Kisah Dwi Hardono, Jamaah Haji yang Kehilangan Paspor Jelang Kepulangan ke Tanah Air

Kisah Dwi Hardono, Jamaah Haji yang Kehilangan Paspor Jelang Kepulangan ke Tanah Air

  Jumat, 30 September 2016 09:46
SUKA BERCANDA: Dwi Hardono Santoso berjalan di antara jemaah haji kloter 8 embarkasi Ujungpandang di Bandara King Abdul Aziz Jeddah (27/9). FATHONI P. NANDA/JAWA POS

Berita Terkait

Dompet Terbawa Istri, Tiga Hari Menginap di Bandara Jeddah

Dwi Hardono tak pernah menyangka mendapat ”bonus” perpanjangan masa tinggal di Arab Saudi. Apalagi, perpanjangan selama tiga hari itu harus dia jalani di dalam bandara. Awalnya sedih, tapi akhirnya malah senang karena menemukan banyak teman.

FATHONI P. NANDA, Jeddah

SELASA sore (27/9) waktu Arab Saudi, plaza area D4 Bandara King Abdul Aziz, Jeddah, dipenuhi jamaah haji kloter 8 embarkasi Ujungpandang (UPG 08). Mereka beristirahat, duduk lesehan di karpet sambil merapikan tas jinjing yang rata-rata kelebihan isi. Sejumlah petugas Panitia Penyelenggara Ibadah  haji (PPIH) tampak membagikan nasi kotak kepada para jamaah yang sedang menunggu penerbangan menuju tanah air.

Di antara jamaah yang semuanya mengenakan seragam batik itu, tiba-tiba muncul lelaki berpakaian gamis abu-abu. Dia berjalan menyeret tas jinjing bertulisan Garuda Indonesia. Bukannya berbaur dengan para jamaah, lelaki dengan tinggi sekitar 160 cm tersebut memilih duduk di deretan kursi  bersama para petugas PPIH.

Saat ditanya isi tas yang dibawa, dia malah tertawa terkekeh. ”Isin (malu) aku. Isinya semua baju-baju istri saya. Padahal, istri saya sudah nyampe di Indonesia,” kata lelaki bernama lengkap Dwi Hardono Santoso itu dalam logat Jawa yang kental.

Dwi sebenarnya jamaah haji yang tergabung dalam kloter 6 embarkasi Ujungpandang (UPG 06). Mayoritas jamaah haji di kloter tersebut berasal dari Indonesia Timur, termasuk Dwi yang ber-KTP Papua. Logat Jawanya sangat kental lantaran dia lahir di Temanggung, Jawa Tengah, dan besar di Jogjakarta.

Seharusnya Dwi pulang pada Sabtu (24/9). Tapi, pada menit-menit terakhir menjelang pemberangkatan pesawat, paspornya hilang. Sang istri Saidah akhirnya terbang lebih dulu ke Makassar, sedangkan Dwi harus menunggu penerbitan pengganti paspor.

”Eh, paspornya ternyata ditemukan petugas kebersihan bandara. Tapi, pesawat sudah telanjur berangkat. Jadi, saya harus menunggu kloter berikutnya yang sama-sama ke Makassar,” papar guru matematika di sebuah SMP negeri di Kabupaten Mappi, Papua, itu.

Dwi menceritakan, dirinya bersama kloter UPG 06 berangkat dari Makkah menuju Jeddah pada Sabtu dini hari. Tiba di Bandara King Abdul Aziz, lelaki kelahiran 29 April 1978 tersebut langsung mendapatkan jatah makanan dari PPIH. Bersama Saidah, Dwi makan sejenak, kemudian salat Subuh di musala bandara. ”Selama saya salat Subuh, tas yang berisi paspor dan dompet saya titipkan kepada istri,” ujarnya.

Mungkin karena terlalu lelah, Saidah ternyata tertidur. Saat Dwi kembali dari salat, tas kecil berisi paspor miliknya sudah tidak ada. Begitu juga tas kain berisi kamera, roti, dan buah-buahan miliknya. Semua tidak bisa ditemukan sampai seluruh anggota rombongan hendak bergerak menuju terminal keberangkatan.

Lulusan MIPA Universitas Negeri Yogyakarta itu sadar betul tanpa paspor tidak akan bisa pulang ke tanah air. Bingung dan takut sempat melanda bapak dua anak tersebut.  Apalagi, petugas kloter sempat memarahinya karena menganggapnya ceroboh. ”Yang bisa saya lakukan saat itu adalah minta istri tenang. Pulang dulu nggak apa-apa, nanti saya menyusul,” katanya. 

