Kisah Syech Ali, Tuna Rungu-Wicara yang Berangkat ke Tanah Suci

Kisah Syech Ali, Tuna Rungu-Wicara yang Berangkat ke Tanah Suci

  Rabu, 1 Agustus 2018 14:03
BERANGKAT HAJI: Syech Ali, seorang Tuna Rungu-Wicara bersiap berangkat menuju Tanah Suci untuk melaksanakan ibadah haji. SITI SULBIYAH/PONTIANAK POST

Berita Terkait

Kumpulkan Uang dari Hasil Memulung Sejak Kecil

Keinginan Syech Ali untuk pergi menunaikan ibadah haji begitu kuat. Perjuangannya mengumpulkan rupiah demi rupiah hasil dari memulung selama bertahun-tahun tidak sia-sia. Tahun ini, dia bersama 140 jemaah calon haji asal Sintang berangkat melaksanakan ibadah rukun Islam kelima itu.

SITI SULBIYAH, Sintang

Bupati Sintang Jarot Winarno berjabat tangan dengan jemaah calon haji yang akan berangkat hari ini, Rabu (1/8). Bagi jemaah laki-laki, dia tak sungkan untuk saling bertemu pipi. Namun pemandangan tampak berbeda saat ia bersalaman dengan jemaah bernama Syech Ali. Tidak cukup hanya berjabat tangan dan bertemu pipi, orang nomor wahid di Sintang itu mengangkat tangannya seraya mengajak Ali melakukan tos tangan.

Peristiwa itu terjadi sesaat setelah acara pelepasan jemaah calon haji asal Sintang yang digelar di Halaman Kantor Bupati Sintang, Selasa (31/7). Senyum semringah bercampur haru terlihat dari wajah jemaah calon haji itu. Tak terkecuali bagi Ali, sapaan akrab Syech Ali. Tahun ini, dia beserta tiga orang keluarganya berkesempatan melaksanakan ibadah haji.

Sekilas tak tampak ada yang berbeda dengan pria asal Kota Sintang tersebut. Secara fisik sama dengan orang pada umumnya. Namun ternyata dia adalah penyandang disabilitas. Ia seorang tuna rungu-wicara. “Dia tidak bisa bicara,” kata Syech Imama kepada Pontianak Post saat ditanya kesediannya untuk diwawancarai. Imama adalah kakak kandung dari Ali. Ia salah satu anggota keluarga yang juga akan berangkat haji.

Menurut cerita Imama, Ali mengumpulkan uang dari hasil keringatnya sendiri untuk berangkat haji. Sejak kecil, Ali telah bekerja sebagai pemulung. Memungut barang-barang bekas ia tekuni hingga saat ini. Hasilnya bekerja, kerap ia sisihkan untuk ongkos ke Tanah Suci. “Sudah dari kecil dia ingin berangkat haji, keingian itu muncul dari dirinya sendiri,” kata Imama.

Sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit. Pepatah itulah kiranya yang cocok disematkan pada perjuangan Ali. Pekerjaan memulung yang bertahun-tahun dia lakukan sedikit lagi membawanya mewujudkan cita-cita untuk melihat Kakbah, kiblat umat Islam.

“Dari hasilnya bekerja dia menabung ke saya, lalu saya simpan uangnya di bank. Tahun 2011, kami berempat mendaftarkan diri untuk naik haji,” cerita dia.

Meski Ali memiliki keterbatasan dalam mendengar dan berbicara, Imama mengaku tidak banyak kendala saat mempersiapkan keberangkatannya kali ini. Bahkan dalam proses manasik haji pun, Ali bisa melaksanakannya dengan baik.

Imama mengaku bahagia bisa berangkat haji dengan keluarganya. Dia berharap perjalanan ibadahnya berjalan lancar. “Kami ingin menjadi haji yang mabrur selamat dunia dan akhirat,” pungkas dia.

Atas keistimewaannya itu, Ali cukup dikenal oleh jemaah calon haji lainnya. Usai acara pelepasan, beberapa jemaah menyempatkan diri untuk berfoto dengan Ali. Ia pun tidak sungkan untuk melakukan foto bersama dengan jemaah lain. Beberapa orang yang ada saat itu, turut mengucapkan apresiasinya kepada Ali. Sebab, meski memiliki keterbatasan, semangat dia untuk melaksanakan rukun Islam yang lima begitu membara. Pekerjaan memulung bukanlah pekerjaan yang mudah dan penghasilnnya juga tak menentu.

“Yang seperti inilah yang perlu kita angkat ke publik,” ungkap Kasi Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU), Kantor Wilayah Kementerian Agama Kabupaten Sintang, Nurhadi.

Nurhadi juga sempat menepuk bahu Ali, sembari berkata,” Kamu hebat,” pungkasnya. (*)

Berita Terkait