Kisah Kiper Bhayangkara FC Awan Setho setelah Pulih dari Cedera Leher Kritis

Kisah Kiper Bhayangkara FC Awan Setho setelah Pulih dari Cedera Leher Kritis

  Sabtu, 24 February 2018 11:00
PULIH: Awan Setho, kiper Bhayangkara FC, saat ditemui usai latihan di Lapangan ABC Senayan, Jakarta, Rabu (21/2). CHANDRA SATWIKA/JAWAPOS

Berita Terkait

“Terlambat Sedikit Saja, Mungkin Saya Bisa Lewat”

Penanganan cepat turut menyelamatkan nyawa Awan Setho Raharjo setelah lehernya terhantam lutut lawan. Kini sudah bisa berlatih normal tanpa harus mengenakan helm ala kiper Arsenal Petr Cech. 

 

YANG dihadapi adalah para penyerang bertubuh tegap dan kekar macam Herman Dzumafo dan David da Silva. Tapi, tak tampak keraguan dalam tiap gerakan Awan Setho Raharjo. 

Dalam latihan bersama klubnya, Bhayangkara FC, di lapangan ABC, Senayan, Jakarta, Rabu sore (21/2), bola-bola sulit berani diambil kiper 21 tahun itu. Padahal, baru Senin lalu (19/2) dia bergabung latihan secara penuh dengan skuad juara Liga 1 2017 tersebut. 

”Awan sosok yang luar biasa. Dia menjadi salah satu andalan kami. Beruntung, dia bisa pulih lebih cepat,” puji Simon McMenemy, pelatih Bhayangkara FC.

Awan memang mengalami cedera mengerikan bulan lalu. Cedera yang menurut dokter tim Bhayangkara FC Alfan Nur Asyhar serupa dengan yang merenggut nyawa kiper Persela Lamongan Choirul Huda pada 15 Oktober tahun lalu. 

Cedera itu dialami Awan saat membela Bhayangkara melawan klub Jepang, FC Tokyo, dalam rangka merayakan 60 tahun hubungan Indonesia-Jepang (27/1). Dalam sebuah momen perebutan bola di laga yang berlangsung di Stadion Utama Gelora Bung Karno tersebut, lutut kanan Diego Oliveira tanpa sengaja menghantam leher kiri Awan.

Penanganan ekstracepat turut menyelamatkan nyawa kiper kelahiran Semarang, Jawa Tengah, 20 Maret 1997, tersebut. Lehernya saat itu langsung dipasangi neck collar. 

Ambulans lalu masuk ke area gawang Bhayangkara FC. Selanjutnya, mengevakuasi penjaga gawang yang diproyeksikan masuk skuad Asian Games 2018 itu ke Rumah Sakit TNI-AL Mintohardjo, Jakarta. 

”Terlambat sedikit saja ditangani, mungkin saja saya bisa lewat,” ujarnya.

Dia masih mengenang dengan detail detik-detik kritis itu. Sesaat setelah lutut kanan Diego membentur muka dan lehernya, seketika itu pula pandangannya gelap. Tapi, dia berupaya keras untuk sadar.

”Pokoknya, jangan sampai pingsan. Itu saja pikiran saya,” ujarnya. 

Memar sudah pasti dia rasakan. Tapi, yang paling membuatnya khawatir saat muka, lutut, dan dan kakinya mulai terasa kesemutan. Itu berlangsung saat dalam perjalanan dari SUGBK ke RS TNI-AL Mintohardjo yang jaraknya tidak lebih dari 5 kilometer.

Sesampai di rumah sakit, Awan langsung mendapat serangkaian pemeriksaan. Mulai foto rontgen kepala, leher, CT scan dada, hingga MRI (magnetic resonance imaging) 3D pada bagian kepala dan leher. 

”Sehari setelah itu, untuk menelan air minum pun rasanya sakit,” ujarnya.

Empat hari setelah insiden yang mengancam nyawanya itu, dia memutuskan pulang kampung ke Semarang. Niatnya untuk istirahat sekaligus berkumpul dengan keluarga. 

Di Semarang dia masih kesusahan untuk sekadar mengunyah. Masih terasa sakit. Namun, neck collar sudah dilepas. Terutama saat sedang santai tidak jalan-jalan.

Awan mulai berhenti mengonsumsi obat pada 12 Februari. Tiga hari berikutnya dia menjalani treatment awal bersama dr Alfan. 

”Progres pemulihan Awan ini jauh melebihi ekspektasi,” kata Alfan. 

Karena Awan tak mengalami retak tengkorak, Alfan juga memastikan kiper yang di paro pertama musim lalu dipinjamkan ke PSIS Semarang itu tidak perlu mengenakan helm ala kiper Arsenal Petr Cech. 

”Karena gak ada cedera fatal, jadi gak perlu pakai helm juga,” ujar pria yang pernah menjadi dokter timnas U-19 era Indra Sjafri tersebut. 

Yang dialami Awan berbeda dengan Wahyu Tri Nugroho, mantan kiper tim nasional, pada 2011. Saat itu kepala kiper yang kini juga membela Bhayangkara tersebut membentur tiang gawang yang membuatnya sempat menggunakan helm.

Meski sebenarnya juga akan dipanggil ke pemusatan latihan timnas Asian Games, Awan memilih berkonsentrasi ke klub dulu. ”Saya ingin beradaptasi kembali dengan tim,” katanya.

Di usia yang baru 21 tahun, kesempatan dia untuk berkostum Garuda memang masih terbentang luas. Baik untuk timnas senior maupun kelompok umur. Bahkan, tahun depan dia sangat berpeluang jadi kiper andalan Indonesia di SEA Games yang berlangsung di Manila, Filipina. (*/c10/ttg)

Berita Terkait