Namun, sang istri tetap tak bisa menyembunyikan kepanikan. Sampai-sampai tas jinjing yang dibawa pulang ke tanah air tertukar. Saidah terbang ke Makassar dengan membawa tas milik Dwi. Padahal, dompet berisi uang milik Dwi ada di dalam tas tersebut.

Jadilah Dwi tinggal di bandara tanpa uang sepeser pun dan hanya mengenakan baju yang menempel di badan. Dia akhirnya dibawa petugas PPIH ke kantor daerah kerja (daker) airport sambil menunggu pembuatan surat perjalanan laksana paspor (SPLP).

Sekitar pukul 12.00, paspor milik Dwi ternyata ditemukan petugas kebersihan bandara.  Namun, dia tidak bisa segera pulang ke tanah air. Sebab, jadwal penerbangan kloter UPG 06 adalah pukul 10.00. Petugas PPIH menjanjikan Dwi bisa terbang bersama kloter berikutnya. ”Minggu tidak ada pemulangan ke Makassar. Senin ada, tapi tidak ada kursi kosong. Baru sekarang (27/9, Red) ada pemulangan ke embarkasi saya,” terang Dwi.

Dalam rentang waktu tiga hari menunggu penerbangan ke Makassar, Dwi mengaku berusaha mencari kesibukan. Tiap hari dia berkeliling menyapa jamaah dari berbagai embarkasi yang menunggu penerbangan ke tanah air. Jika rasa kantuk menyerang, Dwi kembali tidur di dapur kantor daker airport yang memang berada di dalam kawasan Bandara King Abdul Aziz.

Karena doyan jalan-jalan di area bandara itulah, Dwi mengaku kenal banyak orang. Apalagi saat rombongan jamaah haji asal Jawa Tengah seperti Solo dan Sleman datang menunggu kepulangan. Dwi langsung menghampiri dan menceritakan kondisinya. ”Saya senang banyak ketemu orang dari Jawa Tengah. Mereka memberi saya baju, celana, dan kaus. Gak pake celana dalam gak apa-apa. Malah enak kok,” canda Dwi.

Soal urusan makan, Dwi sempat khawatir lantaran dompetnya terbawa sang istri. Namun, dia bersyukur bisa ikut menikmati jatah makan petugas PPIH tiga kali sehari. ”Petugas PPIH di sini baik semua. Saya tidak kekurangan apa pun,” ungkapnya.

Sebelumnya Dwi sempat mendapat tawaran dari Garuda Indonesia untuk ikut penerbangan ke embarkasi Solo. Dia langsung menyetujui tawaran itu lantaran sudah punya rencana pergi ke Jogja setelah mendarat di Makassar. Saidah bersama anak-anaknya juga sudah berada di Jogja.

Dengan penuh semangat, Dwi menandatangani surat pernyataan tidak akan menuntut untuk diterbangkan ke Makassar. Tapi sayang, sistem komputerisasi haji terpadu (siskohat) menolak secara otomatis perpindahan kloter tersebut. ”Ya sudah, terima nasib saja menunggu kursi kosong kloter ke Makassar,” ujar Dwi. ”Mudah-mudahan bisa jadi pelajaran bagi jamaah lain agar lebih hati-hati menyimpan paspor,” tuturnya.

Dwi juga bersyukur keluarganya di Jogja tidak resah atas musibah yang menimpanya. Komunikasi tetap bisa terjalin lantaran Dwi memegang ponsel yang ada pulsanya. ”Untung oleh-oleh berupa mainan sudah dibawa istri lebih dulu. Anak-anak senang dan nggak cari-cari saya,” ujarnya.

Sekitar pukul 5 sore itu, petugas maskapai Garuda Indonesia mulai meminta jamaah kloter UPG 08 berbaris berdasar nomor rombongan. Setelah itu mereka diminta berjalan menuju terminal keberangkatan. Sambil menyalami para petugas PPIH, Dwi pamit untuk kembali ke tanah air. ”Ora ngerti melu rombongan nomer piro aku. Sing penting mulih (Tidak tahu ikut rombongan nomor berapa saya. Yang penting pulang, Red),” kata Dwi diikuti tawa riang. (*/c9/nw) 

Berita Terkait