Kontribusi Kreatif Orang-Orang Muda untuk Pemilu Adil dan Damai

Kontribusi Kreatif Orang-Orang Muda untuk Pemilu Adil dan Damai

  Minggu, 14 April 2019 09:44
KONTEN KHUSUS: Cania Citta Irlania Vlogger politik ditemui di kantornya di Tebet, Jakarta, Jumat (12/4/19). FEDRIK TARIGAN/ JAWA POS

Berita Terkait

Undang Caleg agar Orang Tak Cuma Terlena dengan Pilpres 

Cania Citta Irlaine membuat konten sekaligus aktif dalam berbagai aksi edukasi politik anak-anak muda. Mencintai politik sejak terlibat dalam tim debat SMA.  

DRIAN BINTANG SURYANTO, Jakarta

PERTANYAAN dan pernyataan kepada Cania Citta Irlaine itu datang dari berbagai orang. Dikirim lewat fitur direct message Instagram miliknya. 

Intinya sama: tentang keputusan mereka untuk golput (golongan putih) alias tidak memilih di pemilu 17 April nanti. Ada yang sudah sangat yakin. Tapi, ada pula yang bertanya atau minta pendapat dari Cania. 

”Jawaban saya sama ke yang nanya tentang golput. Menurut saya, itu tidak make sense,” katanya di Jakarta, kemarin.    

Cania adalah content creator sekaligus influencer politik. Dia satu di antara sederet anak-anak muda yang turut aktif, dengan berbagai cara, mengampanyekan pentingnya para pemilik hak suara untuk datang ke bilik suara. 

Selain rutin ngevlog, perempuan 24 tahun itu aktif dalam beberapa aksi mengedukasi masyarakat terkait politik. Termasuk di gerakan We the Youth. Gerakan itu mendorong anak muda untuk lebih peduli dengan sekitar. 

We the Youth juga mengajak para generasi muda untuk lebih berpartisipasi dan berinisiatif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Salah satunya, dengan turut memberikan suara dalam pemilu.

”Jadi, saya merupakan salah satu influencer yang ikut dibuatkan video untuk mengajak generasi muda untuk nyoblos. Kebetulan waktu jumpa pers (We the Youth) saya juga ikut,” jelas Cania.

Politik mulai diakrabi Cania saat aktif dalam tim debat bahasa Inggris SMA Negeri 6 Depok pada kisaran 2011. Dia masih duduk di kelas X ketika itu. Dan, semakin intens ketika dia berkuliah di Program Studi Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 

Sebelum Pemilu 2019, konten yang dibuat Cania lebih berisi kritik-kritik konstruktif yang ditujukan ke berbagai hal. Tak jarang dia mendapatkan banyak cercaan karena konten-konten tersebut. Bahkan, jumlah dislike di video tersebut beberapa kali lebih banyak ketimbang netizen yang memberikan jempol apresiasi terhadap konten yang dia buat. 

Di mata Cania, itu cermin masyarakat Indonesia yang masih enggan dikritik. Mereka terlalu fanatik atas seseorang atau suatu paham sehingga membuat mereka tidak menggubris fakta yang ada. 

”Ternyata, cara mereka berdemokrasi belum cukup dewasa,” tuturnya.

Tapi, dia tak surut langkah karena itu. Dalam masa Pemilu 2019 ini, dia membuat konten khusus. Cania mengundang beberapa caleg (calon anggota legislatif) yang sedang berlaga menuju kursi DPR. 

Alasannya, sederhana saja, Cania tidak mau masyarakat terlalu terlena terhadap pemilihan presiden (pilpres). Tanpa menyadari, bahwa di 17 April nanti, mereka juga harus memilih perwakilan mereka di legislatif (pileg atau pemilihan legislatif). 

”Ingat, siapa pun presidennya, dia harus tetap bekerja sama dengan parlemen,” jelas perempuan kelahiran Jakarta tersebut.

Karena ada banyak sekali caleg, tentu tak bisa semuanya dia undang. Dia memilih empat di antaranya yang menurutnya memiliki ide yang representatif. Masing-masing datang dari dua koalisi besar yang mengusung kedua pasangan calon presiden dan wakil  

”Justru ini bagus. Saya ingin membuat ini sebagai trigger bagi content creator di beberapa daerah untuk melakukan hal yang sama,” imbuhnya.

Respons yang muncul atas kehadiran para caleg itu beragam. Ester Queen, misalnya, menuliskan komentar di video Cania yang berjudul Rian Ernest: Sistem Harus Meritokratik, Hukum Harus Deformasi, ”Totally agree. Yang jadi leader itu yang kompeten. Persetan dengan gender, agama, udah nikah atau belum, suku apa? Kalau kompeten, maka dia bakal bisa mimpin dengan baik. Udah itu aja.” 

Komentar lain datang dari Wahyu Jo di video Cania yang berjudul Rahayu Saraswati: Lindungi Pekerja Sosial, Hapuskan Kekerasan Seksual, ”Kampanye yang sangat bagus. Kebayang kalau lebih banyak yang seperti ini, milenial bener-bener tertarik sepertinya,” tulisnya.

Menurut Cania, pembuatan konten tentang politik itu justru sebagai lahan gembur di industri kreatif. Belum banyak yang menggarap. 

Padahal, menurut dia, Gen-Z atau generasi yang didefenisikan sebagai mereka yang lahir pada periode 1995–2010 memiliki keingintahuan tinggi. Terutama mereka yang untuk kali pertama punya kesempatan memilih di pemilu tahun ini. 

Tema yang dia angkat pun bukan yang sering diulas di jurnal-jurnal. Melainkan, tema yang sering ditemui di kehidupan sehari-hari masyarakat. Beberapa riset justru dia ambil dari bahan kuliahnya dulu. 

Misalnya, soal kesehatan, ekonomi, dan politik. ”Kalau soal editing, ada tim pengerjaannya sendiri. Tidak sampai sehari kerja paling sudah bisa memproduksi satu video kok,” kata Cania yang bekerja di sebuah media online itu.

Soal golput, Cania selalu menjelaskan, meski secara personal tak setuju, dia tidak pernah menganggapnya sebagai sebuah kesalahan. Golput adalah pilihan yang diambil karena beberapa sebab.

”Terkadang mereka ini golput berdasarkan emosi saja,” tutur anak pertama di antara tiga bersaudara tersebut.

Cania mengajak anak-anak muda untuk aktif terlibat atau minimal memberikan perhatian besar kepada politik. Tidak selalu dengan masuk ke partai politik (parpol) atau menjadi caleg. 

Bisa saja, misalnya, dengan masuk ke LSM (lembaga swadaya masyarakat) yang mendorong pembuatan undang-undang di beberapa sektor. Membuat start-up pun, menurut dia, bisa menjadi bentuk partisipasi generasi milenial untuk berpolitik. 

Mereka mengubah poros kebutuhan yang ada di masyarakat pada umumnya. Itu secara tidak langsung juga mengubah sifat dan kebutuhan masyarakat. ”Sebab, keputusan politik paling besar ada di publik,” katanya. (*/c10/ttg)

Berita Terkait