Kencan Romantis Muda Mudi di Bioskop Berkursi Plastik

Kencan Romantis Muda Mudi di Bioskop Berkursi Plastik

  Senin, 9 July 2018 05:40

Let it Be milik The Beatles terdengar sayup memberi ucapan perpisahan. Sebuah bioskop baru saja selesai menayangkan film, bioskop alternatif yang bisa berpindah tempat. Bioskop alternatif bernama Yarling.

Shando Safela, Pontianak

---------

Saat ini, ada banyak cara untuk menikmati sebuah karya film. Bahkan, hanya menggunakan jempol, film berdurasi dua jam siap ditonton kapan saja di layar handphone kita. Jika ingin menikmati film layar lebar, di Kota Pontianak sendiri telah tersedia dua bioskop besar yang memutar film-film yang baru dirilis, walaupun harus merogoh kantong sedikit lebih dalam.

Namun, tak semua film yang ada di bioskop dan handphone dapat kita nikmati dengan nyaman. Mungkin, bagi sebagian orang, hiburan tersebut sudah terlalu mainstream. Bahkan, tak sedikit penikmat film tersebut, menikmatinya tanpa tahu makna atau latar belakang film yang ditontonnya.

Hiburan ini dipatahkan dengan sebuah konsep yang diberi nama Yarling, kepanjangan dari Layar Keliling. Parklife People sebagai penggagas Yarling, memberi alternatif bagi anak muda untuk menikmati film dengan cara anti mainstream. Konsep Yarling sendiri mirip seperti hiburan Layar Tancap yang populer di era 90-an. Namun, yang membedakannya adalah film yang ditonton. 

Yarling untuk pertama kalinya dihelat pada minggu (8/7) malam di halaman belakang Djagad Karya di Gang Siliwangi. Jumlah penonton yang hadir lebih dari yang diperkirakan panitia. Jika dihitung, jumlahnya cukup untuk mengisi sebuah studi kecil di salah satu bioskop di Kota Pontianak. 

Sesuai dengan tagline 'Bioskop Alternatif Muda-mudi', Yarling membuat para penontonnya seolah berada disebuah bioskop outdoor. Bioskop beratapkan bintang-bintang ini, juga 'dihias' sebuah pohon besar ditengahnya.

Area Yarling tak lebih dari 60 meter persegi. Layar berukuran dua kali tiga meter terletak di depan penonton, lengkap beserta sound system yang memadai. Para penonton duduk menggunakan kursi plastik dan saling berdempetan satu sama lain. Stand makanan dan minuman terdapat di depan pintu masuk area, dan dapat dinikmati selama film berlangsung.

Beberapa anak muda yang datang bersama pasangannya, tak nampak canggung untuk tampil mesra. Bahkan, untuk menambah suasana romantis, mereka dapat memilih posisi tepat di bawah pohon. Sementara yang datang tanpa pasangan, dapat memilih letak sesuka mereka. Jika merasa kurang pas, mereka dapat pindah dimana saja, tentu saja bersama kursi plastiknya.

Gelaran perdana Yarling, memutar dua buah film menarik. Film pertama berjudul 'Second Invader', sebuah film dokumenter karya mahasiswa ISI Jogjakarta asal Pontianak. Film ini bercerita tentang seorang seniman Jogjakarta bernama 'Blankon' yang membuat maha karya dari berbagai material yang dikumpulkannya dari barang bekas. Film ini tentu saja dapat memberi inspirasi bagi para penontonnya.

Film kedua merupakan film kontroversial yang berjudul 'Paul Mc Cartney: Really is Dead'. Film ini bercerita tentang pro dan kontra rekaman yang diduga merupakan testimoni terakhir personil band The Beatles, George Harrison. Dalam rekaman yang belum diyakini kebenarannya tersebut, George mengakui bahwa Paul Mc Cartney telah meninggal sejak tahun 1966. George menceritakan tentang badan intelejen Inggris, MI5, yang mengatur segala skenario untuk menggantikan Paul dengan seorang Amerika bernama William Campbell.

Bersama personel The Beatles lain, John Lennon dan Ringgo, George membuat sebuah clue pada setiap ditail album The Beatles untuk memberitahu bahwa Paul telah meninggal. Mulai dari cover album, hingga setiap lirik lagu yang mereka buat, seakan memberi sugesti kepada penonton untuk menginvestigasi sendiri setelah selesai menonton film ini. 

Setelah kedua film selesai diputar, penonton yang masih menyisakan tanda tanya tentang film yang baru saja diputar, tak segan bertanya langsung kepada panitia tentang perkembangannya. 

Panji, Direktur Program Yarling mengatakan, gelaran ini merupakan alternatif bagi penikmat film yang mungkin mulai bosan untuk nonton di bioskop. 

"Yarling untuk saat ini akan memutar film yang mungkin dapat membekas di kepala saat kita selsai menonton dan pulang ke rumah nanti," kata Panji.

"Sesuai konsepnya, Yarling sendiri nantinya akan berkeliling ke seluruh tempat di Kota Pontianak. Bersiap saja bila kami tiba-tiba datang ke tempat anda. Tidak perlu anda yang datang ke Bioskop, biar kami yang membawa Bioskop kepada anda," tutupnya sambil tertawa.**