Ketua PPP Dicokok KPK

Ketua PPP Dicokok KPK

  Sabtu, 16 March 2019 10:27
DITANGKAP: Ketua Umum PPP Romahurmuziy saat tiba di Gedung KPK, Jakarta, Jumat (15/3). Romi terkena OTT KPK di Surabaya terkait kasus jual beli jabatan di Kemenag. FEDRIK TARIGAN/ JAWA POS

Berita Terkait

Romy Cekcok dengan Penyidik Saat Ditangkap

 

SURABAYA - Ketua Umum PPP Romahurmuziy alias Romy berjalan santai keluar dari Hotel Bumi Surabaya kemarin (15/3). Dia tak mengira pagi itu dirinya bakal berurusan dengan para penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi.

”Awalnya dua orang keluar dari hotel. Jalan biasa saja. Tiba-tiba, ribut sama delapan orang yang menyusul dari belakang,” ujar  petugas Badan Penanggulangan Bencana dan Perlindingan Masyarakat (BPB) Linmas Surabaya Reni Kartika yang menyaksikan dari seberang jalan. 

Saat itu Reni sedang berjaga di Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) Jalan Basuki Rahmat. Dia tak sadar yang dia saksikan adalah operasi tangkap tangan (OTT) yang dilakukan  KPK. 

Keributan itu terjadi di depan Gedung Bank Jatim. Letaknya bersebelahan degan Hotel Bumi, tempat Romy menginap. Cekcok para lelaki itu pun menyita perhatian para pengguna jalan. Para pengendara sepeda motor sampai memelankan lajunya. Sekuriti Bank Jatim pun keluar dari pagar untuk menyaksikan kejadian itu.

Awalnya Reni mengira bahwa ada pengendara yang kecelakaan. Namun setelah dilihat secara seksama ternyata dua orang tersebut ditarik secara paksa oleh gerombolan orang yang mengikutinya.

Reni bergegas menyeberang melalui JPO untuk mencari tahu. Namun saat dia sampai di tengah-tengah jembatan, para penyidik tadi sudah masuk kembali ke hotel. Begitu sampai ke seberang reni diberitahu Sekuriti Hotel Bumi bahwa yang ribut-ribut tadi adalah penyidik KPK. ”Kejadiannya begitu cepat,” lanjutnya.

Tidak diketahui secara pasti jam berapa rombongan penyidik KPK meninggalkan Hotel Bumi. Yang jelas, Romy sudah berada Mapolda Jatim sejak pagi.

Romy diperiksa di ruang penyidik Subdit III Tipikor Ditreskrimsus Polda Jatim. Pria berpakaian batik beberapa kali keluar masuk ruang penyidikan sambil membawa map.

Hingga pukul 11.45, pemeriksaan masih berlangsung. Tidak ada jeda untuk salat Jumat. Romy diperiksa selama 6 jam lebih. Dia baru keluar ruang penyidikan pukul 14.30. Romy dibawa ke bandara Juanda menggunakan mobil Toyota Hiace untuk dibawa ke Jakarta. 

Juru Bicara KPK Febri Diansyah mengatakan, Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan Romahurmuziy ditangkap dalam sebuah operasi tangkap tangan (OTT) di Surabaya, Jawa Timur, Jumat (15/3). 

Selain Romi, KPK turut menangkap empat orang lainnya dalam operasi senyap itu. "Total ada lima orang. Ada dari unsur penyelenggara negara dari DPR RI atau anggota DPR RI, unsur swasta, dan dari pejabat di Kementerian Agama, pejabat di daerah ya,” di Jakarta, Jumat (15/3).

Febri menuturkan, lima orang itu ditangkap karena diduga terlibat dalam transaksi suap. KPK juga mengamankan uang tunai yang diduga barang bukti suap. Namun, Febri belum memerinci nominal uang yang diamankan.

"Ada uang yang kami amankan juga karena itu ada diduga adalah bagian dari transaksi yang diindikasikan melibatkan penyelenggara negara tersebut,” kata Febri.

Dia menyatakan bahwa penangkapan itu diduga terkait dengan pengisian jabatan di Kementerian Agama baik di pusat ataupun di daerah. "Tentu kami perlu mendalami lebih lanjut informasi-informasi itu," ungkap Febri. 

Setelah menjalani pemeriksaan di Mapolda Jatim, kelima pihak yang diamankan itu diboyong ke gedung KPK di Jakarta untuk penyidikan lebih lanjut. KPK punya waktu 1 x 24 jam untuk menentukan status pihak-pihak yang diamankan tersebut.

Minta Tak Dikaitkan Pilpres

Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf Amin menegaskan bahwa kasus yang menjerat Ketua Umum PPP Romahurmuziy tidak berkaitan dengan pemilihan presiden (pilpres). Mereka juga memastikan, tidak ada sumbangan dari PPP untuk pemenangan Jokowi-Ma’ruf. 

Calon wakil presiden 01 Ma’ruf Amin mengatakan, semua pihak harus mengedepankan asas praduga tak bersalah. ”Itu prinsip menyikapi kasus ini,” terang dia saat ditemui di rumahnya, Jalan Situbondo, Menteng, Jakarta Pusat, kemarin (15/3).

Mantan rais am PB NU itu menyatakan, kasus dugaan korupsi tersebut tidak berkaitan dengan pilpres ataupun TKN. Yang dilakukan Romy merupakan masalah pribadi. ”Kasus Romy jangan dikait-kaitkan dengan pilpres dan tim kampanye. TKN tidak ada urusan dengan masalah pribadi Romy,” ujarnya. 

