Kini Harga Buah Kelapa di Desa Pemangkat Semakin Terangkat

Kini Harga Buah Kelapa di Desa Pemangkat Semakin Terangkat

  Rabu, 10 April 2019 09:26
MINYAK KELAPA : Anggota Bumdes Mitra Jaya, Desa Pemangkat, Kecamata Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara memperlihatkan minyak kelapa hasil produksi. Minyak kelapa itu kini mulai dilirik pengusaha di luar Kalimantan Barat. Adong Eko, Pontianak Post

Berita Terkait

Sinergi Pengelolaan Hasil Perkebunan dan Upaya Menjaga Lahan Gambut di Kayong Utara

Menjaga ekosistem hutan dan mendorong peningkatan ekonomi masyarakat adalah salah satu upaya yang dilakukan Badan Restorasi Gambut dan Kemitraan Partnership. Desa Pemangkat, Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara adalah salah satu desa program kerja yang saat ini mendapat pendampingan. Hasilnya pun mulai dirasakan, kini lahir produk minyak kelapa hijau dari hasil perkebunan milik warga. 

Adong Eko, Kayong Utara

KESADARAN masyarakat akan pentingnya lahan gambut memang masih sangat minim. Kasus kebakaran hutan dan lahan gambut masih kerap terjadi saat musim kemarau. Seperti yang terjadi di Desa Pemangkat, kebakaran hutan dan lahan gambut di masa lalu seringkali meresahkan karena menyasar kawasan pertanian dan perkebunan. 

Kondisi itu pun menjadi perhatian banyak pihak. Masyarakat kemudian diajak untuk sadar agar dapat menjaga keberadaan lahan gambut dari ancaman kebakaran dan dapat mengambil manfaat ekonomi dari kekayaan sumber daya alam yang dimilikinya. 

Pemerintah Desa Pemangkat pada 2018 itu akhirnya membentuk Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), yang diharapkan dapat memberikan solusi atas persoalan yang terjadi. Keberadaan badan usaha itu sendiri kemudian bekerjasama dengan Badan Restorasi Gambut dan Kemitraan Partnership.

Lembaga ini  memberikan pendampingan kepada anggota badan usaha agar dapat mengelola potensi hasil perkebunan dengan nilai jual tinggi dan mampu bersinergi untuk menjaga lahan gambut untuk keberlangsungan ekosistem hutan. 

BRG dan Kemitraan Partnership melakukan sosialisasi mengenai manfaat lahan gambut dan memberikan pendampingan agar dapat mendorong lahirnya pemberdayaan ekonomi masyarakat. 

“BUMDes ini berdiri sejak 2018. Dari tim kemitraan, kami diberikan pemahaman tentang pentingnya lahan gambut. Kami diberikan pendampingan bagaimana memanfaatkan potensi buah kelapa agar dapat diolah untuk meningkatkan pendapatan masyarakat,” kata anggota BUMDes Desa Pemangkat, Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara, Junaidi saat ditemui di pabrik pengolahaan minyak kelapa pada Selasa (9/4).  

Sosialisasi berkelanjutan yang dilakukan tim kemitraan itu pelan namun pasti telah berhasil menumbuhkan kesadaran masyarakat, akan pentingnya menjaga lahan gambut dari kebakaran. Sosialisasi itu juga mampu membuka wawasan masyarakat untuk mendapatkan nilai tambah ekonomi dari produk mereka. Pendampingan diberikan sejak 2018 meliputi perencanaan bisnis BUMDes dan pengolahan hasil perkebunan.

 “Dulu sebelum adanya BUMDes dan pendampingan, masyarakat menjual buah kelapanya kepada tengkulak seharga Rp1000 per buah. Atau kopra dijual kepada tengkulak seharga Rp3 ribu per kilogram. Sekarang di BUMDes, untuk buah dibeli dengan harga Rp1200 sementara untuk isi Rp2 ribu per kilogram,” ucap pria berbadan kurus itu. 

Pada Januari 2019 lalu, pabrik pengolahan kelapa dengan peralatan yang ada sudah mulai memproduksi minyak kelapa. Pada Januari lalu, dari seribu buah kelapa yang diolah BUMDes, dihasilkan minyak kelapa sebanyak 30 liter. 

Jumlah tersebut sesungguhnya masih jauh dari harapan. Hal itu terjadi karena adanya kesalahan yang dilakukan pada saat pengolahan, seperti campuran perbandingan antara minyak induk dan santan kelapa tidak sesuai dan akibat daging kelapa yang sudah dimalamkan. 

