Kemenangan yang Sulit Dipercaya

Kemenangan yang Sulit Dipercaya

  Kamis, 9 May 2019 09:13
SELEBRASI: Para pemain Liverpool merayakan kemenangan usai menundukkan Barcelona dengan skor 4-0. AFP

Berita Terkait

 

LIVERPOOL – Pasca kekalahan 0-3 Liverpool di tangan Barcelona pada leg pertama semifinal Liga Champions (2/5) di Camp Nou,  FiveThirtyEight.com, sebuah situs yang menganalisa persentase kemenangan berdasar statistik, menulis Liverpool hanya punya kans jadi juara Liga Champions musim ini di angka empat persen. 

Namun sekali lagi prediksi banyak pihak jika leg kedua kemarin (8/5) akan menjadi pesta Barca di Anfield sama sekali tak terjadi. Tanpa Mohamed Salah juga Roberto Firmino, dua pemain yang kombinasi golnya mencapai 50 persen dari total gol Liverpool musim ini, malahan The Reds menang 4-0 atas Barca. Kemenangan itu membawa Liverpool lolos ke final dengan agregat 4-3 atas Lionel Messi dkk. 

Penyerang yang hanya enam kali masuk dalam starting XI Liverpool musim ini, Divock Origi, membukukan brace. Yakni menit ketujuh dan 79'. Dua gol sisanya disumbangkan oleh Georginio Wijnaldum. 

“Kami bertanding melawan mungkin saja tim terbaik di dunia. Menang atas mereka (Barca, red.) saja sudah sulit namun menang dengan clean sheet, saya tak tahu bagaimana para pemain melakukannya,” kata Klopp seperti dikutip Liverpool Echo. “Kemenangan ini sulit dipercaya,” tambah Klopp. 

Pelatih 51 tahun itu mengatakan tak mungkin mencapai kemenangan epik ini jika tak didukung Kopites yang menjejali Anfield. Sesudah laga semua pemain dan ofisial berangkulan di depan The Kop Stand dan bernyanyi You'll Never Walk Alone. 

Kekalahan atas Liverpool ini membuat Barca seperti kena kutukan lanjutan musim lalu. Pada leg pertama perempat final di Camp Nou, Barca menang 4-1 atas AS Roma. Kemudian di Olimpico pada leg kedua, giliran Roma membabat Barca 3-0. 

Tanpa Salah dan Firmino, Klopp tetap menggunakan formasi 4-3-3 buat menggempur barisan pertahanan Barca. Ada empat nama yang berubah dibanding starting XI di Camp Nou. Yakni Trent Alexander-Arnold, Jordan Henderson, Xherdan Shaqiri, dan Origi. Sebaliknya Barca memakai formasi dan nama pemain yang sama dengan pekan lalu. 

Gol cepat Origi saat laga belum berjalan sepuluh menit ikut mengangkat mental bertanding rekan-rekannya. Liverpool unggul satu gol bertahan hingga babak pertama. Menurut bek Dejan Lovren sebelum pertandingan Klopp meminta anak buahnya mengingat satu kata : percaya. 

Kata Lovren Klopp juga meniupkan ruh motivasi dengan menarik memori Jordan Henderson dkk ketika leg kedua perempat final Liga Europa 2015-2016. Ketika itu, Lovren mencetak gol kemenangan pada injury time dan Liverpool menang 4-3 atas Dortmund di Anfield. 

Hasilnya memang luar biasa. Gini yang masuk di babak kedua menggantikan Andy Robertson mencetak dua gol dalam durasi kurang dari 120 detik. Ketika agregat 3-3, dukungan Kopites pun makin menggila. 

Gol keempat  membuat sorakan Kopites menggetarkan Anfield. Pada menit ke-78, bek kiri Jordi Alba yang menghadapi Alexander-Arnold membuat bola keluar. Ballboy di sisi kiri gawang Barca langsung dengan cekatan melempar bola baru. Bocah berusia 14 tahun itu bernama Oakley Cannonier.

Segera setelah meletakkan bola di pojok, Alexander-Arnold berjalan menjauh dari bola sejauh tiga langkah sebelum kemudian berlari membalik badan kemudian melepaskan bola diagonal rendah yang disambut Origi di kotak penalti. 

Shaqiri juga mengambil peran dalam proses trik tendangan pojok Alexander-Arnold ini. Gelandang Swiss itu berjalan ke arah Alexander-Arnold seperti hendak menyambut passing pendek Alexander-Arnold. Padahal itu merupakan upaya menarik pemain Barca. 

Dari taktikal permainan Liverpool, Klopp terlihat menginstruksikan setiap saat Messi membawa bola setidaknya tiga pemain Liverpool untuk mengurungnya. Strategi itu jelas melimitasi pergerakan Messi. Bahkan tercatat di laga kemarin Messi hanya mencatat 17 sentuhan sepanjang laga. 

Forbes menuliskan jika comeback Liverpool ini jauh lebih emosional ketimbang Miracle of Istanbul pada final Liga Champions 2005 lalu. Namun Klopp menegaskan sejarah memang tak bisa lepas dari perjalanan besar Liverpool. Namun Klopp berujar ingin membuat sejarah sendiri. 

Ya, Klopp ingin menuntaskan hutangnya di Eropa bersama Liverpool. Dua kali masuk final, final Liga Europa 2015-2016 dan final Liga Champions 2017-2018, Klopp selalu kalah oleh tim Spanyol. Di level Liga Europa takluk oleh Sevilla. Sedangkan Liga Champions kalah di tangan Real Madrid. 

“Saya berkata tak ada yang tak mungkin karena Anfield adalah tempat membaut sesuatu yang tampak tak mungkin menjadi mungkin. Dan Klopp adalah penjabaran kata remontada (pembalasan,red.)itu sendiri,” puji pundit beIN Sports Jose Mourinho. (dra)
 

Berita Terkait