Ma’ruf mengatakan, pemerintah tidak akan intervensi kasus yang ditangani KPK. Presiden Jokowi selalu mendukung upaya penegakan hukum oleh KPK, kepolisian, maupun kejaksaan. Walaupun PPP dan Romy tergabung dalam Koalisi Indonesia Kerja (KIK), pemerintah tidak akan mencampuri kasus tersebut. Masyarakat harus bisa membedakan antara masalah pribadi yang dihadapi Romy dan kepentingan pilpres. Dia yakin masyarakat sudah memahami masalah tersebut.

Jika ada pihak yang menyatakan bahwa ditangkapnya Romy merupakan bukti kegagalan Jokowi dalam pemberantasan korupsi, menurut dia, anggapan itu salah besar. Justru Jokowi berhasil. Dulu korupsi tidak terendus, sekarang bisa diketahui dan ditangkap pelakunya. Teknologi juga sudah canggih sehingga memudahkan penegak hukum melakukan tugasnya memberantas korupsi.

Erick Thohir, ketua TKN Jokowi-Ma’ruf, mengatakan bahwa kasus yang menjerat Romy tidak akan memengaruhi elektabilitas paslon 01. Sebab, perkara itu tidak berkaitan dengan pilpres. Berbeda jika masalah tersebut berkaitan dengan pilpres. ”Saya yakin tidak ada hubungannya dengan elektabilitas di pilpres,” ungkap dia. 

Senada, Wahyu Sakti Trenggono, bendahara TKN Jokowi-Ma’ruf, mengungkapkan bahwa kasus Romy tidak berkaitan dengan tim kampanye. Menurut dia, tidak ada dana dari Romy maupun PPP yang masuk ke TKN. ”PPP tidak pernah menyetor dana kepada tim kampanye. Masih nol,” terang dia kemarin. Dia mengatakan, tidak ada dana kotor yang masuk ke TKN. Semua dana bisa dipertanggungjawabkan dan dilaporkan kepada publik secara transparan dan akuntabel. Dana yang disumbangkan harus klir. Identitas para penyumbang juga harus jelas. Jika tidak jelas, uang tidak bisa dicairkan di bank. TKN juga selalu memeriksa semua dana yang masuk. 

Sementara itu, DPP PPP belum bersedia memberikan keterangan terkait ditangkapnya ketua umum. Sekjen PPP Arsul Sani mengatakan, jika semua perkara sudah jelas, pihaknya akan memberikan keterangan resmi. ”Nanti kami sampaikan,” paparnya saat dihubungi kemarin.

Dari kompleks parlemen, ruang kerja Romy di lantai 15 gedung Nusantara I mendapat pengamanan dari satuan pamdal DPR. Setelah kabar penangkapan Romy mencuat, pamdal langsung menutup pintu menuju akses ruang kerja Romy yang bernomor pintu 1501 itu. ”Arahan dari atasan, diminta ditutup, siapa tahu ada penyidik datang,” kata seorang petugas pamdal yang berjaga. Setidaknya enam petugas pamdal berjaga. Tiga orang menjaga pintu kaca tempat akses sayap kanan lantai 15 gedung Nusantara I. Tiga lagi berjaga tepat di depan pintu ruang kerja Romy. Ruang kerja Romy bersebelahan dengan ruang kerja Sekjen PPP Arsul Sani, yang juga tidak ada di tempat. ”Hari ini memang tidak ada yang kelihatan,” kata petugas itu lagi. (lum/bay/c10/oni)

 

 

 

Tidak ada keterangan resmi dari pihak kepolisian terkait pemeriksaan tersebut. Kapolda Jatim Irjen Pol Luki Hermawan hanya membenarkan terkait adanya pemeriksaan tersebut. ”Tadi pagi ada orang (KPK, Red) yang pinjam ruangan untuk pemeriksaan,” ujarnya setelah salat Jumat kemarin.

Jenderal bintang satu itu irit berkomentar terkait pemeriksaan yang dilakukan oleh penyidik KPK. Polda, kata Luki, hanya memfasilitasi ruangan yang dipakai untuk pemeriksaan. 

Di sisi lain, Ketua DPW PPP Jatim Musyafak Noer mengaku mengaku masih mendampingi Romy dua hari sebelumnya. Sebab, Romy ada acara di Jawa Timur pada Rabu (13/3) dan Kamis (14/3).

Romy tiba di  Surabaya Rabu pagi dan langsung menuju ke Kabupaten Malang untuk menghadiri acara halaqah. Dia berkeliling ke wilayah Malang Raya dan kembali ke Surabaya malam harinya dan menginap di Hotel Bumi.

Besoknya, Romy bergeser ke Blitar dan Kediri untuk menghadiri acara yang sama. Romy baru kembali ke Hotel Bumi sekitar pukul 23.00. ”Saya hanya  mengantar ketua umum di lobi hotel dan kembali pulang ke rumah,” kata Musyafak.

Anggota Komisi C DPRD Jatim itu mengatakan, rencananya Romy akan meninggalkan Surabaya Jumat pagi. Sebab, akan ada acara lain di Bandung. ”Pas saya jemput mau antar ke bandara sudah tidak ada di hotel. Infonya sudah dibawa orang KPK ke Polda,” ucapnya.

Musyafak mengaku kaget mendengar kabar tersebut. Nomor ponsel pribadi Romy juga sudah tidak bisa dihubungi.  Dia memutuskan kembali pulang dan memberikan kabar ke seluruh pengurus DPC di Jatim. ”Saya minta tetap tenang dan tetap fokus pada pemenangan di daerah,” tuturnya.

Menurut Musyafak, tidak ada hal khusus  yang dibicarakan selama mendampingi Romy. Yang dibahas hanya seputar strategi pemenangan untuk Pilpres dan Pileg.  

(sal/adi)
 

Berita Terkait