Kisah Ali Fauzi Manzi, Adik Kandung Amrozi dan Ali Imron , Dulu Teroris, Sekarang Peneliti Bom dan Terorisme

Kisah Ali Fauzi Manzi, Adik Kandung Amrozi dan Ali Imron , Dulu Teroris, Sekarang Peneliti Bom dan Terorisme

  Rabu, 2 December 2015 08:44

Berita Terkait

Ali Fauzi Manzi, mantan teroris sekaligus adik kandung Amrozi dan Ali Imron getol mengkampanyekan pencegahan terorisme di Indonesia. Saat berada di Pontianak dia berbicara di depan ratusan anak muda mengenai bahaya radikalisme.MARSITA RIANDINI, Pontianak

Ali Fauzi sosok yang sangat ramah. Juga humoris. Jika dilihat sepintas, tak  terkesan sama sekali bahwa dia pernah menjadi salah satu penebar teror di Indonesia. Minggu siang itu, Ali tampak bersemangat menceritakan pengalamannya saat masih menjadi teroris pada ratusan anak muda yang memenuhi satu ruangan di salah satu hotel di Pontianak.

“Banyak orang tidak percaya bahwa orang Indonesia bisa membuat bom. Bahkan keluarga saya sendiri tidak percaya adiknya ini ahli merakit bom,” ujar Ali saat berbicara di kegiatan dialog pencegahan terorisme yang dilaksanakan oleh Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme Kalbar bekerja sama dengan Badan Nasional Pencegahan Teroris (BNPT) yang berlangsung dari Minggu hingga Senin (29-30/11) di Hotel Borneo, Pontianak.

Ali bercerita, dia dulu pernah belajar merakit bom hingga ke Mindanau, pulau terbesar kedua di Philipina. Di sana dia diajari berbagai teknik membuat bom dan operasi perang. “Bahkan saya bisa membuat bom hanya dari bumbu dapur,” kata mantan anggota teroris dari kelompok Moro Islamic Liberation Front/MILF itu.

Di camp militer Ali juga diajari membuat peta, menentukan skala di peta dengan skala sebenarnya, sampai menentukan sudut lokasi. Diajarkan pula tentang senjata-senjata canggih yang jarak tembakannya efektif, baik itu senjata produk Amerika, maupun produk Rusia. Termasuk bagaimana menembak tidur, jongkok, berdiri dan berlari. Juga menembak pesawat.

Setelah ‘lulus’ dari Philipina, Ali kembali ke Indonesia dan Malaysia. Di situlah perannya sebagai pelaku teror dimulai. Dia ditunjuk sebagai Kepala Instruktur (Field Engineering) Perakitan Bom Jama’ah Islamiyah Wakalah Jawa Timur. Tahun 2000 Ali keluar dari JI,  dan bergabung dengan Kompak (Komite Penanggulangan Krisis).

Di Kompak  ia menjadi Kepala Instruktur Pelatihan Militer  Milisi  Ambon dan Poso juga melatih milisi Jawa, Sulawesi, Kalimantan,Sumatera bahkan dari Malaysia  dan Singapura. “Tahun 2002 saya berangkat ke Mindanao  mendirikan camp pelatihan militer  bersama Abdul Matin, Omar Patek, Marwan Malaysia, Mu’awiyah Singapura dan lainnya. Tapi sepandai-pandainya tupai melompat jatuh juga. Saya tertangkap tahun 2004 oleh pihak keamanan PNP (Polis Nasional Philipina) menjalani kehidupan di penjara,” ucap pria yang mengaku memiliki banyak nama itu.

Sejak tertangkap, ia harus menjalani kerasnya kehidupan penjara hingga tahun 2006 di pulangkan ke Indonesia dalam keadaan sakit. Ia dirawat di rumah sakit Jakarta oleh Satgas Bom Mabes Polri. “Selama di penjara, terjadi pergolakkan batin pada diri saya. Saya tidak menyangka, dalam kondisi kemarahan rakyat padanya, masih diperlakukan manusiawi, terutama oleh kepolisian,” ucapnya yang berpikir bakalan disiksa selama di penjara.

