Konsumsi Pemanis Rendah Kalori

Konsumsi Pemanis Rendah Kalori

  Jumat, 5 Agustus 2016 09:30

Berita Terkait

Pemanis rendah kalori menjadi alternatif bagi mereka yang ingin memberikan rasa manis tanpa menambah jumlah kalori yang banyak. Pemanis ini juga menjadi pilihan bagi konsumen dalam yang menjalani gaya hidup tertentu. Salah satunya bagi mereka yang menderita penurunan kemampuan memanfaatkan glukosa ke dalam sel.

Oleh : Marsita Riandini

Pada orang sehat konsumsi gula penting untuk membantu memenuhi energi. Secara umum gula mengandung energi atau kalori yang akan dipergunakan oleh setiap manusia untuk sumber tenaga dalam aktivitasnya. Direkomendasikan 10 persen energi berasal dari gula

“Misal kecukupan seseorang 2.000 kkal perhari, maka masih diperbolehkan mengonsumsi energi berasal dari gula sebesar 200 kkal, yang jika diterjemahkan ke bahan maka diperbolehkan mengkonsumsi 50 gram gula sehari,” ungkap ahli gizi, Sopiyandi, S.Gz, MPH kepada For Her. 

Dosen jurusan gizi Poltekkes Kemenkes Pontianak ini menjelaskan sumber energi berasal dari karbohidrat, protein dan lemak. Konsumsi harian orang Indonesia 50 hingga 65 persen sumber energi berasal dari karbohidrat, protein 10 sampai 15 persen, dan lemak 20 hingga 30 persen.  Karbohidrat secara umum dibagi dua yakni karbohidrat kompleks seperti makanan pokok, nasi, umbi-umbian, jagung, tepung, gandum, dan karbohidrat sederhana seperti gula. Karbohidrat akan berhubungan dengan kandungan glukosa darah seseorang,” jelas Sopiyandi.

Pada penyakit yang berhubungan dengan penurunan kemampuan memanfaatkan glukosa ke dalam sel, maka bahan makanan yang cepat meningkatkan glukosa darah seperti gula  harus dibatasi. Salah satunya, bagi penyandang diabetes mellitus. Rekomendasi gula sebagai penyumbang energi hanya lima persen perhari. “Penggunaannya hanya dipergunakan sebagai bumbu untuk meningkatkan cita rasa makanan dan penyandang diabetes masih bisa mengkonsumsi makanan sama dengan keluarga lainnya,” saran lulusan Pascasarjana Gizi Kesehatan, Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada ini. 

Pemanis alternatif dapat digunakan sebagai pengganti gula, asal tidak melebihi batas aman  konsumsi harian (Accepted Daily Intake). Pemanis dikelompokkan menjadi pemanis berkalori dan pemanis tak berkalori. 

“Yang termasuk pemanis berkalori adalah gula alkohol dan fruktosa (gula buah).  Gula alkohol antara lain isomalt, lactitol, maltitol,  mannitol, sorbitol dan xylitol,” jelas Sopiyandi. 

Pemanis yang rendah kalori berguna untuk pengendalian gula darah sehingga pada penyandang diabetes melitus akan mudah dikontrol. Dalam penggunaannya, pemanis berkalori perlu diperhitungkan kandungan kalorinya sebagai bagian dari kebutuhan kalori sehari.  

Ia menuturkan dalam memilih pemanis yang rendah kalori dapat melihat label yang ada disetiap kemasan produk. “Fruktosa (gula buah) tidak dianjurkan digunakan pada penyandang diabetes karena efek samping pada lemak darah. Pemanis tak berkalori yang masih dapat digunakan antara  lain aspartam, sakarin, acesulfame potassium, sukralose, dan neotame,” kata dia. **

 

Berita Terkait