Konsen Kembangkan Budaya Tiap-tiap Suku

Konsen Kembangkan Budaya Tiap-tiap Suku

  Senin, 31 December 2018 09:04
TOLERAN AWARD: Bupati Paolus Hadi didampingi Wabup Yohanes Ontot yang juga Ketua DAD Sanggau saat menerima Tolerance Award 2018.

Berita Terkait

Bupati Sanggau Terima Tolerance Award 2018

Gebyar Promoter Tolerance Award 2018 memberikan penghargaan kepada sejumlah pihak yang dianggap berjasa menjaga hubungan toleransi di Kabupaten Sanggau. Acara yang diprakarsai oleh Polres Sanggau digulirkan Sabtu (29/12).

Sugeng, Sanggau

TOLERANCE award 2018 diserahkan langsung oleh Kapolres Sanggau AKBP. Imam Riyadi kepada pihak-pihak yang ditunjuk termasuk juga pemerintah daerah yang dihadiri langsung oleh Bupati Sanggau, Paolus Hadi di Halaman Mapolres Sanggau.

Diberikannya tolerance award kepada Bupati Sanggau dan sejumlah pihak sebagai bentuk rasa sukur atas terpeliharanya Kamtibmas di wilayah hukum Polres Sanggau sekaligus ucapan terima kasih kepada Bupati Paolus Hadi yang telah membuka ruang selebar–lebarnya kepada semua suku dan agama yang ada di Kabupaten Sanggau untuk mempromosikan budaya asalnya.

Tolerance award juga diberikan kepada sejumlah tokoh di Kabupaten Sanggau yang berkontribusi menjaga toleransi dan keberagamam di Kabupaten Sanggau seperti Dewan Adat Dayak, Majelis Adat Budaya Melayu, Majelis Adat Budaya Tionghoa, Ikatan Keluarga Besar Madura, paguyuban dan sejumlah pihak lainnya.

Bupati Paolus Hadi mengaku berterima kasih atas ide-ide brilian yang digagas Kapolres Sanggau. Pemkab Sanggau sangat konsen mengembangkan adat budaya tiap-tiap suku yang ada di Kabupaten Sanggau.

 “Kita punya Festival Budaya Paradje' dari Etnis Melayu, kita punya gawai dayak dari suku dayak, kita punya Cap Go Meh dari saudara-saudara kita Tionghoa, kita punya paguyuban Jawa, Sunda, Batak dan Madura. Kegiatan etnis budaya ini sudah menjadi agenda rutin kita setiap tahun,” ujarnya.

Ia meminta semua pihak dan seluruh elemen masyarakat Sanggau untuk tetap bersatu, menjaga kerukunan dan toleransi karena pada hakikatnya kita semua adalah sama.

 “Jadi jangan sampai kita meributkan hal yang tidak substansi. Kita pernah punya pengalaman pahit pada tahun 1997-1998, untuk beli garam saja susah, padahal baru sebulan, apalagi kalau setahun. Tentu kita tidak mau sejarah itu terulang lagi di tempat kita,” katanya mengingatkan. (*)

Berita Terkait