Ketika La Hami dan Layala Terus Berkarya lewat Aktivasi RMHR , Agar Lampu Meja Kerja Harry Roesli Tetap Menyala

Ketika La Hami dan Layala Terus Berkarya lewat Aktivasi RMHR , Agar Lampu Meja Kerja Harry Roesli Tetap Menyala

  Kamis, 3 March 2016 07:59
TETAP EKSIS : Lahami Roesli (kiri) dan Layala Roesli saat di rumah musik Harry Roesli, Bandung. Foto: Imam Husein/Jawa Pos

Berita Terkait

Harry Roesli merupakan nama besar dalam dunia musik Indonesia. Meski telah tiada, spiritnya masih terasa. Salah satunya lewat Rumah Musik Harry Roesli (RMHR) yang didirikannya pada 1998. Nora Sampurna, Bandung

”Jangan matikan lampu di meja kerja saya.” Itu adalah pesan terakhir yang terucap lirih dari bibir (alm) Harry Roesli ketika terbaring lemah di rumah sakit beberapa saat sebelum berpulang menghadap Sang Pencipta, Desember 2004 di usia 53 tahun.

Kepergian seniman legendaris yang dikenal idealis dan menyuarakan kritik sosial dalam karyanya tersebut meninggalkan duka mendalam sekaligus pertanyaan besar bagi keluarga. Terutama bagi kedua putra kembarnya, La Hami Khrisna Parana Roesli dan Layala Khrisna Patria Roesli.

Bahkan hingga sekarang, lebih dari sebelas tahun setelah kepergiannya. ”Kami masih bertanya-tanya, yang mana lampu kerja almarhum,” ujar La Hami saat ditemui di RMHR, Bandung (12/2).

RMHR terletak di tengah Kota Bandung, tepatnya di Jalan W.R. Supratman. Luasnya sekitar 800 meter persegi. Lokasinya mudah ditemukan dengan signage RMHR berwarna merah di bagian depan. Halaman yang cukup luas di bagian muka rumah bergaya kuno tersebut sering dijadikan venue konser. Kemudian, ruang tamunya dijadikan kafe. Masuk ke dalam, ada studio musik dan ruang tengah untuk berkegiatan.  

Sambil menarik kursi dan mempersilakan kami duduk, pria kelahiran 6 Juli 1982 itu mengungkapkan bahwa RMHR adalah tentang anak yang ditinggali sebuah ”rumah” oleh sang ayah. Meninggalnya Harry terasa mendadak bagi La Hami dan Layala yang ketika itu berusia 22 tahun. Mereka belum siap.

Tetapi, ucapan sang ayah menjadi pelecut La Hami dan Layala untuk bangkit dan menjaga amanat tersebut. Hami –sapaan La Hami– bercerita, ketika didirikan pada 1998, RMHR menampung banyak anak jalanan untuk diajari bermusik. Krisis moneter kala itu ”melahirkan” banyak pengangguran dan orang yang terbuang di jalanan.

Semasa hidupnya, Harry Roesli yang merupakan cucu pujangga besar Marah Roesli punya jiwa sosial tinggi. Pembinaan tersebut sebenarnya sudah dirintis jauh sebelum itu. Yakni lewat komunitas Depot Kreasi Seni Bandung (DKSB). Dengan memberikan pelatihan musik, Harry ketika itu berharap pelan-pelan bisa ”menjauhkan” mereka dari jalanan dan membina sampai mereka bisa berkarya. Banyak seniman Bandung yang lahir dari DKSB.

Di samping itu, RMHR pernah memiliki program kursus musik untuk umum. Program umum tersebut berbeda dengan proyek sosial Harry kepada anak jalanan, dikenai biaya kursus. Ketika itu beberapa anak jalanan alumnus DKSB dan RMHR yang menjadi pengajar. Tapi, kursus untuk umum tersebut sudah dua tahun ini ditutup. ”Sudah enggak ada peminatnya,” kata Hami.

Sekarang industri musik bergeser ke ranah digital. Orang bisa belajar musik dari YouTube. Rekaman bisa dilakukan dari rumah. ”Tidak apa-apa, zamannya memang begitu. Kami diajari almarhum untuk tidak terpaku dan bisa menerima perubahan zaman. Bukan menjadi bunglon, tetapi adaptif,” paparnya.

