Kisah Para Guru Peserta Space Camp di Pusat Angkasa Luar AS

Kisah Para Guru Peserta Space Camp di Pusat Angkasa Luar AS

  Selasa, 3 July 2018 10:00
ANTUSIAS: Sepuluh guru peserta pelatihan astronot dan Anton Susanto, manager corporate communications Honeywell Indonesia (tengah), di Pusat Angkasa Luar dan Ruang Angkasa AS USSRC di Alabama. Foto kanan, wartawan Jawa Pos ikut menjajal simulator antigravitasi. SUSILO/JAWA POS

Berita Terkait

Berlatih Jadi Astronot hingga Memprogram Roket

Jasa Wernher von Braun dalam sejarah luar angkasa Amerika Serikat (AS) memang tak lekang waktu. Di Huntsville, Alabama-lah, mahakaryanya diabadikan. Di kota itu pula sepuluh guru Indonesia berkesempatan napak tilas dan dilatih seputar dunia keastronotan. 

SUSILO, Alabama.

-- 

UNTUK menjangkau Huntsville, dibutuhkan waktu sekitar 1,5 jam dari Bandara Internasional Chicago. Kira-kira sama dengan dari Juanda ke pusat kota Surabaya. Luas kotanya sedikit lebih besar daripada Surabaya, yakni 556 kilometer persegi. Terik mentarinya pun lebih menyengat. Bahkan mencapai 40 derajat Celsius jika tepat di ubun-ubun.

Seluruh koleksi mahakarya insinyur roket yang populer pada abad ke-20 asal Jerman tersebut tersimpan rapi di United State Space and Rocket Center (USSRC) alias Pusat Angkasa Luar dan Ruang Angkasa AS. Jumlahnya lebih dari 1.500 item. Nilainya mencapai puluhan juta dolar AS. Kompleks USSRC berdiri di atas lahan militer AS dan National Aeronautics and Space Administration (NASA) yang telah dihibahkan.

Itu berkat Von Braun. Kala itu, sebagai direktur pertama Marshall Space Flight Center alias Pusat Penelitian Peroketan dan Pesawat Ruang Angkasa NASA, Von Braun menginisiatori pembangunan museum. Tujuannya, pusat dokumentasi sejarah eksplorasi ruang angkasa AS.

Di sana tersimpan semua kiprah Von Braun. Mulai misi peluncuran roket pertama yang menembus luar angkasa atau yang dikenal dengan roket V-2. Sampai misi fenomenal Saturn V yang membawa manusia pergi ke bulan, yakni Apollo pada 1969. Termasuk coretan Von Braun di secarik kertas lusuh yang berisi tentang mimpinya ke luar angkasa pada usia 12 tahun.

Sejak dibuka pada 1970 untuk objek wisata umum warga AS, USSRC mulai merambah ke dunia pendidikan pada 2004 melalui program Space Camp. Mereka merangkul guru untuk menjangkau jutaan murid di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Hingga kini, sudah 2.776 guru dari 54 negara bagian AS dan 62 negara di belahan dunia yang telah mengikuti program tersebut.

Jangan salah persepsi. Mereka dilatih tidak untuk menjadi astronot. Namun, mereka diajari cara menerapkan STEM. Yakni, pendekatan pembelajaran interdisiplin lewat science, technology, engineering and mathematics.

Tahun ini Indonesia diwakili 10 guru dari seluruh Nusantara yang lolos seleksi untuk mengikuti kamp selama sepekan, 25–27 Juni lalu. Mereka adalah Mohammad Ridwan dari Sekolah Darma Yudha Riau, Warsono (SMP Purnama 1 Cilacap), Abdul Rahman (MAN Insan Cendekia Gorontalo), Mega Lamita (SD Tunas Daud Bali), dan Darum Budiarto (SMKN 1 Bula, Maluku).

Selanjutnya, Jessica Hostiadi (SDS Rhema En Cara Bogor), Rosdiana Akmal Nasution (SD Bogor Raya), Faqih Al Adyan (Bunda Mulia School/SPK Jakarta), Nur Fitriana (SDN Deresan Sleman, Jogjakarta), dan Widia Ayu Juhara (SMP Taruna Bakti Bandung).

Mayoritas adalah guru dari sekolah bertaraf internasional, kecuali Nur Fitriana. Guru kelas V itu menyatakan sangat bersyukur bisa lolos seleksi dalam program Space Camp yang diselenggarakan Honneywell Indonesia. Kiprahnya dalam menekuni STEM berbuah manis. 

Hal itu, rupanya, menjadi salah satu modal Nur untuk bisa bergabung dalam Space Camp. Kiprah ibu tiga anak tersebut terlihat sejak pindah dari sekolah internasional ke SDN Deresan pada 2015. 

Tentu bukan perkara mudah untuk beradaptasi dari sekolah swasta internasional yang sarat fasilitas ke sekolah pemerintah yang kondisinya memprihatinkan. 

’’Sudah tua. Sekolahnya mau ambruk. Mayoritas murid kami dari keluarga kurang mampu. LCD cuma satu untuk gantian 12 kelas. Apalagi kalau ada rapat,’’ ungkap Nur.

’’Saya yang terbiasa mengajar dengan fasilitas ideal harus berpikir keras untuk menyiasatinya,’’ lanjut perempuan berjilbab itu saat diwawancarai di mes University of Alabama, tempat menginap para guru selama mengikuti pelatihan.

Nur tak patah arang. Dia menggerakkan para murid untuk mengumpulkan sampah plastik, kardus, dan barang-barang bekas lain sebagai alat praktik pembelajaran STEM. Misalnya, dia mencontohkan cara membuat baterai dari sampah sayur.