Selama dalam pembinaan dan pengawasan Mabes Polri, dia pun mulai menyadari kesalahanya dan bertaubat. Keputusan itu disambut baik oleh pihak kepolisian. Saat ini dia  bekerja sama dengan kepolisian untuk mengatasi permasalahan terkait kasus teroris.  “Saya dibiayai oleh kepolisian untuk lanjut sekolah S2 Magister Studi Islam UMS Surabaya. Ketika ada bom yang meledak, saya tidak bisa tidur. Sebab dihubungi berbagai pihak, baik kepolisian maupun media masaa untuk ditanyai pendapat saya tentang motif pengeboman, bom apa yang yang digunakan dan sebagainya,” ceritanya.

Sejak tahun 2009 dia menjadi peneliti bom dan teroris. Saat ini Ali aktif menjadi dosen di beberapa perguruan tinggi. Dia mengajar tentang sekte-sekte agama. Menjadi aktivis perdamaian bersama Google Ideas SAVE. “Di bantu google saya sempat bertemu dengan korban pemboman yang saya lakukan. Saya sedih sekali. Dua jam saya menangis. Yang saya temui itu kulitnya kasar, wajahnya tidak sempurna akibat luka bakar dari pemboman itu,” kenangnya.

 

Kalbar Mesti Waspada

 

Ali mengatakan, saat ini teroris semakin meningkat. Tahun 2010-2014 sekitar 110 kasus terorisme. Modusnya bermacam-macam. Ada pemboman, penembakan anggota polisi, pembakaran, racun hingga perampokan. Perampokan menjadi penting sebagai sumber dana.

Menurut Ali, dulu musuh teroris itu yang dekat, sekarang targetnya musuh yang jauh. Meskipun kuantitas meningkat, tapi kata Ali kualitas menurun. “Dulu belajar di luar negeri kini cukup di dalam negeri, dulu bom mobil sekarang bom pipa. Kenapa? Karena mereka tidak mampu merakit bom dalam skala besar. Merakit bom pipa saja celaka, apalagi bom mobil,” terang dia.

Dia juga menyinggung soal isu terkait ISIS. Tahun 2013 Wildan Mukhollad asal lamongan melakukan aksi bom bunuh diri  truk di Iraq. Di tahun yang sama Reza Fardi pemuda asal Kalimantan Barat tewas dalam satu pertempuran di wilayah Syria. “Siapa bilang di Pontianak itu aman-aman saja. Di Pontianak juga ada. Bahkan kakak saya (Amrozi) pernah menetap di Pontianak sebagai tukang roti,” ungkap Ali. Namun Ali mengaku tidak tahu persis di mana alamat kakaknya saat tinggal di Pontianak.

Para terorisme memiliki keahlian dalam kamuflase atau penyamaran. Modus operandinya tidak tunggal tetapi beragam. “Bergantung dari komunitas yang didekatinya. Kalau komunitas itu pedagang furniture maka dia tidak segan segan untuk berdagang furniture. Kalau komunitas itu pedagang bakso, mereka juga tidak segan-segan ikut berdagang bakso.”

Kalbar berbatasan dengan Malaysia menjadi salah satu alasan kenapa wilayah ini rawan menjadi jalur pelintasan teroris. “Kalbar ini khan berbatasan dengan Malaysia. Sepanjang pengetahuan saya, Malaysia banyak memproduksi pupuk jagung yang dapat digunakan untuk bahan peledak. Juga beberapa tahun lalu banyak anggota kelompok teroris seperti Dr Azhari, Noerdin M Top pernah melintas dan menetap di wilayah Kalbar. Seperti di Pontianak juga Singkawang. Ada satu tempat lagi saya lupa, dia mengarah ke Kuching, yang biasa menjadi pelintasan para TKI,” pungkasnya. (*)

Berita Terkait