Kemenag Harus Sensitif Soal Keagamaan

Kemenag Harus Sensitif Soal Keagamaan

  Kamis, 3 March 2016 08:33
Foto Mas Timbul Mudjadi/Pontianak Post

Berita Terkait

PONTIANAK - Menteri Agama  Lukman Hakim Saifuddin meminta seluruh jajarannya termasuk Kementerian Agama Kalimantan Barat sensitif terhadap persoalan keagamaan di wilayahnya. Mereka juga harus segera merespon cepat atas permasalahan tersebut.

“Setiap aparatur sipil negara harus menjadikan media sebagai mata dan telinga sehingga bisa mengetahui persoalan yang terjadi. Penyikapannya tergantung pada kasusnya sendiri,” ujar Lukman ketika menghadiri Pembinaan Aparatur Kemenag dan Silaturahmi Tokoh dan Pemuda Lintas Agama Kanwil Kemenag Kalbar, Rabu (2/3) di Hotel Aston Pontianak.Lukman mengatakan tugas aparatur sipil negara adalah melayani masyarakat. Saat harapan masyarakat terhadap aparatur tersebut sangat besar. “Ironis ketika tuntutan di luar sangat besar, tetapi aparaturnya statis. Program itu-itu saja,” kata Lukman.

Menurut Lukman, harus ada evaluasi, inovasi, dan instropeksi terhadap program-program yang dilaksanakan. Kementerian Agama harus menetapkan program unggulan yang harus menjadi andalan.Lukman menyebutkan Indonesia merupakan negara yang khas. Indonesia bukan negara agama secara khusus seperti Iran, Irak, Arab Saudi, maupun Vatikan. Tetapi bukan juga negara sekuler yang memisahkan antara negara dan agama.

“Indonesia sejak lama, apapun etnisnya maupun wilayah geografisnya, dikenal sebagai masyarakat yang religius. Tak bisa dipisahkan dari ihwal keagamaan,” jelas Lukman.Di tengah kemajemukan itu, lanjut Lukman, harus ada kesadaran bertoleransi. Harus ada kesediaan untuk menghargai dan menghormati perbedaan dengan pihak lain.

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kalbar, Syahrul Yadi mengatakan jumlah umat beragama di Kalbar sebanyak 5.335.358 jiwa. Dari jumlah tersebut yang beragama Islam sekitar 2,96 juta jiwa, Katolik 1,2 juta jiwa, Kristen 730.732 jiwa, Hindu 11.506 jiwa, Budha 353.121 jiwa, dan Konghucu 16.942 jiwa.“Alhamdulillah hingga saat ini situasi dan kondisi di Kalbar aman dan kondusif. Tak ada gejolak bernuansa sara dan etnis,” kata Syahrul, kemarin.

Menurut Syahrul, situasi kondusif ini tercipta karena pihak-pihak terkait saling bersinergi. Pemerintah daerah, Kementerian Agama, dan masyarakat menjaga agar Kalbar menjadi daerah strategis dan rukun. Bahkan pada akhir 2015 satu lembaga survei di Indonesia menetapkan Singkawang sebagai kota teraman dan terukun di Indonesia, serta Pontianak termasuk dalam kota di Indonesia yang terukun.“Selain peran pemda dan Kementerian Agama, kondisi aman dan rukun ini tak terlepas dari peran Forum Komunikasi Kerukunan Umat Beragama di Kalbar,” jelas Syahrul. (uni)

Berita Terkait