Yakni, karbon dikeluarkan dari selongsong baterai bekas dan diganti dengan sampah sayur yang telah melalui pengujian. 

Selain itu, karya Nur yang membanggakan yang menang dalam ajang Japan Education for Sustainable Development (ESD) Award pada 2016 adalah charger handphone dari map plastik. ’’Aku bikin step up dan pakai dinamo. Kami atur. Itu mengandalkan putaran air. Alatnya sangat kecil,’’ jelas guru yang telah mengabdi selama sembilan tahun tersebut.

Ternyata, itu bukan satu-satunya ajang kompetisi internasional yang diikuti Nur. Dia telah mengikuti berbagai lomba serupa dan selalu menang. Misalnya, Mathematics Using ICT SEAMEO QITEP In Mathematics, Environment and Sustainable Development Goals SEAMEO QITEP In Science, serta World Culture Forum UNESCO.

’’Jadi, murid senang. Guru nggak cuma ceramah. Tapi ada medianya. Medianya juga murah. Tidak harus yang canggih dan mahal sehingga orang tuanya pun senang,’’ katanya.

’’Semakin hari nilainya kian bagus. Awalnya siswa sering bolos, tetapi sekarang rajin. PR yang saya berikan sifatnya praktik, bukan tertulis,’’ beber lulusan S-2 psikologi pendidikan Universitas Gadjah Mada Jogjakarta itu, lantas tersenyum. 

Rupanya, penghargaan yang didapat dari Japan ESD tersebut tidak hanya mengangkat sosok dirinya sebagai guru berprestasi. Tetapi, hal itu juga merealisasikan harapan guru dan murid di sekolahnya untuk mendapat fasilitas pendidikan yang layak.

Sejak itu, sejumlah organisasi dunia, salah satunya UNESCO, mengundang Nur untuk mempresentasikan kondisi sekolah tempatnya mengajar. Dia menceritakan kondisi apa adanya. Karena itu pula, pemerintah mulai memberikan perhatian. 

Itu terjadi setelah enam tahun berturut-turut pengajuan renovasi mereka selalu ditolak pemerintah daerah. ’’Dua bulan kemudian, sejak saya menang di Japan ESD, tepatnya Februari 2017, Dirjen Dikdasmen mengunjungi sekolah kami. Mereka mengecek kondisi sekolah. Akhirnya kami mendapat bantuan hampir Rp 2 miliar,’’ beber Nur. 

Kemudian, kata dia, dana bantuan tersebut digunakan untuk membangun gedung baru, kelas, aula, toilet, dan kantin. Sejak saat itu, para murid semakin bersemangat untuk belajar tentang STEM. Di dalamnya sarat metode yang mengasah life skill mereka. 

Sejatinya, Nur baru mengenal STEM dari teman-temannya sesama mahasiswa UGM. ’’Kami sering kumpul baca-baca jurnal internasional dan bikin riset. Aku kemudian kaitkan dengan dunia pendidikan. Poinnya tentang sustainable development goals. Misal soal pencegahan sampah laut dengan aksi stop buang sampah ke sungai,’’ terang Nur.

Menurut dia, keberhasilannya lulus dari pendidikan di Space Camp tentu akan ditularkan kepada para murid dan rekan-rekan sesama guru di sekolah nanti. Dia tidak berharap muluk-muluk mengimplementasikan apa yang didapat dengan dukungan fasilitas modern.

’’Hands on activity tetap kami lakukan. Jadi, mendidik itu tidak harus ceramah. Pelatihan astronot yang saya dapat di Space Camp sifatnya hanya sebagai media untuk menginspirasi bahwa mendidik dengan pendekatan STEM itu mengasyikkan,’’ ujarnya. 

Selama mengikuti kamp tersebut, Nur dan sembilan guru lainnya diajari berbagai pengetahuan tentang dunia keastronotan. Setidaknya, mereka mendapat 20 materi tentang keastronotan. 

Di antaranya, menyimak paparan praktisi NASA, mengenal konstruksi roket, pengetahuan tentang orbit, mengenal kursi 1/6 gravitasi, mencoba simulator dalam misi ke Mars, aktivitas ketahanan di air, menjajal lingkaran multiple axis, dan membuat program roket hingga meluncurkannya.

Salah satu sesi yang seru adalah mencoba alat yang disebut multiple axis. Alat tersebut terdiri atas dua lingkaran besi yang memiliki satu poros. Sang astronot masuk ke dalam lingkaran tersebut, lalu tubuhnya diikat dengan sabuk pengaman yang melingkar ke bagian perut dan kaki.

Alat tersebut berfungsi untuk menguji ketahanan astronot dari guncangan hebat begitu kapsul berhasil mendarat di bulan. Kondisi itu memaksa seorang astronot berputar-putar di dalam kapsul.

Menjelang akhir pelatihan, diajarkan cara membuat program peluncuran sebuah roket dengan baterai sebagai sumber energinya. Para peserta pelatihan dipandu untuk memprogram Raspberry Pi atau yang umum dikenal dengan komputer Raspi. Yakni, komputer papan tunggal seukuran kartu kredit untuk menjalankan program perkantoran, permainan komputer, dan lain-lain.

Jika sukses, roket mereka yang terbuat dari benda semacam paralon dengan ujung meruncing bakal melesat ke angkasa setelah tombol peluncuran ditekan. Dalam sekali peluncuran ada 13 roket yang dihadapkan ke angkasa. Itu mewakili 13 tim yang hari tersebut mengikuti pelatihan pemprograman roket. (*/c5/agm)

Berita Terkait