Komunikasi Dua Arah Jadi Solusi

Komunikasi Dua Arah Jadi Solusi

  Kamis, 2 November 2017 10:00
TERVERIFIKASI: Ketua Umum SPS yang juga founder Jawa Pos Group Dahlan Iskan menyerahkan sertifikat kepada Pemimpin Redaksi Pontianak Post, Heriyanto sebagai media yang telah diverifikasi oleh Dewan Pers, Rabu (1/11) di Surabaya. JPG

Berita Terkait

Bisnis Media Lesu, Koran Tetap Dibutuhkan

SURABAYA – Nasib bisnis pers di masa depan menjadi topik pada  diskusi yang digelar Serikat Pekerja Pers (SPS) di Harris Hotel & Convention, Surabaya, tadi malam (1/11). 

Tiga pelaku dan pengamat media berbicara di forum tersebut. Yakni Presdir PT Jurnalindo Aksara Grafika (penerbit Bisnis Indonesia) Lulu Terianto, Director Product Leader Consumer & Media View Nielsen Australia Brian Christopher, dan Ketua Umum SPS yang juga founder Jawa Pos Group Dahlan Iskan.

Brian mendapat kesempatan pertama berbicara. Dia mengulas kondisi media di Australia. Dia mengakui, media cetak memang mengalami penurunan. Posisinya di bawah media online dan televisi. ‘’Itu realita, dan sekarang saya bertanya mengapa harus koran,’’ kata Christopher di depan anggota SPS, praktisi, dan pengamat media. 

Materi yang dipaparkan Brian tidak menyinggung jalan keluar atas kondisi bisnis media cetak yang kian menurun. Dia justru ingin mendengar alasan-alasan mengapa bisnis koran itu masih harus ada.

Pertanyaan itu djawab oleh Lulu Terianto. Dia mengungkapkan perilaku konsumen media di Australia berbeda dengan Indonesia. Peran digital di Indonesia tidak semaju di Australia. ‘’Di Indonesia, koran dan radio masih dibutuhkan,’’ katanya.

Menurut dia, kondisi bisnis koran yang lesu tak otomatis akan mematikan koran. Semua bergantung pada pelaku bisnis tersebut. ‘”Sebab kualitas adalah kunci untuk bertahan,’’ ucap dia.

Lulu mengatakan, media akan tetap menarik apabila menyajikan komunikasi dua arah. Media sosial selama ini melakukan strategi itu. Dia lantas menyebut Facebook, yang memungkinkan pengguna dan orang lain bisa berkomunikasi dalam sebuah forum. Artinya ada komunikasi dua arah sehingga menarik perhatian. 

Nah, hampir semua media online belum melakukan itu. Lulu yakin, selama komunikasi yang diterapkan media online masih satu arah, umurnya tidak panjang. Begitu juga dengan koran. ‘’Harus mewujudkan komunikasi dua arah,’’ ungkap Lulu. 

Dahlan sebagai pembicara terakhir setuju dengan informasi yang disampaikan Brian dan pernyataan Lulu.  Koran memang sedang dalam kondisi tertekan. ‘’Tapi tidak bisa diartikan akan mati,’’ katanya. 

Dia mengatakan, 25 tahun lalu pernah mengucap bahwa nanti hanya akan ada satu koran di daerah atau di bidangnya. Misalnya Bisnis Indonesia yang kuat di bidang ekonomi. Koran ini, kata Dahlan memiliki keunggulan dalam bidang akurasi angka. ‘”Salah angka, pengusaha tidak akan percaya. Nah, biar Bisnis Indonesia menguasai bidang itu,’’ jelas dia.

Dahlan juga menyebut Kompas. Sejak dulu dirinya menyarankan Kompas menjadi koran Jakarta. Sebab, media tersebut sangat kuat dengan Jakarta. ‘’Tapi, pernyataan itu sempat disalahartikan, ‘’ katanya disambut tawa audiens. 

Lalu, Jawa Pos dengan pangsa pasar Surabaya dan sekitarnya. Bidang itulah yang digagas sehingga koran tetap bertahan. Nantinya, jumlah koran itu tidak banyak. ‘’Kecil tapi mentes,’’ ucap dia.  

Forum diskusi tersebut diikuti puluhan pengusaha pers dari berbagai daerah di Indonesia. Turut hadir praktisi dan akademisi kampus se-Indonesia. 

Pada kesempatan itu SPS menyerahkan sertifikat verifikasi ke beberapa media.  Kemudian, penyerahan pengargaan kepada penerima Indonesia Media Research Awards & Summit (IMRAS) 2017.  (riq/agm)
 

Berita Terkait