Kita Beragam, Bukan Seragam

Kita Beragam, Bukan Seragam

  Jumat, 9 February 2018 09:09   225

Oleh: Dayang Rusna Almuharni

Sungguh terlihat aneh, jika seseorang sudah tidak tahu di mana letak jati dirinya. Apakah wajar jika seseorang kehilangan sesuatu yang seharusnya menjadi kekhasan dalam dirinya?

Begitu pula Indonesia, negara berbudaya yang penduduknya dikenal dengan sebutan orang timur bercirikan keramahtamahannya. Sungguh Indonesia merupakan negara yang kaya akan budaya, bahasa, etnis dan agama yang tersebar di berbagai pulau. Setiap budaya seharusnya memberikan warna dan menjadi lukisan yang indah dan unik untuk ditampilkan dalam ajang pertunjukan dunia. Keberagaman, bukan keseragaman. Inilah yang seharusnya menjadi jati diri Indonesia. Bhineka Tunggal Ika, begitulah kiranya Indonesia. Walau banyak hal yang menjadi perbedaan, namun NKRI tetap harga mati dangan selalu berpegang teguh pada nilai-nilai Pancasila.

Disamping keberagaman yang dimiliki oleh Indonesia, di sisi lain Indonesia juga rentan terhadap ancaman konflik horizontal antar suku, agama, ras dan antar golongan (SARA). Oleh sebab itu peran pemuda sangat dibutuhkan untuk menjaga keutuhan NKRI. Pemuda adalah warga negara. Dan Indonesia adalah nama negara. Ini artinya Indonesia adalah milik pemuda. Pemudalah yang memegang setir pergerakan bangsa. Arah pergerakan bangsa ditentukan oleh pemuda. Kemajuan dan kemunduran bahkan kehancuran suatu bangsa sangat ditentukan oleh peran pemuda. Pemuda adalah pejuang yang memegang estafet pergerakan bangsa yang telah diperjuangkan oleh pemuda sebelumnya dalam merebut kemerdekaan Indonesia dari tangan penjajah.

Negara Indonesia memiliki tujuan yang jelas sebagaimana tercantum dalam pembukaan UUD 1945. Untuk mewujudkan cita-cita bangsa, membangun semangat Nasionalisme dan Keindonesian seharusnya tertanam dalam diri pemuda melalui rasa cinta pada negara. Kecintaan terhadap Indonesia seharusnya menjadi senada dan seirama dengan keberagaman yang ada. Bukan malah dibenturkan dan memisahkan diri dari keberagaman, justru sebagai pemuda harus mampu membaur dengan Indonesia yang sejatinya memang beragam, bukan seragam. 

Melalui keberagaman itu diharapkan pemuda mampu menciptakan irama yang indah dalam bernegara. Setiap orang dapat saling menghormati dan bertoleransi dalam perbedaan suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA). Bukannya malah intoleransi dan saling mencaci setiap perbedaan yang pada dasarnya memang berbeda. 

Indonesia bukanlah negara yang miskin akan budaya yang tersebar di ribuan pulau yang dimilikinya. Tentu saja setiap budaya dari masing-masing pulau, daerah, bahkan etnis akan berbeda, walaupun terdapat pula persamaan yang mungkin dikarenakan terjadi persentuhan antarkebudayaan. Begitu pula pengakuan terhadap kelima agama yang masih sangat dihormati keberadaannya di Indonesia. Ini dibuktikan dengan adanya cuti pada setiap peringatan hari besar setiap agama tanpa terkecuali.

Aku, kamu, dan mereka, tidak dapat berjalan sendiri demi keutuhan NKRI. Kata “Aku, kamu, dan mereka” harus dibingkai menjadi kata “Kita” supaya tidak terjadi kepincangan dalam berjalan bersama dan demi mewujudkan tujuan bangsa yang tercantum dalam pembukaan UUD 1945. Berbicara tentang “Kita”, pada dasarnya kita memang tidak sama. Tapi bukankah “Keberagaman” itu indah. “Keseragaman” tidak akan memberikan rasa yang berbeda dalam menu yang dihidangkan oleh Indonesia. Negara Indonesia kaya rempah-rempah, kitalah yang mengolahnya supaya dapat menciptkan makanan dengan rasa yang berbeda. Sebagaimana yang diumpamakan oleh Fuad Jabali pada saat memberi materi kepada peserta Lombok Youth Camp, “Kita akan kebingungan dan tidak akan dapat membuat apa-apa dengan bawang putih yang banyaknya 1 ton, tetapi dengan sedikit bumbu yang berbeda kita dapat menciptakan rasa yang unik.” 

Suatu rasa yang terasa enak dicicipi oleh siapa pun, dan dinilai enak oleh siapa pun sesuai dengan racikan dan selera yang diinginkan. Indonesia adalah sebuah bejana yang menampung semua komposisi bangsa dengan beragam suku, agama, budaya, dan bahasa. Namun keberagaman komposisi itu akan dijadikan hidangan yang dihadirkan dan dapat dinikmati oleh semua kalangan tanpa terkecuali. Semua dapat mencicipi, semua dapat merasakan manis, asam dan asin dari rasa Keindonesiaan. Untuk menjaga keutuhan bangsa dan membela negara dari kehancuran dapat dilakukan dengan berideologi Pancasila, demokrasi tanpa anarkisme, bersikap inklusif, cerdas, dan berbudaya, serta berdaya saing. Hentikanlah konflik dengan toleransi dan menyaring informasi sebelum di sharing supaya tidak ada yang terprovokasi sehingga menimbulkan perpecahan dalam bernegara, dan demi terciptanya semangat nasionalisme dan Keindonesiaan kita.**

*Penulis adalah Alumni Lombok Youth Camp 2018 delegasi IAIN Pontianak.