Kisah Ria Ayu, Pelajar yang Gigih Mengikuti Ujian Meski Berkursi Roda

Kisah Ria Ayu, Pelajar yang Gigih Mengikuti Ujian Meski Berkursi Roda

  Rabu, 25 April 2018 11:00
BERANGKAT UJIAN: Serda Ngadiman, Anggota Kodim 1205/Sintang mendorong kursi roda untuk mengantar anaknya, Ria Ayu Permana berangkat mengikuti ujian nasional ke MTsN 1 Sintang, Senin (23/4).

Berita Terkait

Bertekad Membalas Pengorbanan Orang Tua dengan Prestasi Membanggakan

Ria Ayu Permana, siswi Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Sintang harus berangkat sekolah untuk mengikuti ujian dengan kursi roda. Meski begitu, Ria tetap bersemangat. Dia berjanji pada orang tuanya untuk mengerjakan soal ujian dengan baik dan mengukir prestasi. 

SUTAMI, Sintang

JALAN Cadika, Kompleks Stadion Baning, Sintang pagi itu masih sepi dari lalu lalang kendaraan. Suasana lengang. Tidak ada satu pun kendaraan yang melintas. Aktivitas masyarakat yang berolahraga juga tidak ramai. 

Ada satu pemandangan yang mencuri perhatian. Seorang pria mengenakan seragam loreng sedang mendorong kursi roda. Langkahnya tegap. Sementara seorang remaja berusia 15 tahun duduk di atas kursi roda itu. 

Pria yang mendorong kursi roda itu adalah Serda Ngadiman, Anggota Kodim 1205/Sintang. Sedangkan yang duduk di kursi roda merupakan anak sulungnya. Mereka hendak menuju MTsN 1 Sintang karena di hari itu, Senin (23/4), Ria harus mengikuti ujian nasional hari pertama.

Kondisi Ria Ayu Permana memang tidak memungkinkan untuk berjalan kaki ke sekolah. Diantar naik sepeda motor juga sama. Menggunakan kursi roda adalah pilihan satu-satunya. Sejak dua bulan terakhir, Ria selalu diantar jemput oleh orang tuanya yang setia mendorong kursi roda dari rumah ke sekolah atau sebaliknya.  “Anak saya habis jatuh,” kata Serda Ngadiman.

Ngadiman mendorong cepat-cepat. Ia  khawatir putrinya terlambat. Di hari pertama ujian nasional ini,  Serda Ngadiman berupaya meluangkan waktu untuk bisa mengantar putrinya. Sementara di hari-hari  biasa sebelum ujian, ia bergantian dengan istrinya mengantar dan menjemput si buah hati. “Tidak ada yang bisa saya berikan, hanya ini,” ucap Serda Ngadiman dengan suara yang agak berat. 

Selaku orang tua, Ngadiman tentu berharap anaknya dapat meraih prestasi yang tinggi. Kondisi fisik selepas jatuh jangan sampai menjadi rintangan. Karena itu, motivasi selalu ia berikan. Segala yang bisa dilakukan orang tua, ia jalankan dengan sepenuh hati. Kendati harus mengantar jemput sang anak menggunakan kursi roda. “Sebagai orang tua, saya ingin prestasi anak membanggakan,” ujarnya.

Sebagai anak, Ria juga ingin berprestasi. Jerih payah dan kegigihan orang tua dalam mendukungnya akan dijawab dengan hasil yang memuaskan. Hanya dengan prestasi terbaiklah  ia dapat membalas semua pengorbanan yang sudah diberikan orang tuanya. Ria juga mengaku bangga atas apa yang sudah dilakukan kedua orang tua untuknya selama dua bulan terakhir. 

“Saya bangga dengan orang tua saya. Saya berusaha nilai ujian bisa memuaskan. Hanya ini cara saya untuk menjawab pengorbanan kedua orangtua,” katanya.

Untuk menggapai prestasi yang dijanjikan, Ria berusaha keras. Menjelang ujian, ia tidak mengendorkan intensitas belajar. Tantangan kondisi fisik justru dijadikannya sebagai penyemangat. Ketekunan dan tekadnya ini dipersembahkan sepenuhnya kepada kedua orangtua. 

Ria juga mendapat dukungan penuh dari pihak sekolah. Selama mengikuti ujian, ia diberi fasilitas khusus agar mudah dan nyaman mengerjakan ujian. Fasilitas itu tak hanya didapat saat ujian nasional, tetapi sejak ujian akhir madrasah berstandar nasional berbasis komputer beberapa waktu lalu.

Kepala Seksi Pendidikan Madrasah Kantor Kemenag Sintang, H Anang Nurkholis, M.Si  mengatakan, fasilitas yang dimaksudkan itu adalah tempat mengerjakan soal yang didesain agak luas. Berbeda dengan murid yang lain. Kebijakan ini guna memudahkan Ria. Sebab, di kelas ia juga harus duduk di kursi roda. Tidak bisa di bangku biasa yang ada di kelas. “Agak luas tempatnya dibuat. Ini bentuk dukungan kami kepada murid dalam mengerjakan ujian,” katanya.

Pihak sekolah juga mengapresiasi kegigihan Ria. Semangat belajarnya dinilai sangat tinggi. Meski dalam kondisi harus menggunakan kursi roda, segala tahapan pelajaran tetap diikuti. “Kami berdoa prestasinya membanggakan,” kata Anang. 

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sintang, Lindra Azmar mengatakan sebanyak 124 sekolah pada  2018 menyelenggarakan Ujian Nasional SMP/Sederajat. Sebanyak 18 sekolah di antaranya sudah dapat menyelenggarakan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) sedang yang lainnya melaksanakan Ujian Nasional Berbasis Kertas dan Pensil (UNBKP). Dari 7.268 siswa yang terdaftar di Dinas Dikbud Sintang, baru 1.768 siswa yang merasakan UNBK.

Pemkab juga sangat berharap semua peserta Ujian Nasional SMP/sederajat bisa lulus 100 persen.  “Di Sintang tahun lalu, untuk tingkat SMP kita belum mampu melaksanakan UNBK. Tahun 2018, kita sudah mampu meski baru sedikit,” katanya. 

Dari 18 sekolah yang ikut melaksanakan UNBK, hanya lima sekolah yang menyelenggarakan UNBK secara mandiri. Sementara 13 sekolah lainnya menumpang di sekolah lain.  Dari 18 sekolah tersebut, ada enam sekolah negeri dan delapan  sekolah swasta serta empat Madrasah Tsanawiyah (MTs). (*) 

Berita Terkait