Kembalinya Sandiwara Radio Butir-butir Pasir di Laut

Kembalinya Sandiwara Radio Butir-butir Pasir di Laut

  Kamis, 13 June 2019 11:00
PRODUKSI : Pengecekan proses produksi sandiwara Cinta Putih Anindya. ISTIMEWA

Berita Terkait

Ceritakan Perjuangan Bidan Anindya Berhadapan dengan Penolakan

Bertugas sebagai bidan di tengah-tengah penduduk desa bukanlah hal yang mudah bagi Anindya. Berhadapan dengan penolakan masyarakat yang lebih percaya dukun dibanding tenaga kesehatan. Bidan Dya, begitu ia disapa tetap berusaha merebut hati masyarakat, bagaimana kisahnya? 

MARSITA RIANDINI, Pontianak 

CINTA Putih Anindya, merupakan bagian dari Sandiwara radio Butir-butir Pasir di Laut produksi Stasiun Radio Republik Indonesia (RRI) Pontianak.  Sandiwara ini kembali dihidupkan untuk para penikmat radio yang dikemas lebih kekinian dan disesuaikan dengan zaman. Ada pesan moral yang ingin disampaikan dalam setiap episodenya melalui ragam konflik yang diperdengarkan. Mulai dari pentingnya  peduli kesehatan, hingga konflik sosial masyarakat seperti rasa cemburu, iri hati, ketulusan, hingga perjuangan.  

Ada 10 episode karya RRI Pontianak yang akan disiarkan setiap pukul 21.00 ini. Episode pertama sudah dimulai Selasa (11/6).  Karya RRI Pontianak mengawali pembukaan sandiwara ini, dan akan berlanjut setiap harinya dengan karya dari RRI lainnya di seluruh Indonesia. 

Nazwin Ahmad, Kepala Stasiun Lembaga Penyiaran Publik (LPP) RRI Pontianak mengatakan sandiwara radio menjadi hiburan primadona di era 80-an. Episode pertama disiarkan tahun 1972. Selama 15 tahun Butir-butir Pasir di Laut menjadi sandiwara yang ditunggu setiap hari. Tak semua warga memiliki radio. Tak ingin melewatkan keseruan setiap episodenya, banyak yang  rela pergi ke rumah tetangga untuk mendengarkan sandiwara dengan 5.700 episode ini.   “Temanya waktu itu adalah keluarga kecil yang sejahtera dan bahagia,” kata Nazwin.  

Butir-butir Pasir di Laut mendapatkan penghargaan dari Lembaga Kependudukan Dunia di Meksiko sebagai sandiwara terbaik tingkat dunia. “Sekarang ini kami ingin mengembalikan masa-masa kejayaan sandiwara radio yang begitu melegenda, menjadi primadona pada masa itu,” kata dia. 

Nazwin optimis, sandiwara radio di era saat ini mampu menarik pendengar dari berbagai kalangan. ditengah mobilitas masyarakat yang tinggi, radio masih menjadi pilihan menemani aktivitas masyarakat. Masyarakat bisa sambilan beraktivitas dan mendengarkan radio.  Tantangannya, kata Nazwin bagaimana mengemas sandiwara ini menjadi menarik, di tengah beragamnya media hiburan masyarakat saat ini. “Tidak hanya dari sisi produksi saja, tetapi kami juga melakukan penguatan promosi,” kata dia. 

Dari sisi produksi, selain permainan kata-kata para tokohnya dalam percakapan memikat  ada yang paling penting diperdengarkan di pentas imaginasi yang hanya  dapat dinikmati oleh telinga yaitu  musik dan bunyi-bunyian yang menggambarkan suasana sehingga pendengar seakan merasakan secara langsung suasana dalam cerita. Pengisi suara yang berasal dari karyawan RRI Pontianak ini disesuaikan dengan karakter para tokoh. 

 “Tema sekarang ini kan lebih kepada keberagaman daerah. Menunjukkan kearifan lokal daerah masing-masing. Apa yang menjadi daya tarik disetiap daerah itu ditampilkan. Ini sekaligus memperkenalkan kepada masyarakat di luar Kalbar karena sandiwara ini disiarkan diseluruh stasiun RRI di Indonesia,” papar dia. 

Nazwin bersyukur, RRI Pontianak di percaya menjadi salah satu stasiun radio yang mendapatkan kesempatan berkarya dalam sandiwara ini. Mulai dari penulis naskah, sutradara hingga pengisi suasa merupakan karyawan RRI Pontianak. Beragam tantangan pun dilalui dengan semangat yang tinggi untuk menyajikan cerita yang menarik dan menghibur para pendengar. (*)

Berita Terkait