Kisah Pilu Putri Aisyah, Balita yang Tewas Dibanting Sang Ayah

Kisah Pilu Putri Aisyah, Balita yang Tewas Dibanting Sang Ayah

  Minggu, 25 November 2018 08:38
MENINGGAL : Kanit Reskrim Polresta Pontianak, Iptu Jatmiko mengendong jenazah Putri Aisyah untuk dibawa kembali ke rumah duka usai diperiksa di rumah sakit, Sabtu (24/11). ADONG EKO/ PONTIANAK POST

Berita Terkait

PONTIANAK – Putri Aisyah, bayi berusia satu tahun empat bulan tewas dibunuh ayah kandungnya, Supardi Supriyatman. Korban dibanting di lantai dapur berulang kali, hingga tengkorak kepalanya pecah dan hidungnya mengeluarkan darah, Sabtu (24/11).

Pembunuhan terhadap bayi di bawah tiga tahun (batita) itu terjadi di kediaman pelaku di Jalan Usaha Baru, RT 002 RW 015, Dusun IV, Desa Sungai Rengas, Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya. 

Sebelum peristiwa memilukan itu terjadi, korban tengah menangis di dalam ayunan. Ibunya, Hamisah pun buru-buru menghampiri untuk menyusuinya. Pelaku yang saat itu sedang duduk di ruang keluarga, lalu masuk ke dalam kamar. 

Ia meminta istrinya untuk menaruh anak pertamanya itu ke dalam ayunan. Namun, permintaan tersebut ditolak, lantaran Putri Aisyah masih disusui. Entah iblis apa yang merasuki jiwa Supardi, ia kalap ketika permintaannya ditolak. 

Ia lalu merampas Aisyah dari pelukan sang istri. Korban lantas dibawa ke dapur. Kedua kakinya dipegang lalu tubuhnya dihempaskan berulang kali ke lantai yang terbuat dari semen. 

Pelaku seperti kehilangan sisi kemanusiaannya. Ia terus menghempas-hempaskan badan anaknya yang mungil dan tanpa daya itu. Ibu pelaku, Azizah  berusaha menyelamatkan cucunya, tetapi ia didorong oleh Supardi dan terjatuh. 

Sementara Hamisah berteriak-teriak histeris meminta pertolongan warga. Tetangga yang mendengar teriakan itu berhamburan keluar rumah lalu mendatangi kediaman Hamisah. Namun, nyawa Aisyah malang tak lagi dapat diselamatkan. 

Usai menghabisi nyawa anaknya, pelaku lalu berjalan pelan keluar rumah menuju kuburan. Beberapa warga mengamankannya dan menyerahkannya kepada anggota polisi yang datang ke lokasi kejadian. 

Sejumlah warga lainnya mencoba memeriksa kondisi korban yang sudah tak bernyawa. Oleh polisi, jenazah bayi itu lalu dibawa ke rumah sakit. Sedangkan pelaku langsung dibawa ke Mapolresta Pontianak untuk diperiksa. 

Di depan penyidik, pelaku memilih bungkam. Ia tak mau menjawab pertanyaan dari tim pemeriksa. Setiap kali pertanyaan diajukan, ia menjawabnya dengan membenturkan kepalanya ke dinding hingga berdarah. 

Ketua RT 002 RW 015, Abdul Syukur mengatakan, kejadian pembunuhan itu terjadi sekitar pukul 08.00. “Ada terdengar teriakan dari rumah pelaku. Warga pun keluar rumah untuk melihat apa yang terjadi,” katanya. 

Terkait Kasus Pembunuhan di Sanggau

Abdul Syukur menyebutkan, selama ini pelaku dikenal sebagai orang yang baik. Ia sering kumpul dengan warga dan tidak pernah ada masalah. “Di masyarakat orangnya bagus. Keluarganya tidak pernah terdengar ribut-ribut. Ini yang membuat kami heran,” ucapnya. 

Sementara itu, Kapolresta Pontianak Kombes Pol Muhammad Anwar Nasir yang langsung datang di tempat kejadian perkara (TKP), membenarkan jika terlah terjadi penganiayaan berujung tewasnya seorang anak di Desa Sungai Rengas, Kecamatan Sungai Kakap. 

Menurutnya, dari keterangan saksi yang berada di tempat kejadian, kasus tersebut bermula ketika terjadi perbedaan keinginan antara pelaku dan istrinya. Pelaku (ayah korban) berniat ingin menggendong anaknya. Sementara ibunya sedang menyusui korban. 

Dari perbedaan keinginan itu, pelaku tiba-tiba seperti orang kerasukan. Ia mengambil paksa korban dari dekapan istrinya. “Korban dibawa ke belakang rumah, kakinya dipegang lalu dihempaskan berulang kali,” kata alumni Akademi Polisi (Akpol) 1996 itu. 

Saat penganiayaan terjadi, saksi yang ada di dalam rumah berusaha menyelamatkan korban, namun terjatuh lantaran didorong pelaku. Hingga akhirnya saksi berteriak meminta pertolongan warga. 

“Pelaku ini ternyata pernah terlibat kasus pembunuhan terhadap seseorang di wilayah hukum Polres Sanggau,” ungkap perwira yang pernah menjadi pasukan PBB dan tergabung dalam Formed Police Unit 1 di Darfur Sudan pada 2008-2009 itu. 

Anwar Nasir menuturkan, setelah melakukan perbuatan itu, pelaku meninggalkan rumah. Sementara salah satu saksi mengecek kondisi korban, yang akhirnya diketahui sudah meninggal. 

“Dari keterangan adik iparnya, pelaku ini sangat sayang dengan anaknya. Kejadian tadi pagi adalah kejadian yang pertama kali. Tetapi tentu akan kami dalami apa motif pelaku hingga tega melakukan perbuatan itu kepada anaknya,” tuturnya. 

Dari informasi yang diihmpun Pontianak Post, pihak kepolisian telah berkoordinasi dengan psikolog untuk memeriksa kondisi kejiwaan pelaku.(adg)

Berita Terkait