Keterlibatan Orangtua di Sekolah Anak-anaknya

Keterlibatan Orangtua di Sekolah Anak-anaknya

Minggu, 24 July 2016 10:41   1

DALAM minggu ini ada enam pesan singkat elektronik yang diterima dari pembaca yang berkaitan dengan hari pertama masuk sekolah. Salah satu di antaranya bernada ‘kesal’. Berikut potongannya. “Aku menyekolahkan anak karena aku tidak mampu ngajar sendiri. Semua aku serahkan sekolah. Kami tidak usah dipanggil2 ke sekolah. Anak aku sudah besar. SMP kelas 2”. 

Tanggal 18 Juli 2016 sekolah-sekolah tampak berbeda dari tahun-tahun sebelumnya di hari pertama masuk sekolah. Tidak hanya orang tua siswa baru yang datang di sekolah. Para orang tua siswa kelas atas pun hadir di sekolah. Memang tidak semua orang tua, tetapi sebagian besar para orang tua siswa hadir di sekolah anak-anaknya.

Kehadiran itu ‘digerakkan’ oleh surat edaran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No.4 tahun 2016, tanggal 11 Juli.  Surat edaran ini mengajak semua kepala daerah (Gubernur, Bupati dan Wali Kota) melaksanakan kampanye Hari Pertama Sekolah. Berikut kutipan tentang tujuan yang ingin dicapai, “....menjadi kesempatan mendorong interaksi antara orangtua dengan guru di sekolah untuk menjalin komitmen bersama dalam mengawal pendidikan anak selama setahun ke depan”. Kampanye ini juga bertujuan meningkatkan kepedulian dan keterlibatan publik dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah.

Sungguh benar pernyataan salah seorang pengirim pesan singkat yang ditampilkan di awal sajian ini - orang tua menyekolahkan anak-anaknya karena tidak mampu mengajar sendiri. Dalam literatur filsafat pendidikan disebutkan bahwa pendidikan anak menjadi tanggung jawab sepenuhnya para orang tuanya. Namun, seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dari pokok hingga ranting-rantingnya yang sangat pesat ini  orang tua tidak mampu lagi melaksanakan pendidikan anak-anaknya seratus persen. Sebagian tanggung jawabnya diserahkan ke pihak lain (negara, sekolah). Jadi, keterlibatan para orang tua dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah, terutama sekolah anak-anaknya, sungguh tidak dapat dihindari.

Kathleen Cotton dan Karen Reed Wikelund dari Departemen Pindidikan AS, 1989, menyatakan bahwa ada banyak definisi operasional dari keterlibatan orang tua di sekolah. Misalnya, hadir pada pertemuan guru-orang tua siswa, membantu anak-anaknya meningkatkan mutu  hasil kerja tugas sekolah, memberi motivasi, semangat, daya dorong, mengatur jadwal belajar dan ruang belajar, memonitor PR, meningkatkan ketrampilan membaca, aktif sebagi tutor bagi anaknya di rumah. Mereka juga dapat terlibat aktif menyusun rencana program sekolah dan juga dapat membantu dalam implementasinya, dsb. Pendeknya, orang tua dapat terlibat aktif dalam penyelenggaraan pendidikan bagi anak-anaknya di sekolah. 

Xitao Fan dan Michael Chen, 1999, memeta-analisis 31 penelitian tentang hubungan antara keterlibatan orang tua di sekolah dengan hasil belajar anak-anaknya.  Berbagai keterlibatan orang tua yang dimeta-analisis mencakup: komunikasi orang tua-anak, pengawasan di rumah, aspirasi orang tua tentang pendidikan bagi anaknya, serta partisipasi orang tua dalam kegaiatan di sekolah. Sedangkan hasil belajar mencakup: kemampuan membaca, matematika, IPA, IPS, dan Bahasa.  Besar hubungan rata-rata antara keterlibatan orang tua dan hasil belajar secara keseluruhan sebesar 0.25. Ricinan per bidang dihasilkan korelasi rata-rata di matematika, membaca, IPS, dan IPS, masing-masing, sebesar 0.18 dan IPA sebesar 0.16. 

S. Wilder dari Universitas Kesehatan Northeast Ohio – AS, 2014, merangkum sebelas (11) meta-analisis (Fan and Chen, 2001; Jeynes, 2001, 2003, 2005, 2006, 2007, dan 2012; Erion, 2006; Senechal dan Young, 2008; Patal, Cooper dan Robinson, 2008; serta Hill dan Tyson, 2009) tentang dampak keterlibatan orang tua pada hasil belajar. Wilder menemukan bahwa secara keseluruhan ada hubungan yang positif antara keterlibatan orang tua di sekolah dengan hasil belajar anak-anaknya. Analisis yang lebih rinci menemukan bahwa hubungan itu akan melemah jika keterlibatan orang tua hanya sebatas memonitor PR anak-anaknya. Sebaliknya akan meningkat jika keterlibatan itu berupa pemberian harapan masa depan anak-anaknya. 

Maria Castro dari Universitas Complutense Madrid, Spanyol, memeta-analisis 37 penelitian tentang hubungan antara keterlibatan orang tua dan hasil belajar anak-anak usia TK. Ditemukan bahwa koefisien korelasi tertinggi jika keterlibatan siswa berbentuk harapan orang tua tentang masa anak-anaknya. Hubungan itu akan semakin diperkuat jika para orang tua menjalin hubungan dengan sekolah serta melibatkan diri dengan kegiatan-kegiatan sekolah anak-anaknya. Hubungan akan semakin kuat lagi jika para orang tua juga menumbuhkan kebiasaan membaca anak-anaknya sejak di usia TK.  

William H. Jeynees dari Universitas California di Long Beach, AS, 2016, memeta-analisis 42 penelitian hubungan antara keterlibatan orang tua dan hasil belajar serta perilaku siswa keturunan Afrika dari jenjang TK hingga perguruan tinggi. Ia menemukan bahwa keterlibatan orang tua di sekolah mempunyai hubungan yang lebih erat pada hasil belajar ketimbang pada perilaku anak-anaknya di seluruh jenjang pendidikan. 

Temuan-temuan ini, diharapkan dapat mendorong agar para orang tua siswa semakin terlibat aktif pada semua jenjang lembaga pendidikan tempat anak-anaknya menimba ilmu, termasuk di perguruan tinggi. Walaupun, di Indonesia, implementasinya masih menghadapi banyak kendala dari kedua belah fihak. Orang tua enggan terlibat, lembaga pendidikan tertentu tidak berkenan programnya dimasuki ‘orang luar’. 

Dengan perkataan lain, gagasan Menteri Baswedan yang mendorong para orang tua lebih aktif partisipatif pada sekolah anak-anaknya perlu disiapkan infrastrukturnya sehingga iklim kerja partisipatif kolaboratif semua pemangku kepentingan pendidikan dapat ditegakan di setiap kembaga pendidikan. Semoga!**

Leo Sutrisno