Belajar dari kegagalan tersebut, anggota BUMDes pun terus terpacu untuk memperbaiki sistem pengolahan. Hasilnya pun lebih memuaskan. Pada Februari lalu, dari seribu buah kelapa yang diolah, dapat menghasilkan 60 liter minyak. Sedangkan pada Maret lalu, jumlah produksi kembali meningkat hingga 100 liter. Sementara pada minggu kedua April, minyak kelapa yang diproduksi sudah mencapai kurang lebih 200 liter. 

Minyak kelapa yang dihasilkan itu pun memiliki tiga kualitas yang berbeda dengan nilai jual yang berbeda pula. Untuk minyak kelapa dengan kualitas A dihargai Rp30 ribu per liter. Kelas B dihargai Rp17 ribu per liter sementara untuk kelas C Rp13 ribu per liter. 

“Dalam satu minggu kami membutuhkan seribu buah kelapa. Kini warga lebih memilih menjual kelapanya kepada kami. Hanya saja masih belum mampu ditampung banyak, karena peralatan pengolahan minyak yang ada masih terbatas,” tutur Junaidi. 

Hasil produksi minyak kelapa itu pun kini tak hanya dinikmati oleh warga di Desa Pemangkat. Minyak kelapa produksi BUMDes Mitra Jaya sudah beredar hingga ke ibu kabupaten Kayong Utara, meski tingkat penjualannya masih berjalan lamban. 

“Minyak kelapa ini tidak menggunakan bahan pengawet dan hanya bertahan kurang lebih enam bulan. Sehingga harapannya minyak ini dapat cepat terbeli dan dapat langsung digunakan oleh masyarakat,” kata pria berkemeja hitam putih itu. 

Bagi Junaidi, bisnis minyak kelapa produksi BUMDes Maju Jaya sangat menjanjikan dan dapat menjadi peluang usaha masyarakat. Pasalnya, produk itu kini sudah mulai dilirik pengusaha di Yogyakarta yang bersedia membeli minyak kelapa dalam jumlah besar untuk sekali pengiriman. 

“Kemarin sudah ada komunikasi dengan pengusaha di Yogyakarta. Mereka siap membeli dua hingga tiga ton minyak kelapa produksi kami dengan harga Rp17 ribu. Namun permintaan itu belum dapat dipenuhi lantaran jumlah minyak yang diproduksi belum mencukupi,” ungkap Junaidi. 

Aleng salah satu warga yang memiliki kebun kelapa di di RT 5 RW 3 Dusun Penyekam Raya, Desa Pemangkat, Kecamatan Simpang Hilir sudah merasakan bagaimana manfaat adanya BUMDes Mitra Jaya di tengah harga jual buah kelapa yang sedang anjlok. 

“Sebelum 2018 harga buah kelapa per bijinya Rp2 ribu lebih. Tapi sekarang tinggal Rp1000 per biji,” kata Aleng. Harga tersebut dinilai sangat tidak menjanjikan. Pasalnya setiap tiga bulan sekali, hasil panen kelapa sebanyak 16 ribu biji dari dua ribu pohon, ia hanya mendapat penghasilan kotor sebesar Rp16 juta. 

“Buah kelapa itu kami jual ke tengkulak. Harus bayar upah tukang panjat, tukang kupas, tukang tebas. Dalam satu buah keuntungan bersihnya hanya empat ratus rupiah,” ungkap bapak yang berkebun kelapa sejak 1990-an itu. 

Sebagai kepala rumah tangga ia pun terpaksa harus nyambi pekerjaan lain untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Menjadi tukang bangunan hingga melaut pun dilakukannya. Kini, keberadaan BUMDes yang dapat menampung hasil panen buah kelapa telah memberikan angin segar. Hal itu lantaran harga beli yang ditawarkan lebih mahal dibandingkan dengan tengkulak. 

“Saya bersyukur adanya BUMDes ini, karena harga jual kelapanya lebih mahal dan membuka lapangan pekerjaan baru bagi ibu rumah tangga yakni jual isi kelapa seharga Rp2 ribu per kilogram. Jual isi ini lebih mudah kerjanya dari pada harus diolah menjadi kopra dengan harga jual yang hanya Rp3 ribu per kilogram,” ungkap pria yang memiliki sepuluh hektare lahan pertanian dan perkebunan itu. (*)

Berita Terkait