Komplikasi Penyakit Diabetes Melitus

Komplikasi Penyakit Diabetes Melitus

  Jumat, 8 March 2019 08:53

Berita Terkait

Faktor keturunan (genetik) dan gaya hidup tak sehat jadi pencetus penyakit regenerarif diabetes. Bahkan, dari kedua faktor ini bisa menimbulkan komplikasi dengan penyakit lainnya. 

Oleh : Ghea Lidyaza Safitri

Diabetes melitus adalah kondisi dimana terdapat tingkat kadar gula (glukosa) yang tinggi dalam darah. Terdapat tiga jenis tipe diabetes, yakni diabetes tipe 1, diabetes tipe 2, dan diabates gestasional. Namun, diabetes tipe 2 termasuk kronis karena berlangsung lama.

Hal ini dikarenakan tubuh tak dapat menggunakan insulin dengan baik. Padahal, insulin sangat penting untuk mengontrol jumlah gula (glukosa) yang didapat sel-sel tubuh dari darah.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam, Prof.DR.Dr.Sidartawan Soegondo mengatakan prevalensi penderita diabetes di Indonesia cukup besar.

Meski tergolong banyak, 70 persen penderita diabetes tak menyadari bahwa ia menderita penyakit ini. Padahal, gejalanya dapat diketahui dari rasa lapar meningkat (banyak makan), rasa haus meningkat (banyak minum), dan buang air kecil yang sering (banyak kencing).

Jika tak segera diatasi, diabetes bisa saja berteman dengan penyakit lainnya (menimbulkan komplikasi). Seperti kolestrol, tekanan darah, ginjal hingga jantung.

“Jika gula tak diturunkan akan merusak ginjal dan terkena gagal ginjal. Kemudian beralih pada penyakit jantung koroner dan gagal jantung," ujarnya saat ditemui di Aula Rumah Walikota Pontianak, belum lama ini.

Konsultan Endoktrin Penyakit Dalam ini menuturkan diabetes tak hanya dapat dilihat dari kadar gula, tapi juga faktor lainnya. Penderita tak bisa hanya memperhatikan kadar gula darah dan darah tinggi, tapi tidak memperhatikan berat badan bertambah (kegemukan) dan kebiasaan merokok.

Jika sudah begitu, fungsi tubuh bisa saja berhenti secara tiba-tiba maupun tidak. Sejatinya, komplikasi diabetes hanya mengarah pada pembuluh darah besar dan pembuluh darah kecil.

Pembuluh darah besar bisa ke otak (stroke), jantung (serangan jantung), dan kaki (amputasi).

Sedangkan, pembuluh darah kecil bisa ke mata (tak bisa melihat), gagal ginjal (cuci darah seumur hidup), dan syaraf (kaki sering kesemutan).

Sidartawan mengungkapkan Kalimantan Barat termasuk salah satu provinsi dengan jumlah penderita diabates terbanyak. Khususnya, diabetes melitus tipe 2.

Sebanyak 90 persen diabetes melitus tipe 2 disebabkan dari faktor genetik. Misalnya, ayah dan ibu sama memiliki genetik diabetes. Begitu anak lahir, ia akan positif mengidap diabetes.

Apabila berpotensi mengidap diabetes akibat faktor genetik, usahakan untuk mengubah gaya hidup (lifestyle).

Sidartawan menyarankan agar melakukan deteksi secara dini. Bukan hanya bagi penderita, melainkan bagi orang-orang yang memiliki perut buncit atau lingkar perut yang besar.

Menurutnya, di Indonesia jarang sekali ada orang bertubuh gemuk dan besar layaknya orang barat. Kebanyakan memiliki perut buncit. Ini juga harus waspada.

"Ingat, penderita yang meninggal bukan karena mengidap diabetes, tapi komplikasi dari diabetes itu sendiri," pungkas Kepala Divisi Metabolik – Endokrin dan Koordinator Operasional / Pelayanan, Departemen Penyakit Dalam FK UI / RS Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta ini.**

 

Berita Terkait