Kontrol Emosi, Jauhi Penyakit Hati

Kontrol Emosi, Jauhi Penyakit Hati

  Kamis, 29 November 2018 10:48

Berita Terkait

MIRIS rasanya melihat berita pembunuhan satu keluarga di Bekasi belum lama ini. Terlebih begitu tahu ternyata pelakunya masih satu keluarga. Ya ampun, hanya untuk melampiaskan dendam, seseorang tega membunuh orang lain. Apakah emosi dapat memicu seseorang bertindak agresif hingga tega merenggut nyawa? Apa sebenarnya emosi pasti akan berujung dendam?

Marah dan kesal adalah emosi yang wajar dan lumrah dirasakan manusia. Menurut Dwi S. Purwanti, emosi yang berujung dendam dapat saja terjadi ketika perasaan seseorang terluka dan  merasa tidak bisa melupakan rasa sakit hatinya.

“Orang seperti ini cenderung akan menyimpan rasa sakit dalam hati dan terus di ingatannya. Ketika hal-hal yang menyakitkan muncul lagi dan melukai perasaannya lagi, inilah yang memupuk manifestasi amarah yang berujung pada dendam,” jelas Dwi.

Hal ini erat kaitannya dengan kepribadian seseorang. Seseorang yang sering menarik diri dari lingkungan sosialnya karena rasa percaya diri yang rendah, mudah tersinggung, terlalu peka atau sensitif terhadap kritikan.

“Orang dengan ciri seperti itu cenderung memiliki self esteem yang rendah. Konsep diri yang negatif ini paling mudah untuk terserang penyakit hati yang berujung pada dendam. Ketika penumpukan kekesalan ini berubah menjadi dendam maka tidak jarang orang akan menjadi agresif bahkan ia mau saja untuk membunuh,” tambah psikolog yang merupakan Kepala Bagian Pengembangan, Pembinaan Sumber Daya Manusia & Kepegawaian (PPSDMK)  ini.

Emang sih remaja rentan dengan mood yang nggak stabil tapi bukan berarti nggak bisa dikontrol, kok. Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk menepis emosi dan mencegah dendam. Hal pertama yang perlu dilakukan menurut Dwi adalah mengenali diri sendiri yang sebenarnya. Jika ada pendapat atau kritikan, jangan langsung marah guys! Cobalah untuk merenung dan bertanya pada diri sendiri, ‘apakah aku begitu?’.

Dirimu sendiri adalah orang yang paling jujur dan tidak akan berbohong. Pahami kelemahan diri, untuk dijadikan pengembangan potensi agar menjadi lebih baik. Gunakan kelebihan dari diri untuk dapat membuka peluang sosialisasi yang lebih luas dan bermanfaat.

“Selain itu, sering lah melakukan refleksi terhadap diri sebelum mengintrospeksi diri.  Tingkatkan rasa percaya diri juga penting dengan banyak bergaul. Hal ini bertujuan agar kita dapat melihat suatu masalah dari sudut pandang yang berbeda. Jadikan konsep diri menjadi lebih positif dan memiliki selera humoris,” tambah Dwi.

Kamu juga bisa meredam emosi dengan cara melakukan hal yang kamu sukai, seperti hobi memasak, berenang atau makan makanan enak. Menepis emosi dengan hobi akan membuang aura negatifmu menjadi emosi yang positif.

Jadi, kembali pada pertanyaan awal. Apakah emosi dapat memicu dendam? Jawabannya ada pada dirimu sendiri. Kamu bisa jadi pasien sekaligus dokter untuk masalah penyakit hati ini. Jangan biarkan emosi mengendalikanmu, justru kamu harus pegang kendali penuh untuk emosimu sendiri. Be smart, guys! (dee)

Berita Terkait