Kombinasikan Berbagai Energi Jadi Listrik

Kombinasikan Berbagai Energi Jadi Listrik

  Rabu, 27 July 2016 09:30
CINDERAMATA: Arianto memberikan cinderamata kepada Taufik, usai menyampaikan materi dalam Infert 2016. ERWANDI / HUMAS POLNEP FOR PONTIANAK POST

Berita Terkait

DIRECT Current (DC) House Project menjadi materi Professor Dr Taufik, Director of Electric Power Institute, California Polytechnic State University, USA; dalam International Conference on Applied Electrical, Electronics, and Informatics Engineering (Infert) di Hotel Mercure Pontianak, kemarin (25/7). Konferensi internasional pertama yang digelar Politeknik Negeri Pontianak (Polnep) menghadirkan tiga pembicara kaliber internasional lain. Dr Herold S Ruiz Rondan, lecturer in electrical engineering, Department of Engineering, University of Leicester, UK. Anton Satria Prabuwono PhD, Associate Professor of FCITR, King Abdulazis Univeristy, KSA. Dr Sunarso ST MEng, dosen dan peneliti senior Polnep.

DCHouse Project merupakan pengembangan teknologi alternatif di pedalaman atau pedesaan yang jauh dari PLN. Mereka mengunakan teknologi energi terbarukan dengan pendekatan berbeda dari yang sudah ada. “Kami coba tawarkan solusi alternatif yang lebih mudah, fleksibel, scaleable, efisien. Sumber energinya bisa dari macam-macam; seperti matahari, air, angin, malah bisa tenaga hewan atau manusia,” ujarnya.

Teknologi tersebut telah melewati tahap prototype. Pihaknya telah membuat tiga prototype, yaitu di California Polytechnic State University, Universitas Pajajaran Indonesia, dan Filipina. “Sekarang sudah masuk tahap pilot project. Ada dua tempat, salah satunya pada desa di Jatinangor, Jawa Barat. Di sana, sumber listriknya dari matahari dan angin. Melalui ini, beberapa sumber energi bisa kami kombinasikan untuk hasilkan listrik,” katanya.

Terkait standar pendidikan di Amerika dan Indonesia, menurutnya tidak terlalu berbeda, jika ditinjau dari kurikulum dasar dan kompetensi manusianya. “Orang Indonesia dan Amerika sama-sama pintar. Yang membedakan kita hanya fasilitas, seperti perpustakaan dan laboratorium. Di Amerika, perpustakaan dan laboratorium lebih lengkah, akses informasi pun lebih baik. Fasilitas di Indonesia belum bisa satu level. Semua tergantung fasilitas, bagaimana kita bisa kembangkan ilmu dan pengetahuan,” ujarnya.

Sementara itu, Infert 2016 dibuka Pudir I Polnep, Arianto SE MM. Menurutnya, Infert sangat baik untuk menambah wawasan dan ilmu pengetahuan peserta, khususnya bidang elektronika, elektro, dan teknologi informasi. “Lebih jauh, kami berharap join research bisa terlaksana. Kemarin sudah dijajaki dengan Dr Harold S Ruiz Rondan dari University of Leicester. Sudah kami diskusikan masih dalam proses,” katanya.

Menurutnya, kegiatan tidak hanya diikuti dosen-dosen Polnep, tetapi juga dari universitas lain di Pontianak, serta negara lainnya. “Sebagai lembaga pendidikan, Polnep telah membuktikan diri mampu gelar konferensi internasional. Kami bisa sharing ilmu. Untuk kerja sama, kami juga harapkan dengan perguruan tinggi di sini juga,” ujarnya.

Ia berharap, Infert 2016 yang digelar Jurusan Teknik Elektro dapat menjadi dorongan bagi jurusan lain di Polnep, menggeler konferensi internasional. “Kami ingin ini jadi pemicu. Jurusan lain bisa laksanakan konferensi, baik nasional dan internasional. Baik pada bidang tata niaga maupun rekayasa lain, seperti teknik sipil dan lainnya,” pungkas Arianto. (d1)

Berita Terkait