Namun, bagi siapa saja yang ingin datang dan belajar musik, termasuk anak jalanan, pintu RMHR terbuka lebar. ”Ayo kita sharing ilmu,” ucapnya. Dia ingin meneruskan apa yang dikerjakan almarhum ayahnya semasa hidup.

Hami mengakui, tak mudah bertahan dan berupaya menjaga ”lampu di meja kerja” almarhum. Sembari terus mencari ”lampu” yang dimaksud, Hami dan Layala beserta sang ibu Kania Handiman Roesli berusaha mengembalikan fungsi RMHR sebagai tempat berkumpulnya komunitas kreatif.    

Dia mengingat, sang ayah dengan teman-teman seniman kerap berkumpul di rumah itu, sharing pemikiran, hingga kemudian menghasilkan sesuatu. (Alm) Didi Petet termasuk yang dekat dengan Harry semasa hidup.

Juga Sasongko Widjanarko atau yang lebih dikenal dengan Mang Saswi di program Ini Talkshow di Net. ”Mang Saswi masih sering datang, main, atau rekaman di sini. Sudah seperti paman sendiri,” kata Hami. Saswi merupakan salah seorang murid DKSB.

”Bapak pernah bilang, kalau mau bergerak, harus ngumpul,” ujar Hami yang juga dosen desain interior di Telkom University Bandung. Aktivasi RMHR digalakkan kembali mulai awal 2016 ini. Kegiatannya beragam. Di antaranya membuat acara open mic untuk performance musik akustik, workshop untuk anak membuat mainan kreatif lewat subdivisi Rumah Main, mengundang komunitas SoundCloud Bandung, hingga pertunjukan teater dan sastra.  

Maret akan ada pameran lukisan serta penampilan Nia Aladin, seorang pemain biola dan harpa. Dalam acara tersebut Nia juga akan memberikan workshop biola dan harpa untuk anak-anak. Kemudian, April direncanakan ada pameran Kutu Buku. ”Intinya berkarya. Karena manusia kalau sudah tidak menghasilkan karya, maka akan mati,” tuturnya.

Kania, sang ibu, aktif mengajar tari di RMHR. Ruang tengah yang cukup luas dengan dinding kaca menjadi tempatnya mengajar. Di bagian belakang rumah juga terdapat guest house yang disewakan untuk pengunjung yang ingin merasakan pengalaman berbeda: menginap dengan ambience seni.

Kafe di area depan menjadi spot asyik untuk nongkrong; berbincang tentang musik, seni, karya, apa saja. Potret (alm) Harry Roesli dan barang-barang koleksi beliau menghiasi dinding kafe, menghadirkan nuansa musik yang kental. Seolah energinya masih terasa memenuhi ruangan. ”Kafe dan guest house juga untuk subsidi silang, menutupi biaya produksi,” ungkap Hami.

Layala, kembaran Hami, yang kemudian bergabung dalam obrolan, menambahkan bahwa sang ayah meninggalkan banyak teladan. Di antaranya, berkarya itu tidak selalu memerlukan uang. Bisa melalui apa saja, yang penting tidak mengganggu kepentingan orang lain. Kemudian, cara mengukur kebahagiaan kita adalah melalui seberapa banyak orang yang sudah kita bahagiakan.

Layala dan Hami juga mewarisi jiwa pendidik dari orang tuanya. Semasa hidup, Harry Roesli merupakan dosen musik di beberapa kampus di Bandung. Saat ini Layala aktif melakukan pembinaan musik kepada anak-anak. Dia juga mengajar perkusi. ”Kalau Hami dulu bas, gitar, piano. Tapi, kuliahnya di arsitek,” kata Layala.

”Awalnya mau ambil musik,” timpal Hami. Tapi, sang ayah melarang. ”Kuliah yang lain aja. Kalau musik biar bapak yang ngajarin,” kenang Hami. Hami merupakan alumnus S-1 arsitektur di Universitas Parahyangan Bandung, kemudian melanjutkan S-2 bidang yang sama di Jerman.

Keduanya mengenang masa kecil bersama ayah tercinta. Ketika keluarga lain berlibur ke Bali atau kota-kota besar, ”liburan” ala Layala dan Hami adalah menonton pertunjukan seni di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. ”Sama nonton bapak manggung,” ucap Layala.

Musik terus menjadi energi bagi Hami dan Layala. Dalam cakupan yang lebih luas, seni. Dan RMHR merupakan rumah untuk itu semua. Terutama agar lampu di meja kerja Harry Roesli terus menyala… (*/c9/sof)

 

 

Berita Terkait