya. Dengan demikian, kehadiran koran sungguh patut diapresiasi. Maka, koran-koran yang saat ini cukup banyak jenisnya hendaknya semakin selektif dalam menampilkan konten-kontennya. Dengan harapan, apa yang suguhkan oleh koran-koran itu sungguh-sungguh mendidik masyarakat.

Sirilus Hendri Santoso

sirilushendri@yahoo.co.id