Kisah Delapan Juta Motor di Kota Paman Ho

Kisah Delapan Juta Motor di Kota Paman Ho

  Senin, 30 July 2018 05:47

Kepadatan lalu lintas menjadi permasalahan di setiap kota maju. Jakarta dan Filipina merupakan negara di Asia Tenggara yang mempunyai tingkat kemacetan tertinggi. Namun, sebuah kota di selatan Vietnam ini sedikit istimewa. Delapan juta kendaraan roda dua ada di sini.
 
Shando Safela, Ho Chi Minh, Vietnam
============================== 

H0 CHI MINH merupakan kota di bagian selatan Vietnam yang perkembangannya sangat pesat. Kota Ho Chi Minh dulunya bernama Saigon. Ho Chi Minh diambil dari nama tokoh bernama Ho Chi Minh yang merupakan tokoh penting di negara ini. Ho Chi Minh yang akrab dipanggil Bac Ho (Paman Ho) adalah tokoh yang mempersatukan Vietnam Utara (Hanoi) dan Vietnam Selatan (Saigon).
 

Paman Ho juga merupakan pembentuk gerakan gerilya yang dikenal dengan nama Viet Cong. Gerakan inilah yang berhasil mengalahkan intervensi tentara Amerika Serikat di Vietnam.
Meski Ho Chi Minh bukan ibukota Vietnam, namun kota ini sangat populer di kalangan turis asing, tak heran jika Ho Chi Minh menjadi salah satu tujuan wisata yang wajib dikunjungi di Asia Tenggara.

Disisi lain, Ho Chi Minh juga menjadi negara istimewa bagi raksasa produsen motor seperti Honda dan Yamaha. Sebanyak delapan juta unit motor terjual di kota ini. Tak heran jika kota ini mendapat gelar sebagai kota dengan jumlah motor terbanyak di dunia.

Jumlah penduduknya pun sangat mempengaruhi, Ho Chi Minh yang saat ini berpopulasi 12 juta jiwa, tumbuh sangat pesat setiap tahun. Satu juta jiwa angka kelahiran tercatat sebagai pertambahan penduduk setiap tahunnya.

Motor menjadi alat transportasi utama di kota ini. Segala kegiatan mengandalkan motor sebagai alat transportasi. Mulai dari bekerja, sekolah, berjualan, hingga untuk berjalan-jalan, warga Ho Chi Minh.

Pagi hari merupakan waktu terpadat bagi kendaraan roda dua. Ribuan motor tumpah ruah ke jalan-jalan utama untuk memulai aktifitas. Ada yang berseragam lengkap dengan jas, ada anak sekolah yang akan berangkat ke sekolah, ada pula pedagang yang menaikkan barang dagangannya di jok bagian belakang. Pemandangan seperti ini juga terlihat sore hari. Kemacetan yang biasanya terjadi karena padatnya mobil, disini terjadi karena padatnya motor.

Hanya sedikit polisi yang mengatur lalu lintas, selebihnya adalah mengikuti traffic light. Namun, tak sedikit juga yang membandel. Meski lampu masih menunjukkan warna merah, masih saja ada yang tetap melaju.

Dibalik suasana lalu lintas yang semrawut, warga Ho Chi Minh menjalani kehidupannya dengan santai dan penuh ketenangan. Budaya minum kopi menjadi bagian dari masyarakat Ho Chi Minh. 

 Meski Ho Chi Minh bukan ibukota negara Vietnam, Ho Chi Minh merupakan 'tulang punggung' bagi perekonomian Vietnam. Sektor dunia hiburan dan sejarah perang, menjadi komoditi utama dalam dunia pariwisata. Lebih dari 30 juta wisatawan menghabiskan masa liburannya di Ho Chi Minh. Pendapatan dari sektor pariwisata tumbuh dari tahun ke tahun, menyelamatkan ekonomi Vietnam dari sebutan negara miskin.
 
Turis asing yang melancong dapat menikmati suguhan hiburan yang tersebar di seluruh distrik, belajar tentang sejarah, dan mencicipi kuliner ekstrem di negara ini. Turis berusia muda, lebih sering menggunakan motor sewaan untuk mengeksplore setiap distrik di Ho Chi Minh. Selain dapat mengenal lebih dekat, turis juga merasakan langsung bagaimana menjadi warga lokal.**